Crown Garap 7 Proyek Baru di 5 Kota Dunia

Iwan Sunito (kedua dari kiri)

Chairman dan Pendiri Grup Crown, Iwan Sunito, mengatakan, pertumbuhan industri properti di Australia tahun 2018 mulai melambat. Tidak seperti 3-4 tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan tinggi, selalu double digit 10-15% tiap tahun. Tidak heran jika kemudian Crown agresif menggarap proyek -proyek di luar Australia.

“Terlalu tinggi dan terlalu cepat pertumbuhan di sana 3-4 tahun sebelumnya,” Iwan di kantornya di The Plaza Jakarta (11/02/2019). Sehingga Pemerintah Australia mengambil peran agar pertumbuhannya tidak secepat itu.

Pihaknya melihat dengan keputusan yang diambil Pemerintah Australia tersebut menyebabkan banyak developer menahan diri. Developer tidak bisa bertahan jika tidak mendapat pendanaan. Lalu pembelinya juga, tidak sebanyak sebelumnya. “Ini bagus untuk ekonomi, supply properti di pasar sebesar 40%. Aktivitas konstruksi di Sydney diperkirakan menurun,” ungkapnya.

Perizinan pengembangan apartemen di sana pun turun 25%. Para pakar ekonomi di sana sempat menyampaikan kepada Pemerintah Australia, terutama bank sentral Australia agar perlambatannya tidak bisa terlalu cepat.  Karena akan berimbas pada ketenagakerjaan di Australia. Para pakar menyarankan agar menurunkan bunga bank.

“Walau begitu kami justru melihat ini positif, berarti
kompetisi kami berkurang banyak. Sedangkan kebutuhan untuk tinggal di apartemen
di dekat kota bertumbuh di seluruh dunia. Tren generasi milenial dan orang atau
keluarga yang mau down sizer, keluarga
di mana tinggal orang tua, anak-anak sudah keluar dari rumah. Membutuhkan tempat
tinggal yang tidak besar sekali,” katanya.

Iwan juga menuturkan bahwa saat ini ada perubahan gaya hidup perkotaan, bukan saja di Australia, juga dunia. Luxury bukan lagi memiliki segalanya dengan rumah yang besar. “Saat ini luxury adalah memiliki akses, juga sharing and community,” tambahnya. Para down sizer bukan sekadar menjual rumah mewah dan besar, lanjutnya, lalu mengganti dengan yang lebih kecil, agar bisa punya uang lebih. Mereka masih aktif dan bisnisnya pun bertumbuh, namun karena anak-anak sudah keluar dari rumah, merasa bahwa rumahnya sudah kebesaran. Mereka pun lebih banyak traveling ke mana-mana.

“Tren mereka pun memilih untuk tinggal di tengah kota untuk kenyamanan, akses yang lebih mudah ke mana-mana,” tuturnya. Ia melihat kondisi ini sangat positif bagi Crown yang fokus membangun apartemen dengan segala fasilitas yang mendukung gaya hidup baru tersebut.

Dalam lain hal di 2019,  Iwan menyampaikan tentang investor China yang sebelumnya agresif menanamkan dananya di Australia, mulai menarik dananya kembali negaranya. “Pengaruh kontrol Pemerintahan China, yang mengurangi investasi institusi China yang besar ke Australia,” ujarnya. Justru ini kondisi positif buat Crown, karena pihaknya bisa kembali menambha land banking lagi. Sebelumnya, investor China sangat agresif, apa pun yang bisa dibeli, akan mereka ambil.

Menariknya, justru investor Jepang mulai agresif masuk ke Australia. “Mereka mulai terlihat masuk ke beberapa proyek. Salah satunya ke proyek Crown melalui Mitsubishi Real Estate. Mereka hanya menggandeng joint venture dengan dua grup developer di Australia,” katanya. Iwan melihat ini sebagai kehormatan dengan dipilihnya Crown sebagai mitra developer properti global. Salah satunya di proyek Mastery by Crown Group, yang juga akan membawa pelaku ritel di proyek properti ini. Satu di antara ketujuh proyek dunianya itu di antaranya dikerjakan bersama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk

Tahun 2019 sangat menggairahkan bagi grup properti yang dibangun oleh dua orang berdarah Indonesia ini dengan 7 proyek yang tersebar di 5 kota dunia. Bahkan saat ini grup ini sedang dalam penjajakan proyek properti dengan Paramount Studio kerja sama yang didukung augmented reality (AR) guna mendukung strategi pemasarannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)