Cara Tiga Institusi Dukung Ekonomi Kreatif

Beberapa waktu terakhir tren “Do it Yourself” (DIY) seperti membuat kerajinan tangan atau pertukangan hingga furnitur sederhana berkembang. Hal ini membuat masyarakat menjadi terbiasa untuk mengerjakan sendiri tanpa memerlukan bantuan dari pekerja profesional.

Hanya dengan peralatan seperti alat bor, gerinda, gergaji, palu, dan obeng makin banyak orang membangun, mereparasi atau memproduksi sesuatu secara mandiri, baik sendiri maupun berkelompok dalam komunitas. Tren ini pun ditangkap oleh RuangQu yang merupakan workshop atau workspace untuk memberikan pelatihan mengenai woodworking atau perkayuan. Marques Darmawan, Pendiri RuangQu, mengatakan, pihaknya telah mengandeng Gregor’s Café sebagai tempat pelatihan, serta penyedia peralatan adalah merek Stanley Black&Decker.

Menurutnya, di beberapa kota besar, komunitas-komunitas DIY ini telah berubah menjadi zona kreatif yang menyebarkan keahlian mereka melalui kelas workshop. Namun, meski tren DIY semakin mewabah, masih sedikit ruang-ruang kreatif bagi mereka yang ingin belajar untuk membuat furnitur sederhana, atau ruang berdiskusi bagaimana merancang produk DIY yang bernilai ekonomi.

“Jika anak muda diberi kesempatan untuk belajar lebih dalam mengenai DIY, akan hadir berbagai produk inovatif bernilai ekonomi. Adanya kelas DIY akan memfasilitasi mereka untuk belajar langsung mengenai cara membuat produk sederhana dan bagaimana menggunakan tools dengan aman,” ujarnya.

Adapun pihaknya menawarkan beberapa paket pelatihan untuk membuat furniture sederhana dengan durasi a 2-3 jam untuk membuat satu produk. Country Director Stanley Black & Decker (SBD) Indonesia, King Hartono Hamidjaja, menjelaskan bahwa sebagai produsen peralatan, pihaknya ingin mendukung generasi muda dalam mengembangkan industri kreatif. “Kami tidak ingin hanya berjualan namun kami ingin memberikan benefit untuk konsumen lewat kelas-kelas pelatihan, sehingga diharapkan bisa memicu ekonomi kreatif,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama Gunadi Karim, salah satu owner Gregor’s Café menjelaskan, ia juga ingin mendorong tumbuhnya industri kreatif dalam negeri. Nantinya, selain menikmati berbagai kuliner di café, pengunjung juga dapat mencoba berbagai peralatan untuk pembuatan produk furnitur sederhana dalam kelas DIY yang diadakan secara reguler.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)