'Continuous Improvement' Jadi Tonggak Inovasi Organisasi

Berbicara soal inovasi dalam organisasi, tidak hanya diukur dalam strategi tim tetapi juga inovasi individual. Banyak pihak yang mengklaim bahwa organisasi yang inovatif bermula dari konsep yang flat dan sederhana. Namun pada dasarnya, strategi inovasi bukan dinilai dari 'bentuk' melainkan kinerja yang berkelanjutan (continuous improvement).

Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Program MM Executive Sekolah Bisnis Bina Nusantara (Binus), Tubagus Hanafi Soeriaatmadja. Untuk melakukan hal tersebut, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, menetapkan winning strategy. Ada contoh bagus yang terjadi di PAMA Persada Nusantara, sebuah bagian dari Astra Group of Companies yang bergerak di bidang Integrated Mining Services pada tambang batu bara.

“Perusahaan ini mengedepankan inovasi sebagai strategi pertumbuhannya sehingga mampu tumbuh hampir 200 kali lipat dalam waktu kurang dari 20 tahun. Strategi inovasi jarang diambil oleh sebuah perusahaan jasa pertambangan di dunia ini,” ujar Hanafi.

Kedua, senantiasa menetapkan target KPI ((Key Performance Indicator) yang selalu lebih tinggi di banding sebelumnya sehingga bisa menghasilkan produk/jasa yang lebih baik di banding sebelumnya (better features, cheaper/faster, better services). Di PAMA, menurut Hanafi, KPI perusahaan sangat jelas dan terukur. Bahkan inovasi individual dan team pun diukur untuk memastikan inovasi berkelanjutan. “Banyak orang berkata bahwa untuk menyiapkan organisasi yang inovatif, bentuknya harus flat dan sederhana. Namun kuncinya bukan di bentuk melainkan bagaimana mengukur kinerja.”

Ketiga, KPI berfokus pada pengembangan produk, proses, SDM dan teknologi. Untuk menjaga agar pertumbuhan bisa berkelanjutan maka diperlukan penelitian. Standard & Poor menunjukkan bahwa perusahaan yang tidak melakukan inovasi yang terus menerus akan keluar dari bisnis dalam waktu 20 tahun. “Anda masih ingat perusahaan komputer WANG atau DIGITAL? Mereka adalah raja bisnis komputer di tahun 1980an. Sayangnya mereka gagal meraih momentum.”

Menurut Hanafi, kegagalan itu berasal dari 'kemalasan' perusahaan mengembangkan produk. Saat itu, perusahaan memiliki inovasi yang abik namun malah selanjutnya fokus pada management excellence (mengeksploitasi produk) dan kurang fokus pada blue ocean innovation (mengeksploitasi produk baru. “Pada akhirnya, mereka tidak melihat peluang untuk personal computer dan ketinggalan dari para pesaing,” kata Hanafi menyayangkan.

Menurut Hanafi, suatu perusahaan harus mampu memilah INNOVATION (Inovasi dengan huruf besar) dan innovation (inovasi dengan huruf kecil) secara seimbang. INNOVATION adalah fokus pada penciptaan produk dan pasar baru, sedangkan innovation adalah fokus pada continuous improvement terhadap produk-produk yang sudah ada. “Namun, jangan berat sebelah ke INNOVATION saja atau innovation saja.”(Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)