Byo, Obsesi dan Ekspresi Jiwa Tommy Ambiyo Tedji

Tommy Ambiyo Tedji, owner perusahaan tas fashion merek Byo

Tidak semua orang bisa mengekpresikan isi hatinya dengan kata-kata. Seperti, Tommy Ambiyo Tedji. Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini lebih mudah menunjukkan ekspresi jiwanya melalui tas.

Ya, tas. Bagi Tommy, tas adalah obsesi yang merasuk hingga alam bawah sadarnya. Dan, Byo adalah lahan eksperimen, desire, dan inovasi yang diwujudkannya. “Sejak kuliah, saya suka sekali dengan tas. Tas itu kombinasi imajinasi fashion dan ilmiah,” ungkap Tommy menggambarkan kecintaannya.

Kendati telah menemukan sasaran untuk mewujudkan imajinasinya melalui Byo, tas yang diproduksinya, sesungguhnya jalan sukses Tommy tidak semulus jalan tol. Mula-mula awal tahun 2000-an, ia sering mengamati hasil rancangan para desainer tas ternama: Delvaux, The Row, atau Alexander Wang. Kemudian, ketika masih menjadi mahasiswa, ia “mencuri” ilmu produksi dari sebuah distro tempatnya melakukan praktik kerja sebagai seorang desainer aksesori. Namun, ilmu yang didapatnya itu tidak langsung ia praktikkan untuk memproduksi benda obsesinya. Setelah lulus, ia justru bekerja menjadi visual merchandiser di sebuah perusahaan untuk memperkaya wawasan.

Dua tahun Tommy bereksperimen dengan mengutak-atik berbagai bahan. Ia pun sengaja melakukan pendekatan berbeda, yatu dengan menonjolkan keunikan dan membuat sesuatu yang baru: bermain di geometris, seperti mozaik. Ia terinspirasi perancang busana Issey Miyake yang menggabungkan antara geometris dan tas anyam pasar. Baru setelah itu semua, pada 2010 Tommy memberanikan diri memproduksi Byo.

Baginya, Byo adalah gabungan antara fashion dan fiksi. Desain tas Byo banyak dipengaruhi film-film fiksi ilmiah di masa kecil yang disukainya, mulai dari Jurassic Park hingga Independence Day. “Dua inspirasi itu kemudian saya kawinkan,” ujarnya.

Byo diambil dari nama tengah Tommy, Ambiyo, yang bisa juga bermakna kehidupan, organisme yang hidup. Dalam hal ini, ia memang menjadikan tas sebagai objek keseharian yang menarik, karena fungsinya memperkuat karakter si pemakai. Maka, ia tak segan-segan bereksperimen dengan melahirkan tas berbahan tyvek (material lembaran seperti kertas, tak mudah robek). Tommy berani mendobrak gagasan yang lazim. Justru karena itu, ia mendapatkan JFW Fashion Entrepreneur Award pada Jakarta Fashion Week 2017.

Tidak berhenti berinovasi membuat tas tyvek, Tommy mencari antitesis dari proses penciptaan karya pertamanya. Maka, lahirlah tas yang lebih sustainable dengan gaya rancang yang unik dan eksperimental yang menggunakan material PVC yang tebal, kaku, awet, dan lebih berstruktur dengan pola moduler futuristis yang dirakit dengan cara anyam. “Inilah yang menjadi DNA tas koleksi Byo yang mantap digarap hingga sekarang,” katanya.

Menurut pria yang beberapa kali mendapatkan apresiasi dari dunia mode Indonesia ini, titik balik untuk mulai berbisnis tas ketika ia diajak ikut berjualan di Brightspot Market. Selama empat hari pameran, ada 15 tas yang terjual seharga Rp 450 ribu per buah. “Pertama kalinya saya merasakan mendapatkan uang dari bisnis tas sendiri,” cerita Tommy. “Setelah itu (2011), saya memutuskan resign dari pekerjaan saya dan mulai fokus untuk merintis Byo,” lanjutnya. Ia mulai fokus melakukan eksperimen produk.

