Flokq Akomodir Penghuni Co-living di Tengah COVID-19

Sejalan dengan makin merebaknya pandemi COVID-19, makin banyak pula orang yang memutuskan tinggal di dalam rumah untuk bantu memutus rantai persebarannya. Para pekerja didorong untuk bekerja dari rumah, meskipun beberapa di antaranya masih diharuskan bekerja di luar rumah mereka. Berdasarkan data Pemerintah DKI Jakarta, dari keseluruhan pekerja berusia dewasa yang berdomisili di Jakarta, 2 juta di antaranya masih berstatus sebagai lajang.

Meskipun beberapa di antaranya mungkin saja masih tinggal bersama keluarga, para pekerja yang kebanyakan berasal dari luar kota ini harus menghadapi kenyataan untuk tinggal sendirian di kost atau apartemen mereka, akibat anjuran untuk tidak melakukan mudik ke kampung halaman ataupun keharusan untuk tetap diam di Jakarta karena faktor pekerjaan.

Meski hidup sendirian mungkin saja tidak menantang secara fisik dan mental pada waktu normal, hal itu bisa berubah 180 derajat di masa pandemi. Sehubungan dengan itu, Flokq telah berbicara dengan beberapa pekerja lajang di Jakarta tentang masalah yang mereka hadapi ini, dan bagaimana mereka mengatasinya.

Karena kebanyakan pekerja lajang di Jakarta tinggal di kost sendirian, mereka pun mulai mengalami konsekuensi dari isolasi sosial yang sedang gencar diberlakukan saat ini. Ann, yang tinggal di sebuah kost di Senayan, menceritakan bagaimana dia merasa kebosanan di kamar kostnya. "Hanya saya sendiri di dalam ruangan dengan layar dan lemari pakaian saya, tidak ada banyak hal untuk dilihat atau dilakukan,” kata Ann. Pengalaman seperi itu tidak hanya dialami oleh Ann, banyak cerita curahan kebosanan para penghuni kost lainnya yang bertebaran di platform media sosial.

Melihat kondisi ini, platform penyedia co-living atau hunian bersama, Flokq sejak awal 2020 lalu telah menawarkan solusi hunian bersama yang dilengkapi dengan layanan kebersihan dan fasilitas yang lengkap seperti dapur untuk memasak.

Pada awal 2020, Eko, Rulih dan Davin tinggal di kos yang terpisah, namun baru-baru ini memutuskan pindah ke apartemen co-living yang disediakan Flokq di Setiabudi. “Sedikit khawatir karena sesekali Rulih masih bekerja di luar, tapi dia langsung mandi begitu pulang. Pada akhirnya, rasanya nyaman saat Anda memiliki seseorang yang dapat diajak bicara secara langsung. Saya tidak tahu kapan bisa kembali nongkrong dengan teman-teman seperti biasanya,” jelas Eko.

Ketika ditanya tentang kekhawatiran terkena paparan virus menular, Eko berkata, “Saya memasak. Kadang berbagi makanan dengan teman flat. ” Dia menyebutkan bahwa operator co-living-nya, Flokq, membersihkan apartemennya setiap minggu, dan setelah pandemi, meningkatkan langkah-langkah keselamatan dan kesehatan mereka.

CEO Flokq, Anand Janardhanan dalam rilisnya mengatakan, keluar dari kost saat ini untuk pindah ke apartemen bersama beberapa teman tentunya bukanlah hal yang mudah. Namun, hal tersebut tidak lagi menjadi masalah dengan bermunculannya beberapa operator co-living baru belakangan ini; salah satunya Flokq.

"Berdasarkan pembicaraan dengan beberapa anggota Flokq, mereka merasa bersyukur memutuskan pindah ke hunian bersama hanya beberapa saat sebelum pandemi Corona dimulai. Salah satu dari mereka adalah Malti, yang beberapa bulan lalu pindah ke hunian co-living yang disediakan Flokq, dan saat ini sedang dalam masa karantina dengan dua teman flatnya," tutur Anand.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)