Gajah Tunggal Terus Menanjak di Pasar Global

Berkat kinerja yang bagus di pasar Amerika dan Eropa, penjualan produk ban PT Gajah Tunggal meningkat: dari Rp 6,13 triliun pada semester pertama 2013, menjadi Rp Rp 6,56 triliun pada semester sama 2014. “Dan pada akhir 2014, kami targetkan penjualan kami dapat tumbuh 7 sampai 9%,” ungkap Catharina Widjaja, Direktur PT Gajah Tunggal Tbk., pada 27 Agustus 2014 lalu di Grand Indonesia, Jakarta.

Catharina Widjaja, Direktur PT Gajah Tunggal Catharina Widjaja, Direktur PT Gajah Tunggal

Bagi Gajah Tunggal, pasar ekspor memang lahan yang menantang digarap. Di pasar Asia, lanjut Catharina, mereka juga sudah berhasil masuk di pasar OEM untuk produk Proton di Malaysia, serta Mitsubishi dan Volvo untuk pabriknya di Thailand.

Selain itu, untuk dapat memenuhi pasar Eropa yang mulai menuntut produk dengan environmental standard, Gajah Tunggal juga sudah menyiapkan produk yang ramah lingkungan: Champiro Eco. Produk ini dapat disebut ramah lingkungan antara lain karena dalam pembuatannya mengunakan bahan kimia yang tidak menimbulkan kanker kulit bagi manusia, kalau digunakan tidak bising dan dapat hemat bahan bakar.

Menurut Catharina, Gajah Tunggal akan mengembangkan lagi produk yang ramah lingkungan seperti ini, serta produk inovatif lainnya, karena tuntutan pasar memang menghendaki demikian. Untuk itu, mereka juga sudah membangun fasilitas testing track untuk pengujian ban di Kerawang, yang diharapkan pada awal tahun 2015 tahap pertama fasilitas tersebut sudah jadi.

Untuk menunjang upaya yang terkait dengan komitmen pada lingkungan ini, Gajah Tunggal juga sudah menyiapkan reference manual untuk program corporate social responsibilty yang sustainable.

Saat ini, dengan menguasai 20% pangsa pasar di pasar lokal, Gajah Tunggal, menurut Catharina, "Kami menduduki nomer tiga dibawah Bridgestone dan Dunlop." Keduanya memang merek ban global.

Berbeda dengan pasar global, di pasar dalam negeri Gajah Tunggal harus menghadapi tantangan yang lebih berat. Dengan menurunnya industri pertambangan dan perkebunan, hal itu juga berdampak pada penjualan produk ban mereka pada para pemain di kedua industri tersebut. Apalagi, dengan menguatnya kurs dolar, harga bahan baku karet yang mereka pergunakan juga ikut terdongkrak naik. Hal inilah yang terutama mengakibatkan margin laba kotor perusahaan turun, dari 20,9% di semester pertama 2013, menjadi 16,7% di periode yang sama 2014, dan laba bersih perusahaan turun dari Rp 460 miliar pada semester pertama 2013, menjadi Rp 228 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Kendati menghadapi tantangan yang berarti di dalam negeri, Gajah Tunggal tetap optimistis dapat terus bertumbuh dengan gemilang pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Seperti disebutkan di atas, mereka menargetkan dapat tumbuh 7 sampai 9% dibandingkan tahun lalu.

Dan yang perlu dicatat, mereka juga terus berupaya memperkuat cengkeraman mereka di pasar dalam negeri. Untuk pasar mobil LCGC (low cost green car) misalnya, tutur Catherine, mereka sudah berhasil memasok 50 sampai 60% kebutuhan pasar. Itu umpamanya untuk merek Ayla, Agia dan Karimun.

Selain itu, kendati untuk pasar ban motor dalam mereka sudah mendominasi pasar OEM melalui merek IRC, mereka juga terus mengembangkan diri. Seperi dijelaskan Christopher Chan, Presiden Direktur Gajah Tunggal, mereka misalnya juga sudah mengembangkan merek baru, Zeneos, yang lebih diposisikan untuk menyasar segmen pengguna motor yang lebih muda. "Zeneos ini untuk pasar young generation dengan alur ban yang lebih sportif," ujar Cristopher. Dengan upaya ini, mereka berharap dapat terus memperkuat dominasinya di pasar ban motor.

Christopher Chan. Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk Christopher Chan. Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk

Ban IRC itu, tambah Christopher, punya alur ban yang memang disukai oleh generasi lama, jadi cocok untuk orang yang sudah lebih tua. Sedangkan Zeneos, dengan pendekatan motif alur ban yang berbeda, diharapkan tidak akan memakan pangsa pasar IRC. Selain itu, masuknya Zeneos juga diawali dengan varian tubeless. “Untuk tubeless ini kan punya segmen yang juga berbeda," pungkas Cristopher.

Ada lagi yang membuat Gajah Tunggal lebih optimistis dapat terus melaju. Pemerintahan baru, diperkirakan akan berkomitmen membangun infrastruktur, yang dampaknya akan sangat bagus bagi industri otomotif dan suku cadangnya – termasuk ban mobil dan motor. Dan dari sisi bahan baku, Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar di dunia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)