Emil Salim: Ubah Aturan Pemasaran untuk Pembangunan Berkelanjutan!

Belakangan perekonomian Asia khususnya Indonesia sedang menjadi pusat perhatian dunia. Begitu menariknya wajah perekonomian Indonesia hingga para investor masuk berbondong-bondong mengembangkan industrinya. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat, biasanya dibarengi juga dengan perusakan lingkungan.

Prof.Dr. Emil Salim dalam kuliahnya yang bertajuk Indonesia Update: The Growth, Prospect, and Sustainability menekankan pentingnya perubahan pola pikir marketing yang berkelanjutan. Ketua Dewan PErtimbangan Presiden RI ini mengemukakan bahwa total populasi global 2011 telah mencapai 7 miliar jiwa dan menghasilkan US$ 70 triliun. Angka ini diperkirakan meningkat hingga US$ 200 triliun untuk 9 miliar orang pada 2050.

Kakek empat cucu tersebut juga memaparkan bahwa pergeseran pasar telah terjadi. Mengutip data IMF, pangsa pasar Uni Eropa menurun dari 31 persen pada 1980 menjadi 20 persen pada 2011. Prosentase tersebut diperkirakan akan turun lagi hingga 17 persen pada 2017. Ini artinya pusat gravitasi ekonomi global saat ini berada di Asia.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi berarti konsumsi energi juga meningkat. Sumber daya yang digunakan untuk ekonomi terbukti melonjak dari 9 miliar ton di tahun 1980 menjadi hampir 18 miliar ton pada 2005. Akibatnya, emisi karbon dan pencemaran lingkungan pun sulit dihindari. Inilah yang menjadi titik balik Emil Salim menggalakkan pemasaran yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan.

"Kita ini hidup di garis ekuator. Kita punya garis pantai yang sangat panjang, matahari bersinar sepanjang tahun, barisan gunung berapi dimana-mana, jadi sumber energi kita sebetulnya banyak. Tidak cuma BBM," tandas Emil. Bagi pria kelahiran Sumatera Utara 82 tahun lalu ini masyarakat Indonesia terlalu bergantung dengan BBM yang menghasilkan tingginya emisi karbon.

"Orang terlalu khawatir BBM naik, terbawa isu politik. Padahal kita bisa kembangkan sumber energi lain seperti geothermal," kata Emil. Menurutnya, geothermal selama ini tidak bisa dikembangkan karena BBM memang lebih murah. Meski begitu, lanjut Emil, sebetulnya geothermal jauh lebih murah. Hanya saja modal awalnya memang besar.

Oleh karena itu dalam perayaan ulang tahun MarkPlus ke-22 Emil meminta para pelaku pasar untuk mengubah aturan pemasaran. Ia ingin pemasaran bisa berpikir ke depan, mempertimbangkan apa yang akan diperoleh anak-cucu mereka dengan mendukung pembangunan berkelanjutan. Suami Riisminnie Roza salim ini menghendaki pemasaran mengubah cara menghasilkan uang salah satunya dengan marketing perdagangan karbon.

"Please develop marketing for sustainable development!" pungkas Emil Salim.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)