Gaikindo Proyeksikan Penjualan Mobil di Maret Akan Stagnan

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memproyeksikan penjualan mobil pada Maret 2015 akan stagnan, atau setidaknya sama dengan jumlah penjualan di Februari. Jongkie D. Sugiarto, Ketua I Gaikindo, mengatakan pihaknya masih optimistis penjualan mobil di tahun ini tidak turun cukup dalam.

Sebab, daya beli masyarakat masih bagus dan kondisi perekonomian masih stabil, meski nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat melemah. Konsumen, kata Jongkie, menunggu momen yang tepat untuk membeli mobil. “Penjualan di bulan Maret masih stagnan sekitar 88-an ribu unit lah,” kata Jongkie saat dijumpai SWA baru-baru ini. Sikap konsumen yang menunggu kondisi perekonomian terutama inflasi ditengarai sebanyak penyebab menurunnya permintaan.

Adapun, penjualan di Februari 2015 mencapai 88.738 unit. Dengan begitu, penjualan di bulan lalu mengalami penurunan dibandingkan Januari tahun ini sebanyak 94.194 unit. Meski mengalami perlambatan penjualan, Jongkie memperkirakan industri otomotif nasional tetap bergairah. Menurutnya, hal itu terlihat dari antusiasme prinsipil pabrikan mobil yang berinvestasi di Indonesia. “Industri pendukungnya, seperti suku cadang dan komponen otomotif banyak yang sudah merealisasikan investasinya di Indonesia,” kata Jongkie.

PT Denso Indonesia, misalnya, membenamkan investasi sekitar Rp 1,4 triliun untuk membangun pabrik ketiga di Bekasi, Jawa Barat, kemarin. Pabrik seluas 20 ha ini akan memproduksi beberapa komponen otomotif seperti ECU (engine electronic control unit) dan sistem kontrol VCT (variable cam timing), alternator, starter, busi, dan suku cadang lainnya. Sedangkan, PT Isuzu Astra Motor suzu Astra Motor Indonesia menggelontorkan investasi sebesar Rp 1,7 triliun untuk membangun pabrik baru di Karawang, Jawa Barat. Rencananya, Menteri Perindustrian, Saleh Husin pada April 2015 akan meresmikan pabrik Isuzu tersebut.

Penjualan Mobil di Maret 2015 Stagnan. (Foto : Hendra Syaukani/SWA). Penjualan Mobil di Maret 2015 Stagnan. (Foto : Prio Santoso/SWA).

Jongkie menambahkan jumlah penduduk Indonesia yang sebanyak 250 juta jiwa menjadi kekuatan penopang industri otomotif nasional. “Dibandingkan Thailand dan Malaysia, pasar otomotif kita lebih menjanjikan, bahkan pada tahun lalu penjualan mobil kita sudah melampaui Thailand dan bahkan Malaysia,” ucapnya.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan Indonesia, faktor pendorong pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia adalah peningkatan investasi, anggaran pembangunan infrastruktur pemerintah, dan pertumbuhan kelas menengah. Selain itu, kehadiran mobil-mobil LCGC (low cost and green car) akan mendorong penjualan otomotif nasional.

Kenaikan biaya impor otomotif memberikan dampak yang signifikan, seperti kenaikkan harga suku cadang. Ia juga mengatakan CBU impor, terutama mobil mewah, cenderung menjadi lebih mahal apabila mata uang rupiah tetap melemah. Pelemahan rupiah bisa menaikkan biaya impor untuk komponen dan suku cadang otomotif.

Sedangkan mobil LCGC relatif tidak terpengaruh lantaran kandungan komponen lokalnya sudah tinggi.Dalam 5 tahun ke depan, sektor otomotif Indonesia akan ditentukan oleh 5 faktor diantaranya LCGC yang berorientasi ekspor, persaingan otomotif dengan Thailand dan pasar tunggal ASEAN Frost & Sullivan memprediksi penjualan mobil pada 2015 akan menjadi 1.286.000 unit, atau tumbuh 5% dibandingkan tahun lalu sebanyak 1.208.019 unit.

Pengakuan Internasional

Jongkie mengatakan Gaikindo berupaya mendorong kinerja industri otomotif nasional, diantaranya menghelat pameran otomotif berskala internasional dengan nama Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015. Pengurus Gaikindo dan Seven Events, selaku penyelenggara, pada 3 Maret sudah mempresentasikan GIIAS 2015 ke Presiden OICA (Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles), Kim, Yong Geun di OICA Exhibition Committee Meeting di Jenewa, Swiss.

GIIAS 2015 yang mengusung tema “Smart Mobility for The Future” diklaim sebagai representasi tujuan jangka panjang industri otomotif Indonesia. Tujuan yang disasar adalah penggunaan bahan bakar yang lebih irit, ramah lingkungan, kenyamanan dan keamanan berkendara serta juga menggambarkan industri otomotif Indonesia yang dinamis dan terus bergerak.

Johnny Darmawan, Ketua Penyelenggara Pameran GIIAS 2015, yang ikut serta pada acara Exhibition Committee Meeting OICA, mengapresiasi tanggapan OICA terhadap perkembangan industri otomotif nasional.

Berdasarkan pertemuan tersebut, OICA memastikan GIIAS 2015 akan masuk dalam kalender resmi pameran OICA pada 2016. Untuk diketahui OICA mengeluarkan kalender resminya setiap 2 tahun sekali. Untuk tahun 2016, pameran GIIAS akan masuk kalender resmi pameran otomotif di Bangkok, Tokyo, Frankfurt, atau Paris. OICA juga menyatakan kesediaannya untuk hadir sebagai salah satu pembicara di acara Konferensi milik GAIKINDO, yaitu IIAC (Indonesia International Automotive Conference) GIIAS 2015 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD) pada 20-30 Agustus. Perhelatan otomotif edisi tahun ini diklaim sebagai pameran otomotif terbesar di kawasan Asia Tenggara. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)