Brand Asli Indonesia Mampu Bersaing dengan Asing

Asto S.Subroto, Direktur Pengelola lembaga riset MARS, menilai, banyak merek asli Indonesia yang mampu bersaing dan berkibar di tengah gempuran asing. Rata-rata merek yang tahan banting tersebut dipengaruhi oleh tiga hal utama. Pertama, brand tersebut merupakan pionir di industrinya. Kedua, merek yang memiliki basis riset dan pengembangan pada inovasi produk. Ketiga, merek yang mengambil niche market. Contoh, merek oli Evalube, resto  Hokben, maskapai Garuda, Lion Air, Polytron, dan masih banyak lagi.

Oli Evalube Raih Penghargaan IOB 2012 dari Majalah SWA

Merek yang menjadi pionir cenderung susah untuk digeser,” ujar Asto. Dia mengambil contoh Hoka Hoka Bento (Hokben). Merek resto cepat saji ini menjadi pionir untuk makanan ala Jepang dengan segmen middle-low. Hokben secara konsisten membangun posisi tersebut sejak lama. “Sehingga posisi sebagai fastfood ala Jepang yang middle-low susah digeser meski sekarang mulai bermunculan merek serupa di Indonesia. Dan, ini berlaku juga untuk industri-industri yang ada beberapa brand menjadi pionir,” ujarnya.

Kekuatan brand nasional lainnya adalah yang memiliki riset dan pengembangan untuk terus memunculkan inovasi. Asto mencontohkan Polytron. Menurut dia, perusahaan elektronik ini tidak henti-hentinya melakukan inovasi teknologi agar tidak tertinggal. Memang sudah semestinya inovasi cepat dilakukan industri yang terkenal punya life cycle pendek itu. “Jadi, teknologinya selalu baru dan tidak kalah dengan merek asing,” kata dia.

Merek yang kuat seringkali juga karena kepiawaian mengambil niche market. Konteks ini cocok untuk mengambil contoh Lion Air. Waktu muncul, Lion Air mengambil ceruk pasar yang tidak diduduki oleh Garuda sebagai flight carrier yang punya banyak fasilitas. Selain itu, pertumbuhan Lion Air juga dipicu oleh pertumbuhan ekonomi. Jadi di industri ini bukan brand yang terpenting, tetapi produk. Masih price oriented. “Sampai saat ini pengelolaan brand di Lion Air belum kelihatan. Masih product oriented. Pokoknya harganya murah, selesai sudah,” dia menjelaskan.

Industri orientasi konsumen masih di basic need perlu dikembangkan hingga konsumen benar-benar loyal pada brand. Sebab, pada titik tertentu market akan mengejar non-basic. “Misalnya, bila ketepatan waktu Lion Air sudah menjadi hal biasa bagi konsumen. Pasti konsumen minta yang lebih. Nah, tinggal di segmentasi saja. Lion Air belum melakukan ini,” katanya.

Untuk industri yang kompetesinya tinggi, maka brand sangat menentukan. Brand sudah menjadi garansi. Bila demikian, brand harus bisa keluar dari basic. “Produknya harus bagus dulu, baru ditingkatkan ke yang lain. Nah, mau  tidak mau harus mengintenskan komunikasi (tradisional maupun modern) dan brand komponen lainnya harus dijalankan untuk memenangkan kompetisi,” ujarnya.

Adanya survei Indonesia Original Brand ini juga dinilainya dapat menjadi rujukan bagi pemilik merek. Sejauh mana merek-mereknya dapat bertahan atau bahkan merajai pasar di industrinya, sehingga merek bisa lebih terarah lagi dalam memperbaiki kekuatan brand. Apalagi dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus, tingginya pendapatan perkapita dan banyaknya jumlah penduduk membuat Indonesia menjadi pasar menarik bagi brand luar. Merek-merek dalam wajib tidak hanya sekadar bertahan, tetapi tumbuh dalam kerasnya persaingan.

Tetapi, Asto memberi catatan bahwa merek asing tidak selalu berhasil di tanah air. Sebab, pemain asing perlu melakukan beberapa pendekatan dan penyesuaian dengan karakter konsumen di Indonesia. Misalnya di industri ritel, khususnya mini market. Dominasi Alfamart dan Indomaret jelas tidak terbantahkan. “Pemain lokal tidak usah takut menghadapi pemain asing. Namun, tentu saja merek lokal juga harus terus berbenah agar bisa terus bersaing,” dia menyarankan. (EVA)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)