Desa Penglipuran, Tawarkan Orisinalitas Bali

Pesona Bali kuat tertancap di ingatan para wisatawan asing. Keindahan alam dan budayanya sanggup mewakili Indonesia, negeri dengan belasan ribu pulau dan beraneka ragam budaya dan adat-istiadat. Selain Pantai Kuta dan Tanah Lot, yang pesonanya telah diakui dunia, Bali juga punya banyak desa wisata yang menarik dikunjungi. Semuanya menawarkan pesona dan keunikannya masing-masing. Salah satunya, Desa Penglipuran yang resmi ditasbihkan sebagai desa wisata dan pengelolaannya diserahkan pada desa adat.

I Wayan Supat, 49 tahun, diberi amanah memangku jabatan sebagai Bendesa Adat Penglipuran. Ia mengaku tak banyak yang berubah pada tatanan kehidupan masyarakatnya yang kini berjumlah 1.000 jiwa dalam 236 KK (Kepala Keluarga). Inilah justru yang menjadi kelebihan desa wisata ini. Itulah kenapa datangnya bantuan pengaspalan jalan dari Dinas Pekerjaan Umum atau bantuan seng untuk atap langsung ditolak. Itu memang tidak sesuai dengan konsep kehidupan mereka. “Tradisi, itulah kelebihan kami,” katanya.

Penglipuran, sebuah desa tua di Kabupaten Bangli, teguh mempertahankan budayanya, sukses menjadi ikon desa wisata dan menjadi tujuan utama wisatawan asing maupun domestik. Lokasinya yang terletak di jalur utama Bangli dan Kintamani, sekitar 45 km dari Denpasar, Desa Penglipuran menawarkan budaya dan tradisi yang unik, suasana dan lingkungan yang nyaman dengan udara yang sejuk.

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli

Wisatawan yang datang akan langsung merasakan kehangatan dan asrinya pedesaan. Tak ada sampah sama sekali. Jangankan sampah plastik, guguran daun pun tak terlihat. Deretan pohon Kamboja di sepanjang jalan utama yang membelah desa yang ditutup Pura di ujung jalan menambah kental nuansa budaya Bali.

Desa wisata ini menawarkan konsep pemukiman yang ramah lingkungan. Tak ada mobil atau motor yang diperkenankan memasuki kawasan. Kendaraan bermotor hanya bisa masuk hingga pelataran parkir yang disediakan. Rumah setiap keluarga dalam setiap kavling tampak hampir seragam, dengan arsitektur tradisional. Tiangnya dari kayu dengan atap yang khas berupa sirap bambu, dibatasi tembok dan memiliki gerbang khas Bali sebagai pintu masuk.

“Kami tidak berusaha melebih-lebihkan. Inilah keseharian kami. Sekadar mendapat tambahan penghasilan, warga boleh membuka warung makanan dan suvenir. Kami memang tak punya produk khusus,” kata Supat.

Sepanjang 2014, rata-rata 150 orang wisatawan asing maupun domestik mengunjungi desa ini setiap harinya. Jumlahnya terus naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya 115 orang. Tiket masuk dipatok Rp30 ribu dan Rp25 ribu untuk wisatawan mancanegara (dewasa dan anak-anak), sementara tamu domestik hanya Rp15 ribu dan Rp10 ribu (dewasa dan anak-anak).

Pengelola, yang terdiri dari Pemda Bangli, desa adat, dan badan pengelola, menyediakan akomodasi dengan biaya Rp500 ribu per malam. Turis juga bisa menginap di rumah penduduk dengan tarif Rp100 ribu-Rp300 ribu per malam. “Kami tidak ingin mengemas secara khusus karena ingin semuanya berjalan alami,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)