Ekspor Maspion Ke Amerika dan Eropa Tetap Tumbuh

Kelesuan ekonomi yang berkepanjangan di Negeri Paman Sam, dan tergelincirnya Eropa ke krisis utang, ternyata tidak membuat ekspor Group Maspion ke dua kawasan itu menciut. Ekspornya tetap tumbuh dan semakin besar. Bagaimana lika-liku ekspor yang dilakukan Maspion, berikut wawancara Suhariyanto dari SWA dengan Presiden Direktur Grup Maspion, Alim Markus:

Alim Markus, Maspion Alim Markus

Bagaimana perkembangan pasar ekspor Maspion dalam 3 tahun terakhir?

Alim Markus: Bagus. Tiap tahun terus mengalami perkembangan, tumbuh 15% per tahun. Begini. Di Negara Cina, eksportir di subsidi. Berapapun yang diekspor, akan memperoleh paling tidak 15%. Di kita kan tidak begitu. Kita kena PPN 10% dan bea masuk 5%. Seharusnya, selain bea masuk 5% dikembalikan, yang 10% juga harus dikembalikan ke pengusaha.

Lagi, kalau misalnya ada pemeran di Chicago, Amerika Serikat, pemerintah harusnya menyiapkan tempat dan memberi fasilitas transportasi. Untuk pengusah kecil, di-free-kan. Pengusaha besar, supaya diringankan biaya sewa tempatnya. Selama ini kan tidak begitu.

Pasar terbesar ekspor Maspion ke negara mana?

Ke Amerika Serikat. Hampir 90% pasar kita mengarah ke sana. Baik yang alumnium sheet, foil maupun alat-alat rumah tangga.

Di AS sepertinya fasilitas Generalized System of Preferences (GSP), 3%, di-suspend?

Ndaak. Itu sudah berlaku kembali. Kita sudah mendapatkan fasilitas itu lagi. Senat sudah menyetujui berlaku kembali GSP untuk kita. Itu hanya berlangsung sebentar. Dan pencabutan itu berlaku surut. Semua bea masuk yang telah dibayarkan, dikembalikan lagi ke pembeli oleh AS. Hanya, memang kadang-kadang ada buyer yang memanfaatkannya. Misal, dengan menyebut bahwa kita masih dalam status GSP-nya sudah dicabut.

Bagaimana pengalaman Maspion dalam memasuki pasar ekspor? Bagaimana cara Maspion menentukan bahwa customer memiliki kualifikasi baik, tidak suka ngemplang, dan lain sebagainya?

Kita pakai sistem. Sistemnya yang saya buat.

Bisa digambarkan lebih detail tentang sistem itu?

Begini. Yang paling penting itu, jangan sampai barang itu lolos. Dalam arti, diambil oleh pembeli sebelum membayar. Caranya, dokumen-dokumen penting, kita kunci semua. Seandainya ada pembeli ngemplang, paling buruk kita rugi ongkos kapal untuk menarik kembali produk kita ke Indonesia.

Dokumen penting apa saja?

B/L, Bill of Lading. Yaitu tanda terima barang yang telah dimuat di dalam kapal laut, yang juga merupakan documents of title. Yang berarti sebagai bukti atas pemilikan barang, dan bukti adanya perjanjian pengangkutan barang-barang melalui laut. Bill of Lading (konosemen) merupakan dokumen pengapalan yang paling penting karena mempunyai sifat jaminan atau pengamanan.

Pihak-pihak yang tercantum dalam B/L adalah :
- Shipper yaitu pemilik kapal yang dalam banyak hal merupakan pengirim L/C (beneficiary).
- Consignee, yaitu pihak yang merupakan penerima barang di mana kepadanya akan diberlakukan tentang saat tibanya barang.
- Carrier, yaitu perusahaan pelayaran yang mengangkut barang tersebut.
- Notify Party, dalam hal ini ditetapkan siapa saja yang terdapat dalam L/C tersebut.

