CEO Faber-Castell Wafat

Count Anton yang merupakan generasi ke-8 dari Faber-Castell menghembuskan nafasnya di tengah-tengah keluarga tercinta pada 21 Januari 2016, di Houston Amerika Serikat pada usia 74 tahun setelah bertahan dalam sakitnya. Count Anton-Wolfgang von Faber-Castell meninggalkan istri tercintanya, Countess Mary Elizabeth dan keempat anaknya, Charles, Katharina, Sarah dan Victoria.

Sejak memimpin perusahaan, pada 1978, Count Anton memutuskan fokus di Asia Pasifik. Ia melihat telah terjadi pergeseran lagi pada pasar, dan pasar Asia Pasifik-lah yang kini memiliki potensi besar. Maka, Faber-Castell pun mulai berekspansi ke Australia.

“Pada dasarnya kami telah menjadi perusahaan global jauh sebelum globalisasi itu sendiri dimulai. Dan, saya kira keputusan yang saya ambil untuk ekspansi ke Asia Pasifik ini tepat, karena tidak diragukan lagi, telah terjadi shifting dalam 60 tahun terakhir dan kalau Anda lihat ke masa depan, Asia Pasifik adalah wilayah terpenting,” ujarnya.

Yandramin Halim, Direktur Pengelola Faber-Castell International Indonesia, juga mengungkapkan, meskipun penjualan Faber-Castell yang terbesar masih di Eropa dan Brasil, Asia Pasifik memiliki pertumbuhan yang tercepat.

Masalah yang dihadapi perusahaan dalam pengembangan wilayah ke Asia Pasifik selanjutnya adalah adanya custom barrier yang menyebabkan perusahaan tidak dapat terus-menerus mengekspor produk dari Jerman ke Asia Pasifik. “Jadi intinya, akan lebih mudah jika Faber-Castell memiliki pabrik sendiri di wilayah yang menjadi pasar sasarannya,” tutur Count Anton.

Count Anton-Wolfgang von Faber-Castell Count Anton-Wolfgang von Faber-Castell

Berdasarkan pertimbangan itu, ia pun mencoba bernegosiasi dengan pihak-pihak di negara tujuan pasarnya dalam rangka mendirikan joint venture untuk menjalankan manufaktur dengan sistem lisensi. Pada 1977-78, Faber-Castell pun membuka Faber-Castell Malaysia, Faber-Castell Hong Kong, dan Faber-Castell Jepang dengan sangat cepat.

Selanjutnya, di 1990-an Faber-Castell Indonesia pun dibuka. Menyusul kemudian Faber-Castell India, Singapura dan Cina. Diakui Count Anton, masa-masa berat saat krisis ekonomi 1997-98 di Indonesia sempat pula dialami Faber-Castell.

“Saat itu kami memutuskan menjadi antisiklikal. Saat itu kami tetap bertahan ketika banyak perusahaan asing justru menarik modalnya dari Indonesia. Kami justru menambah investasi kami di Indonesia di tahun 1999,” katanya.

Di mata Count Anton, salah satu rahasia kesuksesan sebuah bisnis keluarga adalah nilai kesuksesan yang diberikan kepada generasi penerus dalam hal menjalankan bisnis dan memperlakukan orang. Itulah hal yang sangat mengesankan yang sudah dilakukan oleh Lothar von Faber, generasi ke-4 Faber Castell.

Lothar-lah yang benar-benar meletakkan dasar bagi generasi selanjutnya, termasuk terkait social responsibility, passion terhadap produk, dan apa yang terpenting dalam bisnis, yakni persitensi dan etika bisnis.

Bicara nilai-nilai dalam bisnis keluarga, salah satu yang terpenting adalah mempertahankan dan menghargai kinerja dengan tulus, dan tidak seenaknya merekrut dan memberhentikan rekanan atau karyawan. Itu adalah sesuatu yang paling tidak boleh dilakukan sebagai perusahaan asal Jerman.

Jika berbicara tentang nilai-nilai, itu termasuk persistensi, kerendahan hati, keterusterangan kepada orang lain, tidak ada politik, dan sangat toleran. Itulah nilai-nilai yang perlu diterapkan di perusahaan internasional yang multikultur seperti Faber-Castell.

“Kami berusaha keras untuk menjadi sebuah keluarga tidak peduli dari mana pun anggotanya berasal. Sangat penting bagi kami untuk memiliki mentalitas yang benar atau mengidentifikasi sesuatu dengan cara yang objektif,” kata Count Anton. (Reportase: Kristiana Anissa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)