Eksotisme Filosofi Kopi Bangun Rasa Lokal Indonesia

Filosofi Kopi hadir pertama kali lewat novel karya Dewi Lestari berjudul sama. Di tahun 2015, novel laris Indonesia ini diangkat ke layar lebar oleh Angga Dwimas Sasongko yang bercerita tentang pencarian jiwa dan perjalanan berdamai dengan masa lalu melalui kopi. Dibintangi Rio Dewanto dan Chico Jericho, di film ini keduanya membangun kedai kopi bernama Filosofi Kopi yang akhirnya juga diwujudkan dalam dunia nyata.

Rio Dewanto

Mengambil angle dunia kopi Indonesia, Filosofi Kopi dalam kehidupan nyata dibangun oleh empat pria yang juga terlibat di film layar lebar. Mereka adalah Rio Dewanto, Chico Jericho, Angga Dwimas Sasongko, dan Handoko Hendroyono. Produk kopi Indonesia menjadi pasar yang seksi bagi mereka. Multikulturalisme yang ada di Indonesia memberikan keberagaman budaya dan kekayaan alam yang melimpah, salah satunya lewat jenis kopi yang dihasilkan.

Filosofi Kopi hadir dengan membawa nilai tersebut dalam brand yang dimilikinya. Brand Indonesia terbilang cukup eksotis karena bersinergi dengan budaya aslinya. Salah seorang pendiri Filosofi Kopi, Rio Dewanto, begitu setuju dengan anggapan bahwa Indonesia hadir dengan brand yang memberikan ciri eksotis negaranya. “Ini menjadi potensi besar untuk negara kita. Kita harus siap untuk menciptakan, memelihara, dan membesarkan sebuah brand eksotis asal Indonesia,” kata Rio. Baginya, cirikhas dan keunikan menjadi faktor utama yang dibentuk sebuah brand. Otentisitas brand untuk tidak meniru yang lain dapat menjadi nilai jual tersendiri. Rio juga mengungkapkan bahwa menjadi original adalah yang terbaik dan jika berani tampil beda, tetap di arah yang benar.

Ditanya tentang keunikan Filosofi Kopi, Rio menjelaskan bahwa dia dan teman-temannya mengusung kearifan lokal (local wisdom). Menjual biji kopi lokal dan tidak ada kopi impor menjadi keputusan Filosofi Kopi menjalankan bisnisnya. “Kami selalu menjaga hubungan baik dengan petani lokal yang kita miliki. Beans yang kami ambil langsung ke mereka kemudian diolah partner kami di Semarang,” ujarnya. Filosofi Kopi tak sekadar menjalankan bisnis, lebih jauh lagi mereka juga membina kelompok tani di beberapa daerah seperti Malabar, Pangalengan, Sumatera Gayo, Lampung, Flores, dan Manggarai. Ke depannya, Filosofi Kopi akan melakukan pendekatan untuk pertanian kopi di Papua.

Dalam membangun usaha kedai kopinya, Rio berusaha sedetail mungkin merencanakan kebutuhan bisnisnya. Perhitungan yang matang tentang bisnis sangat dibutuhkan untuk keberlanjutan (suistainability)-nya. “Tak hanya memperhitungkan soal passion, bicara bisnis sudah pasti bicara soal keuntungan. Membuat perhitungan detail, mulai dari soal urusan modal, pasokan barang, pemasok, hingga pilihan komoditas yang akan Anda jual adalah hal yang sangat sulit,” ungkapnya. Beberapa kepala sebagai teman brainstroming dibutuhkan untuk berpikir soal menciptakan kualitas dan bisnis, dan ini sekaligus menjadi tantangan yang sulit saat harus mempersatukannya.

Filosofi Kopi senantiasa menghadirkan inovasi dan karya yang berkesinambungan. Pasar bisa diciptakan melalui karya yang ada. Filosofi Kopi berusaha menjadi brand yang besar dengan inovasi dan promosi yang tepat. Konsep yang mereka bangun, kearifan lokal, diimbangi dengan kualitas produk dan layanan yang baik. “Kami juga senantiasa membangun jaringan untuk memperkenalkan merek, salah satunya pembuatan website atau blog untuk meningkatkan citra brand. Ini juga bagian menjawab digitalisasi,” kata Rio.

 

Reportase: Akbar Kemas

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)