Fungsi B/L setidaknya ada tiga:
- sebagai tanda penerimaan (kuitansi) barang-barang yang diterima oleh pengangkut (carrier) dan pengirim barang (shipper) ke suatu tempat tujuan tertentu dan selanjutnya barang-barang tersebut diserahkan kepada pihak penerima (consignee)
- Sebagai bukti kepemilikan atas barang, B/L menunjukkan hak pemilikan atas barang-barang dan tanpa B/L tersebut seseorang atau orang lain yang ditunjuk tidak dapat menerima barang-barang yang disebutkannya di dalam B/L yang bersangkutan dari perusahaan pelayaran.
- Sebagai bukti adanya perjanjian pengangkutan dan penyerahan barang-barang antara pihak pengangkut dengan pengiriman.

Bagaimana cara melakukan kontrolnya?

Ada dua. Kalau melalui bank, melalui LC. Biasanya kita minta customer mengambil seluruh dokumen melalui bank. Dari situ, nanti bank akan memberikan dokumen apabila sudah melakukan pembayaran sesuai dengan nilai yang ada di dokumen. Kemudian berbekal dokumen tersebut, barang bisa dikeluarkan dari pelabuhan. Terus, yang melalui pembayaran kontan-kontan. Ya kita terima dulu, terus barang kita kasih.

Kalau yang kontan, berapa DP yang harus dibayarkan?

Tergantung kesepakatan. Ada yang 60%, 50%, 40%, 30%. Paling rendah 30%. Namun kalau barang yang diminta sifatnya khusus, kita minta pembayaran 100%. Teknisnya seperti ini. Setelah DP masuk, barang kita kirim. Fotokopi bukti pengiriman itu kita kirim ke buyer. Dan, minta supaya dilakukan pelunasan. Kalaupun tidak melunasi, barang kita kirim balik. Kan total biaya transportasi tidak sampai 30% dari total harga barang.

Bagaimana ceritanya sehingga Maspion memutuskan memegang B/L? Apakah pernah punya pengalaman dikibuli buyer?

Tidak. Kami belajar secara otodidak. Sebelum ekspor, kita belajar dulu dan banyak bertanya. Mana saja kelemahan-kelemahan ekspor. Di situ kita kunci semua. Jadi, kita enggak sampai dikibuli oleh buyer.

Terkadang buyer bilang bahwa barang yang kita ekspor ada cacatnya. Padahal tidak demikian?

Kita minta foto sebagai bukti. Dan, barang yang rusak itu supaya dikirim kembali. Nanti kita cek apa penyebab kerusakan itu.

Bukankah hal itu menambah biaya yang harus ditanggung?

Resiko bisnis. Apalagi dengan Amerika. Kita enggak bisa macam-macam. Kita kan jual produk high end. Kalau didapati barang defect (cacat), ya kita ganti.

Kadang mereka kan bersilat lidah saja. Tujuannya satu: meminta diskon...

Kalau buyer di negara-negara maju, jarang yang seperti itu. Yang banyak terjadi, justru pada buyer-buyer yang berada di Arab. Trik mereka memang selalu begitu. Dia bilang barang kita jelek, terus minta diskon. Dari pengalaman itu, kita kunci di dokumen. Sistem kita kunci. Jadi mereka enggak bisa macam-macam.

Pengalaman paling buruknya menghadapi negara Arab?

Tidak semua begitu. Itu sifatnya individual buyer. Bukan negara.

Bagaimana ceritanya?

Itu di Yaman. Saat itu, sekitar 10-an tahun lalu, barang kita sudah keluar. Tapi dokumen asli masih di bank. Jadi, itu ada kerjasama antara pelayaran dan pembeli. Rupanya mereka kenal baik. Sehingga barang dikeluarkan begitu saja walau tidak didukung oleh dokumen.

Bagaimana Maspion menghadapi situasi seperti itu?

Sejatinya kita bisa klaim ke pelayaran. Cuma waktu itu kita kan kenal pembelinya. Kita bicara langsung. Selang 9 bulan, akhirnya dilakukan pembayaran US$ 90 ribu.

