Gebrakan AIA Segarkan Mereknya

Kathryn Monika Parapak, VP Merek dan Komunikasi AIA Financial Indonesia (AIA Indonesia)
Kathryn Monika Parapak, VP Merek dan Komunikasi AIA Financial Indonesia (AIA Indonesia)

AIA Group Limited kembali membuat gerakan massal: meluncurkan inisiatif #OneMoreHour. Digelar pada 16 September 2019 di Hotel Mandarin Oriental, Singapura, dalam acara tersebut hadir sebagai pembicara utama: Stuart Spencer, Group Chief Marketing Officer AIA, dan Profesor Michael Cheedari, pakar tidur ternama di Asia dari Duke-NUS Medical School.

Dalam acara tersebut, Spencer memaparkan secara singkat inisiatif #OneMoreHour. Gerakan yang akan merambah negara-negara lain, termasuk Indonesia, ini dihadirkan karena ditemukan fakta di lapangan bahwa masyarakat di Asia mengalami pola tidur yang kurang baik. Untuk itu, inisiatif tersebut dirancang AIA untuk membantu mengatasi kekurangan tidur yang merupakan isu kesehatan yang serius di Asia.

Inisiatif #OneMoreHour akan meningkatkan kesadaran tentang manfaat kesehatan dari tidur yang cukup. “#OneMoreHour juga memberikan kiat-kiat, sarana, dan reward yang akan mendorong masyarakat mengubah perilaku mereka dalam mendapat tidur berkualitas yang lebih lama dan lebih baik,” kata Spencer.

Bersamaan dengan peluncuran inisiatif ini, Spencer juga memperkenalkan pembaruan AIA Vitality, program kesehatan berbasis sains, untuk mengapresiasi kebiasaan tidur lebih sehat. Aplikasi AIA Vitality akan memotivasi penggunanya untuk memperbaiki kebiasaan tidur melalui penilaian tidur dan reward berdasarkan pola tidur, serta alat untuk memantau pola tidur.

Kathryn Monika Parapak, VP Merek dan Komunikasi AIA Financial Indonesia (AIA Indonesia), mengatakan, inisiatif #OneMoreHour menjadi salah satu program AIA. Hal ini sejalan dengan tujuan AIA Indonesia, yaitu untuk membantu masyarakat Indonesia agar hidup lebih sehat, lebih lama, dan lebih baik. Itu sebabnya, pihaknya juga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan olahraga dalam upaya melakukan sport marketing.

Melalui inisiatif #OneMoreHour dan program sport marketing, Kathryn percaya, pihaknya bisa memasyarakatkan asuransi. Hal ini karena masyarakat Indonesia sangat menggemari sepakbola sehingga sport marketing ini bisa mendekatkan AIA Indonesia kepada masyarakat. Selain itu, AIA Indonesia juga membuat game terkait literasi finansial, salah satunya adalah Gocek. Gocek seperti sepakbola, tetapi pertanyaannya lebih berkaitan dengan literasi finansial, yang nantinya dimainkan oleh komunitas atau pada event sepakbola tertentu.

Tahun lalu, pihaknya menggelar program sepakbola di 13 kota. Dan, setiap tahun pihaknya mengadakan AIA Championship untuk komunitas sepakbola dari bank mitra AIA, klien, hingga anak sekolah. Khusus untuk anak sekolah, pihaknya pernah mencari 100 anak berusia 10-14 tahun untuk diberi coaching clinic di Phuket, Thailand sana. Sebagian dari orang tua anak-anak sekolah pun diberi program literasi finansial dulu.

Kami coba buatkan semuanya agar terintegrasi, bahwa anaknya mendapatkan pelatihan sepakbola dan orang tuanya pun mendapatkan pelatihan finansial,” kata Kathryn. Sepakbola dipilih karena AIA Global menjadi sponsor klub sepakbola Tottenham Hotspurs, Inggris.

Selain sport marketing, AIA Indonesia juga berupaya meningkatkan protection culture. Hal ini merupakan bagian dari upaya membangun pasar asuransi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya proteksi. Sebab, pasar asuransi di Indonesia penetrasinya masih rendah, sekitar 7%. “Jadi, tugas kami adalah meningkatkan literasi finansial melalui asuransi,” ujar Kathryn. 

Saat ini, AIA global telah menginjak usia ke-100 tahun dan AIA Indonesa berusia 23 tahun sehingga pihaknya terus menyegarkan merek dengan melakukan berbagai aktivitas pemasaran yang relevan dan membuat konten yang lebih fresh. “Kami merupakan brand yang berdiri berdasarkan purpose, yakni tujuan kami bukan tentang materi/profit saja, melainkan juga untuk membantu masyarakat agar bisa hidup lebih sehat, lebih lama, lebih baik, maka hal tersebut merupakan shared value,” kata Kathryn menjelaskan.

Berbagai aktivitas branding dan marketing yang telah dilakukan tersebut berdampak pada bisnis perusahaan. “Per Oktober 2019, kami telah melindungi lebih dari 1 juta nasabah di Indonesia, yang terdiri dari nasabah individu dan kumpulan. Nasabah individu kami banyak yang berasal dari usia 25-30-an tahun. Ada pula nasabah yang berasal dari bank mitra (bancasurance) seperti BCA, CIMB, Citibank yang memiliki profil nasabah mereka masing-masing dan sangat beragam,” ungkap Kathryn. Premi AIA Indonesia tumbuh 21% dari Rp 9,8 triliun pada 2017 menjadi Rp 11,9 triliun pada 2018.

Saat ini, AIA di Indonesia memiliki sekitar 5.000 agen pemasaran yang tersebar di seluruh Indonesia dan 1.000 tenaga pemasaran di bancasurrance. “Kantor kami berada di 13 kota yang terdiri dari customer service center, agency, dan bancassurance sales office, dengan tenaga pemasar yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Kathryn merinci. Yang pasti, AIA Indonesia akan selalu melakukan tracking kinerja dari setiap kampanya atau aktivitas pemasaran yang dilakukannya, sekaligus untuk selalu menyegarkan mereknya. (*)

Chandra Maulana dan Dede Suryadi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)