Financial Inclusion Mandiri Masih Harus Kejar Target

Financial inclusion di Indonesia memang pertumbuhannya termasuk lambat. Data menunjukkan, sejak bank pertama kali berdiri di Indonesia sekitar 3 abad yang lalu hingga saat ini baru tercatat 60 juta nomor rekening. Hal ini memang sedikit ironis jika dibandingkan dengan telecommunication inclusion, sejak telepon genggam diperkenalkan pertama kali 20 tahun lalu hingga saat ini sudah tercatat ada 200 juta orang Indonesia memiliki nomor telepon genggam.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah mengeluarkan program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai). Semua bank digerakkan untuk mengaplikasikan program ini, termasuk PT Bank Mandiri Tbk.

transaksi-bank-mandiri

Bank Mandiri merealisasikannya dengan beberapa program, di antaranya adalah LKD (Layanan Keuangan Digital) 'Rekening Hape'. Khusus untuk 'Rekening Hape', Mandiri menargetkan 1.750 nasabahnya akan menjadi agen hingga akhir 2015 nanti. Agen tersebut dibutuhkan untuk melayani nasabah Rekening Hape yang diperkirakan mencapai 200 ribu dalam periode yang sama. Dengan memiliki rekening hape, masyarakat khususnya kelas menengah bawah yang jauh dari bank bisa melakukan transaksi menabung dan tarik tunai lewat agen terdekat. Mereka yang masuk dalam daftar BLT pun tidak perlu lagi mengantri ke bank atau kantor pos, karena dana BLT bisa langsung di transfer ke nomor rekeningnya.

Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, pihaknya sebenarnya telah lama menginisiasi konsep financial inclusion, “Konsepnya kami sudah duluan, sekitar tahun 2008, tetapi waktu itu kami terbentur pada jumlah cabang dan belum menemukan jalan keluar dengan teknologi digital seperti saat ini,” jelas Budi.

Budi mengisahkan, pada tahun 2008, ketika Mandiri akan mengadopsi konsep financial inclusion dari salah satu negara di Amerika Latin, mereka terbentur pada jumlah cabang yang hanya 20 ribu, menurut konsultan Mandiri saat itu, dibutuhkan minimal 300-400 ribu titik cabang untuk bisa meng-cover penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta orang. “Semula kami masih tidak percaya, dan mengonfirmasi dengan para pemain ritel dan FMCG berapa banyak mitra seperti supermarket, toko dan warung yang dibutuhkan untuk bisa menyebarkan produknya hingga ke pelosok Indonesia, ternyata jawabannya 300-400 ribu, dari situ kami yakin memang dibutuhkan titik cabang sebanyak itu untuk mewujudkan financial inclusion,” jelas Budi.

Tetapi kini teknologi telekomunikasi telah menjawab kebuntuan tersebut. Meski demikian menurut Budi, Mandiri masih harus mengejar target untuk menambah jumlah agen LKD sehingga bisa mengcover unbanked people di seluruh Indonesia. Hingga Apri 2015, agen LKD Rekening Hape Bank Mandiri baru terdapat 41 agen untuk melayani sekitar 1.500 pengguna yang telah terdaftar di tiga kota/kabupaten di Jawa Barat yaitu Bandung, Garut dan Tasikmalaya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)