Gerakan Revitalisasi Rumah Adat Yori Antar

Yori Antar, founder program Rumah Asuh untuk merevitalisai rumah adat

Awalnya, karena penasaran. Saat itu, sekitar medio 2008,Yori Antar bersama teman-teman arsitek melakukan perjalanan ke Wae Rebo yang terletak di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka penasaran dengan daerah yang sebenarnya tidak ada dalam peta pariwisata di Indonesia, tetapi justru sering dikunjungi wisatawan mancanegara.

Informasi dari sebuah foto di internet menyebutkan, Wae Rebo seperti sebuah desa legenda yang berada di pelosok gunung dan tidak ada akses ke sana. Hal itu semakin menambah rasa penasaran Yori, dan ia pun bertekad menjejakkan kaki di desa itu.

Betapa kagetnya Yori, setiba di Wae Rebo, ia menemukan rumah tipe bulat kerucut yang begitu besar, dihuni oleh banyak keluarga. Rupanya itu adalah rumah adat yang tidak pernah tercatat dalam cerita-cerita atau dokumentasi arsitektur Nusantara. Sayangnya, jumlahnya sudah sangat menyusut. Dari tujuh rumah adat asli yang tersisa, tinggal empat yang masih utuh. Tiga rumah sisanya dalam kondisi rusak dan bocor di mana-mana.

Yori tersentak melihat pemandangan seperti itu. Ia pun melihat penduduk Wae Rebo begitu miskin dan mereka mengaku tidak bisa makan nasi. Seminggu sekali bisa makan nasi, itu sudah sesuatu yang mewah. Jadi, mustahil untuk melakukan perbaikan sendiri.

Maka, Yori tergerak untuk membantu masyarakat. “Sejak saat itu pun saya memutuskan pensiun jadi turis,” ujarnya miris. “Saya seolah-olah hanya mencari inspirasi melalui arsitektur-arsitektur Nusantara, tapi tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada masyarakat,” katanya menyesal. Padahal, masyarakat selama ini seperti sebuah stop kontak, diakses habis-habisan oleh antropolog dan arkeolog dalam dan luar negeri, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka hanya menjadi penonton.

Akhirnya, sepulang dari Wae Rebo, Yori dan teman-teman arsitek membuat program Rumah Asuh. “Dengan program ini, kami mengumpulkan sejumlah dana dari siapa saja yang tergerak. Kemudian, menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat melalui mekanisme yang telah diatur oleh mereka sendiri,” katanya. Dana yang terkumpul bisa dipakai untuk membangun rumah yang sudah hancur dengan metode yang sama saat nenek moyang mereka membangun rumah itu. Material, struktur, penutup atap, serta tata ruang dan fungsinya diusahakan sedapat mungkin mengikuti bangunan lama.

Akhirnya, setelah tiga tahun bergumul merevitalisasi, pada 2011, tujuh rumah adat Wae Rebo kembali utuh. Bahkan kemudian, pada 27 Agustus 2012, Wae Rebo mendapat penghargaan utama Award of Excellence dari UNESCO-Asia Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok setelah menyisihkan 42 warisan budaya lainnya. “Penghargaan ini termasuk sesuatu yang baru yang diberikan UNESCO, karena biasanya warisan budaya diberikan kepada situs-situs berkontruksi tektonik yang direstorasi oleh sekelompok ahli,” katanya. Sementara Wae Rebo adalah desa adat berkontruksi alam, dilestarikan dan dibangun kembali oleh masyarakatnya sendiri, sekaligus sebagai proses regenerasi keilmuan bagi generasi muda mereka.

Sejak peristiwa itu, Yori semakin aktif merevitalisai rumah adat. “Kami mencoba program Rumah Asuh dengan membuat yayasan nirlaba. Kami mencari lokasi, rumah, atau pusaka yang perlu diberi bantuan dan kami mencoba mencari donor, baik perusahaan maupun perorangan. Sementara kami sendiri lebih bersifat sebagai koordinator dalam menyalurkan dana dan mengawasi pekerjaan sampai selesai,” Yori menjelaskan. Menurutnya, program Rumah Asuh merupakan wujud dari kepedulian sekaligus keprihatinannya dalam melihat aset berharga bangsa yang semakin lama semakin ditinggalkan, kurang diperhatikan, dan bukan tidak mungkin dalam waktu dekat mengalami kepunahan.

Namun, Yori sendiri tidak menargetkan rumah adat mana yang jadi sasarannya. “Saya tidak merencanakan rumah adat mana yang akan menjadi proyek selanjutnya karena datang dengan sendirinya. Saya percaya dengan istilah ‘semesta mendukung’, dan itu tidak harus menunggu proyek yang sedang berjalan selesai, simultan,” katanya tandas.

Hingga saat ini sudah 15 desa dan lebih dari 200 rumah adat yang berhasil direvitalisasi. Program tersebut ada yang merupakan program bersama masyarakat; program bersama pemerintah kabupaten (seperti dengan Banyuwangi); program bersama pemerintah provinsi, (seperti dengan Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan DKI Jakarta); dan ada juga program bersama pemerintah pusat.

Lalu, berapa total dana yang sudah diserap. “Untuk jumlah dana dari donatur yang sudah terkumpul, saya tidak menghitung,” ujar Yori. Bicara tentang bagaimana meyakinkan dan membangun kepercayaan donatur, ia merasa bahwa kepercayaan itu harus direbut. Caranya? Setelah ia meminta masyarakat yang akan disumbang untuk menghitung biaya satu rumah adat, ia meminta donatur untuk menyumbangkan dana. “Dan saya katakan kepada donatur, tidak ada sepeser pun uang yang saya ambil. Itu penting,” katanya menegaskan.

