Cara Menggunakan Media Sosial untuk Membangun Komunitas, Interaksi, dan Bisnis

Juanda Rovelim, Founder Digital Marketing Is FUN! dan CEO Kavlink Solusi Digital.

Sudah sekitar enam bulan Pandemi Covid-19 membatasi pergerakan kita. Dengan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) memang banyak transaksi bisnis yang selama ini dijalankan secara offline turun drastis. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sudah banyak pelaku bisnis di berbagai bidang yang menggunakan media sosial untuk memasarkan produk mereka, dan produk yang terjual dikirim ke alamat pembeli.

Untuk menyegarkan kita semua mengenai bagaimana kita dapat memanfaatkan media sosial – dalam hal ini Instagram dan facebook – secara efektif untuk memasarkan produk atau jasa kita, SWAonline melakukan wawancara dengan Juanda Rovelim, pakar media sosial yang juga Founder Digital Marketing Is FUN! dan CEO Kavlink Solusi Digital. Berikut petikannya:

SWA: Di era pandemi seperti sekarang, makin banyak perusahaan menggunakan media sosial untuk mendukung Langkah-langkah pemasaran mereka. Apa saja persiapan yang sebaiknya dilakukan?

Juanda Rovelim (JR): Sebelum melakukan promosi di media sosial, satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah siapkan home base yang menarik. Home base disini bisa berupa akun Instagram, Facebook, website dan lain-lain yang merupakan citra dari perusahaan.

SWA: Lalu bagaimana kita membuat strateginya?

JR: Untuk membuat strategi yang baik, perusahaan harus mengetahui siapa konsumen mereka sebenarnya. Setelah itu, buat peta perjalanan konsumen mulai dari tahap sebelum mengenal perusahaan, kemudian kenal dengan perusahaan, lalu membeli produk perusahaan sampai akhirnya menjadi konsumen yang mau mereferensikan perusahaan

SWA: Apa saja pilihan media sosial yang sebaiknya dipilih? IG, FB, atau Youtube? Dari masing-masing pilihan tadi apa kelebihan dan kekurangannya?

JR: Tiap platform media sosial mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Misalnya Instagram. Kekuatannya di single image. YouTube di video, Facebook di komunitasnya. Perusahaan harus memiliki DNA yang tepat dengan platform yang akan dimainkan.

SWA: Bagaimana kita dapat memanfaatkan secara optimal setiap jenis media sosial tersebut? Dan bagaimana kita dapat mengintegrasikan ketiga medium media sosial tadi dengan efektif?

JR: Kunci dari keberhasilan setiap media sosial adalah interaksi. Karena sesuai definisinya, media sosial adalah tempat untuk kita berinteraksi sosial. Bukan sebagai selling media. Dan supaya kita dapat efektif dalam penggunaan media sosial, perusahaan dapat menggunakan berbagai software pihak ketiga seperti Hootsuite, Trajectsocial dan lain-lain.

SWA: Tadi disebutkan media sosial adalah untuk interaksi sosial, bukan sebagai selling media. Apakah maksudnya media sosial memang tidak tepat atau tidak efektif untuk menjual produk atau jasa kita? Dalam prakteknya, di instagram misalnya, terlihat banyak juga yang memasarkan produk dan jasa.

JR: Media sosial bisa dijadikan selling media dengan cara yang tepat. Saya sendiri lebih suka menggunakan media sosial dengan cara soft selling. Jadi tidak terkesan jualan secara langsung. Karena pemanfaatan media sosial di dunia digital marketing dibagi menjadi 2, yaitu akun traffic dan akun katalog. Di akun traffic sebaiknya tidak ada program penjualan sama sekali. Sedangkan akun katalog bisa berfungsi sebagai katalog barang jualan kita.

Yang perlu dicatat, biasanya akun jualan akan sulit naik perfomanya jika brand kita belum di kenal. Biasanya orang akan membangun akun traffic terlebih dahulu sebagai branding dan kemudian ujungnya baru jualan. Dan supaya akun jualan tersebut ramai, kuncinya di interaksi. Bagaimana si penjual bisa berinteraksi dengan konsumennya yang akan menentukan akun jualannya akan ramai atau tidak.

SWA: Apa sebetulnya manfaat kongkret dengan memiliki jumlah follower yang banyak di masing-jenis media sosial? Bagaimana cara mendongkrak jumlah follower secara organik?

JR: Follower berfungsi sebagai social proof bahwa akun kita digemari banyak orang seperti hal nya di dunia offline. Pembeli akan lebih memilih untuk berbelanja di tempat ramai dibandingkan tempat yang sepi atau masih baru. Untuk dapat mendongkrak jumlah follower, kita perlu membuat konten yang menarik, memiliki value dan sesuai dengan target audience kita.

SWA: Bagaimana cara kita mengukur hasil penggunaan masing-masing media sosial kita?

JR: Untuk mengukur hasil kita bisa menggunakan strategi funneling, dan menghitung jumlah konversi disetiap langkahnya. Beberapa matrix yang bisa kita ukur adalah jumlah traffic, jumlah audience top of funnel, jumlah konversi ke middle of funnel, dan jumlah konversi ke bottom of funnel.

SWA: Terkait dengan strategi funneling yang dijelaskan, apa yang dimaksud dengan jumlah audience top of funnel, jumlah konversi ke middle of funnel dan jumlah konversi ke bottom of funnel?

JR: Top of funnel adalah berapa banyak orang yang masuk atau berinteraksi pertama kali dengan kita. Middle Of Funnel adalah berapa banyak orang yang mengambil penawaran yang telah kita tawarkan pada interaksi pertama. Bottom of Funnel adalah penawaran akhir dari produk atau jasa kita. Biasanya untuk menawarkan ini kita susun value ladder, mulai dari harga atau pelayanan terendah hingga tertinggi.

SWA: Apa saja investasi yang diperlukan dalam menjalankan ketiga jenis media sosial tadi? Untuk peralatan standar dan biaya promosi?

JR: Investasi terbesar ada di konten. Karena penggunaan semua media sosial sebagian besar gratis. Tetapi untuk memproduksi sebuah konten yang menarik dibutuhkan tim yang baik. Untuk bujet promosi bisa dimulai dengan, misalnya Rp 20 ribu/hari untuk iklan di Instagram atau Rp 15 ribu/hari untuk iklan di facebook.

SWA: Bagaimana pula dengan tenaga SDM yg diperlukan? Skill apa yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan semua hal di atas dengan baik?

JR: Untuk SDM, disarankan memiliki tim design visual, video, dan copywriting.

SWA: Apa do’s & don’t yang harus menjadj pegangan kita dalam menjalan program promosi/pemasaran dengan menggunakan platform media sosial?

JR: Perlu diingat, sesuai definisinya, media sosial adalah media untuk kita berinteraksi secara sosial. Bukan sebagai selling media. Oleh karena itu apa yang kita lakukan sebaiknya memenuhi kaidah-kaidah hubungan sosial yang berlaku dimasyarakat. Selain itu juga patuhi term and condition yang berlaku disetiap platform.

swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)