Digital Marketing, Cara Komunikasi Dua Arah Acer

Acer menggunakan Brantology dalam mengelola komunikasi brand-nya. Helmy Anam, GM Komunikasi dan Pemasaran Acer Indonesia mengklaim, Acer Indonesia yang pertama kali menggunakan Brandtology. Keberhasilan strategi Brandtology dapat dilihat dari laporan Q4 2011, kalau dilihat dari social media matrix terlihat Acer Indonesia berada di posisi pertama, dari share of voice-nya, di antara para kompetitornya.

Di laporan tersebut dikatakan bahwa terjadi kenaikan luar biasa di Facebook dan blogger engagement Acer Indonesia. Kenaikan tertinggi dibanding semua negara lain di Asia Pasifik, kenaikannya lebih dari 130%. “Negara lain tidak ada engagement dengan Blogger, kami ada. Bahkan kami diminta untuk mengajarkan ke Asia Pasifik, bagaimana memulai langkah ini,” tuturnya. Pada twitter, Acer Indonesia menggunakan akun @AcerID, followernya terus melonjak tiap kuartalnya.

Helmy menceritakan kala pertama menggunakan social media sebagai salah satu strategi komunikasi dan pemasaran mereknya, menurutnya kuncinya adalah menentukan orang yang tepat untuk di “engage”. “Saya ingin gaet Joko Anwar, Enda dan Ndoro Kakung (Wicaksana), mereka sangat terkenal saat itu,” tuturnya. Helmy mengungkapkan kala menyampaikan idenya, agency malah menakut-nakuti bahwa orang-orang itu susahlah dan sebagainya, sebagainya.

Kebetulan Enda adalah teman kuliah adiknya Helmy, jadi baginya tidak sulit untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya. Sedang Ndoro Kakung, sudah dikenalnya sejak lama, karena Helmy punya pengalaman panjang sebagai konsultan humas, seperti di Ogilvy, sedang Ndoro Kakung adalah wartawan Majalah Tempo juga kala itu. Sedang Joko Anwar juga sudah lama dikenalnya dari adiknya.

Menurut Helmy dalam membangun strategi ini, ia berbagi tugas dengan Astrid Warsito, anak buahnya waktu itu, yang kini didaulat sebagai Manajer komunikasi digital Acer Indonesia. Astrid mencari komunitas-komunitas, menjalankan tugas untuk engage dengan komunitas. Sedang Helmy, bertugas mengelola engage dengan para influencer blogger itu. Helmy juga dibantu oleh Mr Ong (Pendiri Maverick Consultant yang juga Blogger). Dari situ ia bertemu para influencer lain seperti Ollie, Pitra Satvika, Leony dan sebagainya. Serta Panji Wredakuswara, yang menurutnya adalah seorang penyanyi yang sangat cerdas, serta seorang blogger yang handal. “Saya juga gaet Saykoji, penyanyi rap, yang tidak pernah menggunakan Record Label besar, lewat You Tube dan Blog,” ujarnya.

 Menurutnya para influencer itu memiliki kekuatan yang membuat Helmy, mereka layak untuk diengage, karena pengaruhnya pada para followernya. Bukan sekadar untuk kepentingan dagang, tapi mereka ini menurut Helmy memiliki kelebihan-kelebihan yang terus diikuti followernya.

 Helmy mulai terinspirasi menggunakan strategi social media setelah ia membaca buku fenomenal, Advertising is Dead dan PR 2.0. Buku itu dibaca justru sebelum ia joint dengan Acer. Maka itu Acer menjalankan digital marketing ini sejak 2-3 tahun lalu. Ia mulai mencari anak buah yang bisa mendukung, anak buah yang sangat digital. Helmy menemukan Astrid melalui Facebook juga. Dan Helmy menemukan anak-anak buah berikutnya juga melalui digital juga.

Sebelum Helmy joint dengan Acer yang dilakukan perusahaan ini hanyalah beriklan. Ia sangat percaya bahwa komunikasi adalah dua arah. Ia melihat produk yang ditawarkan adalah produk teknologi, yang orang tidak bisa dicekoki hanya dengan iklan. Sebab komputer itu harus ada interaksi, bukan hanya orang yang paham teknologi yang membeli Acer, juga yang tidak tahu apa-apa. “Maka itu saya pikir digital marketing penting,” ujarnya.

Menurut Helmy, kala orang mencari produk teknologi seperti yang dikeluarkan Acer, orang bukan lagi melihat iklan, tapi mencari ke online. Searching di internet, yang paling sering juga bertanya ke orang lain atau temannya. “Saya pikir orang kini makin mandiri dalam menentukan pilihan, mereka akan mencari tahu produk apa yang mau dia beli,” ujarnya. Ia melanjutkan orang makin tahu apa yang mereka mau, mereka tidak akan bergantung pada orang lain untuk produk yang akan mereka beli. Semua online, informasi ada di sana, mereka akan banyak mencarinya di sana.

