Cara Ben Subiakto Tularkan Virus Kreatif Lewat Paraf

Perkembangan industri kreatif melaju dalam kecepatan yang tinggi. Sektor ini bahkan mampu menyumbang 7% dalam produk domestik bruto 2013 dengan nilai Rp642 triliun. Namun angka tersebut masih berpeluang untuk dimaksimalkan mengingat Indonesia memang kaya generasi kreatif. Berjuta-juta generasi muda menjadi potensi tersendiri yang dapat dikembangkan.

Sebagai bagian dari insan kreatif, Bernhard Subiakto, mengambil posisi untuk menularkan semangat kreatif. Melalui penerbitan sebuah publikasi berjudul Paraf, founder dan sekaligus CEO Octovate Group ini, membuat sebuah majalah yang mengulas pelaku industri kreatif secara mendalam.

Beragam kisah sukses pelaku industri kreatif dibagikan di majalah yang telah masuk ke edisi ke-dua tersebut. Beberapa kisah antara lain, perjalanan panjang Tex Saverio dalam membangun rumah mode, Mira Lesmana dalam menyemarakan perfilman nasional, hingga David Tarigan yang berbagi cerita dalam memgagas irama nusantara.

img_20161114_6256

Paraf mendokomentasikan perkembangan indutri kreatif ke seluruh lini aspek mulai dari bidang ritel, mode, fotografi, digital teknologi, arsitektur, seni dan budaya, kecantikan, akademik, musik, kuliner, sosial dan lain-lain. Majalah ini ditujukan bagi mereka yang sedang merintis atau sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang entrepreneur agar dapat menyerap inspirasi dari para pelaku industri kreatif lndonesia. “Paraf merupakan kumpulan visi dan inspirasi pelaku industri kreatif,” ujarnya.

Di bawah bendera PT Ide Untuk Indonesia, Ben kemudian menggandeng branding dan design agency, Greenlab, editorial agency ASA, distributor fancy paper Paperina dan juga percetakan Harapan Prima. Didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Samsung, majalah ini dikemas secara premium dan dapat diperoleh di berbagai toko buku yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, majalah PARAF juga dapat dipesan secara digital di www.paraf.co. Tahun lalu, majalah ini dicetak sebanyak 2.000 eksemplar, sedangan tahun ini dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dengan harga per majalahnya Rp 170 ribu. “Kolabolasi ini pula yang menjadi nyawa dalam konten,” ujarnya.

Baca juga:

Agar Industri Kreatif Terus Bergairah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)