Setelah itu, uangnya diberikan ke masyarakat dan pengirimannya pun secara bertahap. Syaratnya: masyarakat harus melaporkan progres pembangunan rumah tersebut sehingga donatur percaya uangnya tidak ada yang ambil. Bahkan, Yori pun ikut membiayai dengan mengirim mahasiswa dan profesor ke lokasi untuk meneliti atau memberikan arahan. “Ternyata, saya berkesimpulan, tidak ada orang Indonesia yang pelit, asal mereka tahu uangnya ke mana,” ujarnya.

Banyak donatur yang merasa bahagia karena uangnya bisa bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. “Begitu uang itu dapat membawa kebahagiaan bagi masyarakat, mereka melihat desa itu tumbuh, donatur saya nangis,” kata Yori menginformasikan. Donaturnya pun bertambah banyak. Saat ini ada sekitar 200 donatur yang terdiri dari donator perusahaan sampai donatur gotong royong. Saat membangun Wae Rebo jumlah donatur baru 100-an.

Yang lebih membahagiakan lagi, setelah berbagai rumah adat direvitalisasi, banyak yang menjadi objek pariwisata dan bisa menggerakkan perekonomian masyarakatnya. “Dengan adanya revitalisasi ini, kami bangun menjadi desa wisata. Kami tidak ingin bangun hotel di situ, biar turis tinggal bersama masyarakat; bayar, tinggal, dapat makan sehari tiga kali, kulinernya disediakan, penginapannya, dan penunjuk jalan porter dari desa tersebut, oleh-oleh tenunan, kopi,” Yori memaparkan.

Artinya, uang yang dikeluarkan wisatawan hampir 100 persen masuk ke desa tersebut. Itu yang ia sebut sebagai program pemberdayaan masyarakat. Artinya, setelah rumah adat selesai dibangun kembali, masyarakat diberi beragam pelatihan, mulai dari hospitality, bagaimana menerima tamu, pelajaran bahasa, hingga aneka kuliner, sehingga masyarakat siap menerima wisatawan.

Saat ini, Wae Rebo menjadi fenomena dan muncul ke permukaan. Dulu, yang dipromosikan di daerah tersebut hanya komodo dan tempat menyelam. Sekarang, Wae Rebo sudah mendunia. Banyak wisman yang datang karena mereka tidak pernah menemukan desa seindah itu; dikelilingi gunung-gunung dan perbukitan, udaranya jernih, dan di malam hari ada wisata galaksi, bintang-bintang bertaburan.

Kami juga akan coba meningkatkan harga per harinya, dari Rp 350 ribu menjadi Rp 500 ribu, agar jumlah turisnya berkurang karena mulai over. Tapi, kami bisa membuat turis yang lebih berkualitas,” kata Yori. Dengan harga Rp 500 ribu, Wae Rebo juga menjadi lebih makmur karena mendapat profit lebih banyak. Ia juga sedang me-rebranding Wae Rebo supaya wisatawan tidak hanya tinggal sehari, tetapi bisa tiga hari.

Demikian juga yang dilakukan Yori di Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Rumah adat yang sudah direvitalisasi bisa dijadikan homestay dan dibangun rumah tenun. Sebab, pihaknya melihat tenun Sumba harganya tidak bisa tinggi. Para penenun hanya bisa menjualnya di pasar, dan di pasar tentunya ada pengepul yang memblok hubungan antara pembeli dan penenun.

Sekarang saya revolusi. Saya bangunkan rumah tenun 10 buah sehingga pembeli akan langsung ke penenun dan mereka dapat menjual tenunnya lebih mahal. Saya tidak mematikan bisnis pengepul, silakan kalau ke pengepul yang murah-murah. Kalau ke penenun, kami berikan kualitas yang bagus-bagus dan akhirnya masyarakat Sumba menikmati uang secara langsung,” ungkapnya panjang lebar.

Setelah meresmikan rumah tenun tersebut bersama para donatur, dalam sehari saat peresmian itu terjual kain Rp 350 juta. Sebelumnya, itu tidak pernah terjadi. “Bahkan, ketika kami bawa kain itu ke pameran kantor saya, selama satu bulan terjadi penjualan Rp 3,2 miliar. Kemudian, ketika saya presentasi di Kedutaan Amerika dengan ibu-ibu duta besar, semua kaget. Mereka pikir Indonesia cuma ada batik dan mereka melarang kami membawa kembali kain-kain tersebut, mereka minta taruh di kedutaannya,” Yori menceritakan.

Ternyata, tidak sulit mempromosikan tradisi kita ini menjadi barang-barang yang kekinian. “Jadi, saya selalu berkesimpulan, tradisi dan budaya itu bukan masa lalu, tapi masa kini dan masa depan kita. Kalau dari sisi adu teknologi modern, kita ini followers bukan penemu. Tapi dari sisi kekayaan budaya, kita ini yang terbesar di dunia, 700 etnis suku. Kita itu juara dunia dari kekayaan budaya,” kata Yori yang mendapat julukan “Pendekar Arsitektur Nusantara” ini, bangga.

Dalam perjalanannya, program Rumah Asuh yang digagas Yori ini pun diadopsi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bentuk program budaya yang saat ini sudah membangun 170 rumah adat. “Namun, rumah adat itu belum cukup kita bangun, karena sebagian besar belum tentu jadi desa wisata sebab masyarakatnya berbeda dengan Wae Rebo. Masyarakatnya ada yang lebih keras, banyak hukum adat yang tidak tertulis,” ungkapnya membandingkan.

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)