Itulah mengapa pihaknya merasa penting akhirnya melalui strategi digital marketing. “Kami mulai meramaikan Pesta Blongger yang kala itu sudah ada sebelumnya,” ujarnya. Namun demikian, Acer tidak akan memilih blog yang hanya sekadar sama dengan website Acer yang dibangun perusahaannya. Yang isinya adalah informasi produk. “Blog itu lebih humanais, blogger itu yang membantu kami menjelaskan setiap produk baru kami,” ujarnya.

Mengapa mereka menggunakan digital marketing? “Kami ini brandnya sudah tinggi awareness, jadi yang kami butuhkan engagement. Acer sudah number one, harus ada yang menyampaikan mengapa Acer number one,” jelasnya. Seperti pada peluncuran notebook ultra tipis Espire S3, mereka mengundang begitu banyak blogger. Mereka ini yang dengan cepat menjelaskan saat acara peluncuruan melalui akun-akun twitternya apa itu Ultra book mereka itu. Mereka juga menulisnya lewat media blognya. “Mereka menjadi buzz untuk apa yang kami lakukan,” tuturnya.

Menurut Helmy, mereka bukan sekadar menggandeng blogger dan menyusun strategi social medianya, tapi juga memastikan informasi produk itu disampaikan dengan baik melalui media tersebut. Orang yang membeli notebook itu cukup melek teknologi, maka itu Helmy yakin mereka tidak akan asal dalam memilih sebuah notebook. “Sejak awal maka itu kami menggunakan digital marketing bukan sekadar tools, tapi sebagai bagian dari komunikasi dua arah,” jelasnya.

Helmy menegaskan masih banyak yang harus digarap Acer bukan sekadar menjadi nomor satu. Apalagi penetrasi IT di Indonesia hanya 5%, sehingga masih rendah untuk bisa penetrasi lebih luas dan perlu edukasi pasar. Maka itu menurutnya pihaknya memerlukan orang-orang atau komunitas yang bisa membantu mengedukasi pasar. “Seperti kami menggandeng komunitas dengan Guru Era Baru ,” ujarnya. Atau melalui blogger yang influencer seperti Ollie melalui gerakan nulis buku.com, melalui akun twitter @nulisbuku dan komunitasnya, mereka mengajak orang untuk senang menulis buku. “Tentu dalam menulis dibutuhkan teknologi bisa menggunakan notebook,” ujarnya.

Acer Indonesia merasa belum apa-apa dibanding negara lain. Apakah kampanyenya di digital marketing dan social media berhasil? Menurutnya tidak bisa langsung ditarik dari penjualan. “Netbook di Indonesia itu yang paling besar hingga kini, negara lain sudah tidak. Awareness is there,” tuturnya. Apa yang mereka pikirkan bukanlah jualan, tapi what next dari membangun brand. “Acer saat ini sudah di mana-mana, yes we are spread,” ujarnya bangga. Ada satu hal yang menurut Helmy adalah PR, apa selanjutnya bagi Acer setelah berhasil di digital marketing.

Menurutnya, melalui dunia digital marketing ia bisa mengetahui siapa sesungguhnya realy Spacer (spacer adalah mereka yang penggemar loyal produk Acer). “Dulu kami adalah mengakuisi, kami mulai me-retain,” tuturnya. Jadi saat ini kala ada “sesuatu yang negatif” atau komplain, justru orang lain lah yang menjelaskan bagaimana dan menangani problem itu. Atau ada orang yang me retuit (RT) komplain itu lalu dihubungkan ke akun twitter @AcerID, agar bisa dijawab komplaninya. “Kadang komplainnya karena ketidaktahuan mereka bukan karena produknya,” tuturnya.

Helmy menegaskan bahwa mereka meminta blongger mereview produknya, bukan untuk puja-puji bagus produknya. Tiap blogger punya minat sendiri-sendiri untuk mereview produk baru tersebut. Setelah mereka menulis tentang produk tersebut, para blogger tersebut langsung melink tulisannya ke blog Acer (website dengan alamat www.acer.co.id dan blog Acer dengan alamat www.acerid.com ). “Sekali lagi kami menggunakan digital marketing bukanlah sebagai tools, tapi sebagai cara untuk komunikasi dua arah,” tegasnya. Website berisi gambar produk, semua bahasa marketing tentang produk. Sedang Blog Acer menurut Helmy dibuat khusus yang menjelaskan produk Acer lebih “humanis”.

Helmy mengaku dulu manajemen dan atasan tidak percaya bahwa blogger bisa menjadi bagian dari strategi komunikasi mereka. “Dianggapnya sebagai kumpulan orang yang suka menulis saja,” kenangnya. Jadi Helmy waktu itu menggunakan “jurus” cerewet untuk meyakinkan manajemen bahwa digital marketing bisa dijalankannya pada setiap rapat. Awalnya budget untuk mendukung Pesta Blogger yang Acer ikut mendukung sebagai sponsor, misalnya dalam bentuk barang (produk Acer), berikutnya sudah didukung dengan uang dan barang. (Herning Banirestu/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)