Brand Global vs Brand Lokal, Siapa Menang?

Pemerintah Indonesia tengah berusaha menggenjot investasi lokal maupun asing. Tapi, kebijakan ini bisa menjadi bumerang di masa depan. Brand global, alias asing, semakin menggurita. Sebaliknya, brand lokal dipaksa mengibarkan bendera putih justru di saat mereka tinggal selangkah lagi menjadi raja di negeri sendiri.

Siapa yang tak tahu perjalanan bisnis berliku nan yahud dari merek-merek ngetop seperti Aqua, Abc, Kecap Bango. Sariwangi, dan Sari Husada. Dengan pasar Indonesia yang sangat besar, deru bisnis mereka mulai terganggu saat brand global melenggang masuk ke Tanah Air.

“Sudah sangat parah dominasi dari brand global di Indonesia. Kalau bicara brand lokal, pasar kita ini sudah terlanjur dibuka. Tidak seperti Cina yang masih terlindungi. Kita nggak, sangat terbuka,” kata Yuswohady, Managing Partner Inventure.

siwo

Dia menyayangkan banyak para pemegang tampuk kekuasaan di Tanah Air yang gagal paham dengan kebijakan mendorong perusahaan multinasional berinvestasi dengan tujuan meningkatkan devisa negara. Padahal, keuntungan dari investasi asing ini ujung-ujungnya mengalir ke kantor pusatnya.

“Ini yang tidak dilihat para ekonom kita. Saat (pemerintah) mengajak investor asing untuk investasi di sini, memang ada capital inflow. Tapi, 3 tahun kemudian saat tutup buku akan ada capital outflow hasil menjarah market kita,” kata dia.

Dengan empat kekuatan utama, yakni modal, teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia yang kuat, merek lokal menjadi tidak berdaya saat harus duel head to head. Brand asli kebanggaan negeri ini pun berganti kepemilikan karena tak kuat menghadapi ketatnya persaingan. Dengan dimiliki asing, selesai sudah perlawanan merek dari dalam negeri.

Pertarungan antara merek global dan lokal untuk memperebutkan pasar Indonesia yang besar ini kemudian berjalan tidak seimbang karena tidak adanya keberpihakan dari pemerintah untuk pemain lokal kebanggaan negeri. Pria yang akrab disapa Siwo itu mengibaratkan merek global sebagai petinju kelas berat melawan merek lokal yang hanya petinju kelas bulu.

“Kita tak mungkin (menang) lawan mereka. Sekarang yang terjadi, semua industri di Indonesia, secara sistematis, dikuasai pemain asing. Bicara advertising, ada Ogilvy. Tentang riset atau rating, yang menguasai itu Nielsen. Bahkan dia itu monopoli, tidak ada (pemain) lokal yang bisa,” terangnya.

Selanjutnya, bicara soal mobil, Toyota, Suzuki, dan asing lainnya paling berkuasa. Pertanian pun yang menguasai asing. Online bisnis kita seperti OLX, Bukalapak, dan sebagainya kini sudah dimiliki investor asing semua. Perusahaan lokal semakin terhimpit.

“Saya melihat Aqua itu sudah bukan perusahaan lokal. Namanya memang Aqua, tetapi ketika yang punya itu Perancis, SDM-nya Prancis, maka sejatinya itu perusahaan Prancis. Cuma pinternya perusahaan global, (merek lokal) di sini yang sukses, dibeli sama dia,” katanya. (Reportase: Raden Dibi Irnawan)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)