Dalam perjalanan waktu, Tommy makin banyak belajar, banyak berinovasi, serta terus memperbaiki produk dan cara pemasarannya. Dulu, cara pemasarannya cuma melalui teman dan media sosial. Sekarang, ia telah memiliki tim pemasaran, sehingga strategi harga pun menjadi salah satu yang dipertimbangkan secara matang. “Kami paham, jika (tas Byo) dijual dengan harga tinggi, akan sulit. Makanya, harganya dibuat murah dulu. Karena harganya lumayan affordable, produk saya juga menyebarnya lebih cepat,” Tommy menjelaskan.

Kini Tommy pun memanfaatkan beberapa blogger terkenal sehingga akhirnya produk Byo digunakan di New York Fashion Week. “Awal-awal, faktor hokinya juga lumayan tinggi,” ujarnya. Ia meyakini, pemasaran terbaik ialah rekomendasi dari teman ke teman dan melalui fitur sponsor Instagram.

Dulu, Byo melakukan penjualan di Byo.com. Sekarang orang semakin lari ke marketplace, misalnya di Tokopedia atau Bukalapak. Sehingga, Byo pun lari ke Tokopedia,“ katanya. Terbukti, penjualan Byo di Tokopedia bagus, melebihi penjualan di Byo.com.

Selain itu, karena Byo sering diundang untuk mengikuti fashion show dan pameran, produknya pun ikut mendapatkan exposure, masuk ke editorial majalah. Menurut Tommy, ajang-ajang semacam itu memperkuat citra produknya sekaligus meningkatkan awareness di kalangan masyarakat pencinta fashion. “Seperti sekarang, kami sedang mengikuti pameran Milan Design Week selama seminggu,” ujarmya.

Dengan berbagai karyanya, Tommy pernah diganjar penghargaan The Most Promising Accessories Designer (Cleo Fashion Awards-Jakarta Fashion Week 2016), JFW Fashion Entrepreneur Award (Jakarta Fashion Week 2017), dan Good Design Indonesia 2017 dari Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, untuk desain warrior clutch-nya yang fenomenal. Selain apresiasi dari dalam negeri, Byo yang tergabung dalam Indonesia Fashion Forward berkesempatan memamerkan produk di AQ Market, Paris Fashion Week 2016, dan mengikuti Los Angeles Fashion Week 2017, menampilkan koleksi Spring-Summer 2018.

Karena bahan dan produksi Byo sudah berbeda dari ketika awal diperkenalkan, harga jual tasnya pun kini telah berubah. Sekarang, harga tasnya Rp 900 ribu-3,5 juta dengan bahan lateks. Yang berbahan kulit, harganya Rp 2,5 juta-8 juta.

Dengan harga jual segitu, penjualan Byo tetap menggembirakan. Ada sekitar 800 item yang terjual selama setahun. Adapun pertumbuhan bisnisnya lebih dari 20 persen per tahun. Menurut Tommy, yang penting sekarang ialah memahami perubahan pasar. Pasar terus berubah dam sistem juga berubah terus. Maka, yang dilakukannya: terus beradaptasi.

Dengan anggota tim kerja pemasaran lima orang dan anggota tim produksi 25 orang, setiap bulan Tommy menghasilkan 300-an item tas dengan 4-8 desain. Yang menarik, desain klasik tahun 2014 masih banyak peminatnya, sehingga terus diproduksi. Namun, walaupun koleksi lama demand-nya tinggi, Byo tetap harus berinovasi terus. “Jadi, yang membuat kami bertahan adalah karena kami terus mengeluarkan desain geometri yang baru di setiap tahunnya,” ungkap Tommy yang sekarang terinspirasi kain songket.

Tidak berhenti di tas, ke depan, ia juga ingin membuat baju. “Kami inginnya memproduksi baju, tas, jewelery,” kata Tommy optimistis. Baginya, pasar anak muda 15-35 tahun yang menjadi targetnya terus tumbuh secara organik, yang memungkinkannya terus mengembangkan kreasi dan inovasi sesuai dengan pertumbuhan pelanggan.

Anne, salah seorang pelanggan Byo, mengatakan, daya tarik Byo ialah mengenali karakter konsumen. “Tasnya bagus dan unik, anti-mainstream banget. Karena keunikan ini, saya beli. Selain unik dan bahan materialnya bagus, harga yang ditawarkan juga tergolong terjangkau,” demikian komentar Anne yang senang telah menemukan tas Byo di Goods Dept setahun lalu.

Dyah Hasto Palupi/Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)