DYSE 2013 Roketkan Mahasiswa jadi Wirausahawan Sosial

Tahun ini, menjadi wirausahawan makin 'ngetop' saja. Sudah muncul berbagai tipe wirausaha, mulai dari creativepreneur, beautypreneur, sampai socialpreneur. Nah, yang terakhir ini baru saja diramaikan oleh Groupe Danone Indonesia, lewat kancah Country Final Danone Young Social Entrepreneur (DYSE) 2013 yang digelar pekan lalu.

“Ajang ini merupakan kegiatan kompetisi bisnis untuk mahasiswa yang diperkenalkan tahun 2013 dalam model pertama. Peserta datang dari 12 universitas berbeda, baik negeri maupun swasta dan sebagian besar di pulau Jawa,” ujar Project Leader DYSE 2013, Kusuma Adisaputra, tentang kompetisi yang dulunya berupa game Danone Trust ini. Bedanya, konsep DYSE mengedepankan bisnis sosial yang memberdayakan masyarakat sekaligus berorientasi laba (profit oriented).

Suasana menjelang pengumuman pemenang DYSE 2013

Faktor utama wirausaha sosial dalam DYSE 2013 adalah kemampuan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Maka, setiap tim peserta yang beranggotakan lima orang mahasiswa berperan layaknya dewan direktur di unit usaha yang sedang dirancang. “Para mahasiswa ini diharuskan melakukan SWOT analysis, menentukan strategic direction, action plan serta profit & loss estimate untuk ide bisnis sosial yang mereka ajukan,” lanjut Kusuma.

Sementara itu, juri DYSE 2013, Goris Mustaqim mengemukakan bahwa wirausaha sosial mengandung 2 faktor berbeda. “Pertama, apa masalah sosial yang hendak ditanggapi? Kedua, apa pola bisnis (business model) yang perlu dijalankan untuk menanggapinya?” tegas pendiri Yayasan Asgar Muda yang lahir di Garut ini. Menyoal kemunculan tren wirausaha sosial di Indonesia, Goris agak menyesalkan mengapa baru belakangan ini orang muda rajin membahas hal ini sebagai jawaban untuk pemberdayaan ekonomi penduduk.

Adapun sejak tahap awal DYSE 2013 pada Oktober 2012 lalu, dari 100 tim yang saling bersaing, terjaring 5 tim pemenang akhirnya. Mereka yang beruntung adalah tim Bima Sakti dari Unpad, Ganapati dari ITB, Soul'Darity dari STIE Prasmul, Drupadi dari UGM, dan Majapahit dari Unpar. Ide kelima tim ini tak kalah kreatif dan inovatif satu sama lain. Sebut saja Drupadi yang menggagas usaha mode ramah lingkungan yang menggandeng para transeksual asal Kota Pelajar. Ide tersebut tak kalah dari Bima Sakti yang merancang industri rumah tangga nugget jamur dengan tenaga kerja mantan penghuni lapas. Ataupun ide Ganapati untuk merangkul ibu rumah tangga Desa Ciwidey, Jawa Barat untuk mengolah stroberi jadi keripik dan gula-gula.

Suasana pengumuman pemenang DYSE 2013

Bima Sakti melenggang sebagai pemenang utama, disusul Ganapati dengan nilai akhir yang terhitung ketat. Bersama ketiga tim lainnya, Bima Sakti dan Ganapati diganjar dana Rp 15 juta untuk menguji coba konsep bisnis berikut bantuan operasional kuliah hingga Desember 2013. Meski demikian, hanya juara pertama yang berhak mengunjungi kantor pusat Danone di Paris, Prancis.

Human Resource Director PT Sari Husada Generasi Mahardika, Evan Indrawijaya, berharap DYSE 2013 mendorong Indonesia makin kuat karena trend wirausaha sosial di kalangan orang muda. Adapun Sari Husada merupakan 1 dari 5 perusahaan milik Groupe Danone Indonesia di samping PT Tirta Investama, PT Danone Dairy Indonesia, PT Nutricia Indonesia, dan PT Nutricia Medical Nutrition.

Sementara itu, Kusuma punya harapan khusus. “Saya ingin ajang ini jadi titik tolak bagi mahasiswa pendatang yang jadi finalis DYSE 2013 agar termotivasi membangun daerah masing-masing,” tandasnya pada SWA online. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)