Apakah pernah kita sampai mem-black list customer?

Tidak pernah. Kita bangun sistem. Sehingga buyer yang masuk akan tersisir dengan sendirinya.

Bagaimana perkembangan ekspor Maspion dalam 3 tahun terakhir?

Rata-rata naik 10-15%.

Bagaimana strategi memasuki pasar ekspor?

Kita ikuti pameran-pameran. Dan, produk-produk kita sendiri yang sudah ada di pasar ekspor, ikut pula mempromosikan. Dari situ, buyer datang.

Ke depan, apa strategi pasar ekspor Maspion? Menambah negara lain? Atau memperkuat pasar yang sudah ada?

Kita fokus di Amerika dan Eropa.

Eropa kan kena krisis. Kita kan kena dampak juga. Pasar menurun.

Benar. Tapi masih tetap tumbuh. Karena tujuannya pasarnya tidak hanya Eropa. Eropa itu mirip pintu masuknya. Barang kita malah mengalir ke negara-negara lain melalui Eropa.

Saat ini Bapak kan sudah senior. Apa saja wisdom bisnis Bapak?

Yang penting, kita harus bisa merebut oder yang dimiliki Cina. Mereka ekspornya kan terus naik. Kemana-mana tujuan ekspornya. Nah, sekarang ini kan semua faktor produksi di Cina kan naik juga. Nanti, mereka akan jual dengan harga lebih mahal. Itu kita harus bisa merebut.

Di internal bisnis sendiri, apa wisdom yang Bapak sampaikan?

Tentunya, bagaimana caranya agar bisa cost down.


Disisi manajeman, bagaimana pengelolaan yang paling efektif?

Omzet kita harus besar. Supaya kita bisa mass production. Sehingga bisa memperoleh cost down. Akhinya, yang domestik bisa menopang yang ekspor.

Untuk generasi penerus Maspion, bagaimana persiapannya?

Ya, berjalan seperti biasa.

Apakah anak-anak sudah mulai dilibatkan di Maspion?

Sudah.

Anak siapa saja?

Anak saya, anak Alim Soegiarto, anak Alim Satria, anak Alim Mulia Sastra. Semua sudah dilibatkan. Dilibatkan di bagian berbeda-beda.

Kalau keluarga Pak William, anak-anaknya diharuskan berkarier di tempat lain dulu, baru masuk ke Wings. Apakah di Maspion juga demikian?

Itu banyak macem. Enggak harus seperti itu. Karena di kita, internal boleh ikut. Tapi gajinya tidak tinggi-tinggi. Itupun juga diseleksi oleh saya, Alim Mulia Sastra, Alim Satria dan Alim Prakasa. Terus kita sampaikan. Ini gajiannya. Ini pekerjaannya. Dan lain sebagainya. Kalau ingin, misalnya gaji lebih tinggi, ya harus menonjol. Nah, di sanalah prestasi harus ditunjukkan.

Apakah anak-anak generasi pertama harus disekolahkan ke luar negeri dulu baru boleh masuk Maspion?

Enggak seperti itu.

Bagaimana transfer pengetahuan dan nilai-nilai ke generasi selanjutnya?

Ya harus terjun sendiri. Seperti misalnya, kalau ingin belajar berenang kan harus terjun. Jadi ya harus masuk. Ikut kerja. Dari situ, otomatis akan tersampaikan visi dan misi perusahaan. Pengalaman kan dari praktek. Mana ada pengalaman dari buku. Buku kan selalu bilang 1+1=2. Praktek kan tidak selalau demikian.

Kira-kira kapan peralihan ke generasi ke-2?

Maspion nanti akan dikelola oleh owner dan profesional, bagusnya fivety fivety.

Maksudnya?

Owner yang mengelola itu separo. Jangan terlalu banyak orangnya, separonya lagi berasal dari profesional.

Dari generasi ke-2 yang sudah dilibatkan, siapa yang paling menonjol?

Masih belum ada yang menonjol…

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)