Guiness Amplify Buktikan Guiness Bukan Sekadar Produk Bir

Ajang kompetisi band Guiness Amplify yang baru saja digelar menjadi bukti bahwa Guiness bukan sekadar produk bir. Ajang yang pertama kali dilaksanakan ini merupakan wujud kepedulian Guiness terhadap musik di Indonesia. Kegiatan yang bekerja sama dengan Musica Studio’s ini membukakan jalan untuk para peserta yang ingin terjun ke industri musik. Dengan adanya kegiatan ini, Guiness ingin mengubah persepsi masyarakat yang mengenal Guiness sebatas minuman keras.

“Melalui Guiness Amplify ini, kami membukakan jalan untuk mereka yang ingin berkarya di industri musik Indonesia, mengingat Guiness dan musik menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan. Ini juga merupakan wujud kepedulian kami terhadap musik, sehingga masyarakat bukan hanya memandang Guiness sebagai produk bir, tetapi juga sebagai merek yang memiliki kepedulian,” papar Herman Sulica, Marketing Director Guiness Indonesia.

Guiness Amplify

Berikut pemaparan lengkap Herman terkait Guiness Amplify kepada reporter SWA Online, Destiwati Sitanggang.

Mengapa Guiness memilih untuk mengadakan ajang kompetisi band?

Alasannya, pertama karena industri kami dan musik menjadi satu bagian yang tidak dapat dilepaskan. Industri kami beroperasi di mana musik menjadi salah satu bagian yang sangat melekat.
Kedua, dari Guinessnya sendiri sejak awal kami sangat dekat dengan musik. Sebelumnya, Guiness kerap mengadakan acara musik lain seperti konser, lalu kami berpikir benefit apa yang kami dapatkan lewat konser itu? Kalau sekadar mengadakan konser, semua orang bisa membuat. Ini menjadi suatu hal yang menarik buat kami, bukan hanya membuat konser-konser yang semua orang dapat buat. Selain itu, band sekelas U2 itu pun berasal dari kompetisi yang diadakan oleh Guiness.

Apa yang membedakan Guiness Amplify dengan kompetisi band lainnya?

Ajang kompetisi yang biasanya ada, hanya sebagai suatu projek untuk mencari pemenang. Setelah sampai di situ, langkah lanjutannya sangat mini. Band kompesisi kami ini adalah ajang untuk mencari talenta music Indonesia untuk menjadi duta bangsa atau band-band yang bisa mewakili Indonesia. Dalam Guiness Amplify ini ada Talent Development dimana ada mentoringnya, dengan mengkolaborasikan finalis dengan Steve Lillywhite, salah satu produser kelas dunia. Kami betul-betul mengasah kualitas music mereka sehingga ketika mereka sudah go public, mereka dapat menghasilkan sesuatu yang besar. Jadi, bukan hanya sebatas menang, dapat uang, bisa rekaman, dan selesai.

Apa peranan Guiness dalam kegiatan ini?

Di sini kami berperan sebagai penggalang dan Musica Studio’s yang memfasilitasi. Musica yang akan memfolllow up dan Guiness akan mengundang mereka di acara-acaranya Guiness. Nanti setelah mereka rekaman, kontrak mereka terjalin dengan Musica, yang menjadi label mereka. Kerja sama dengan Musica ini berlangsung sepanjan tahun, diperkirakan sampai pertengahan tahun depan. Lepas dari situ, kami juga akan tetap terlibat di dalamnya, seperti kami akan mengikutsertakan para fimalis di dalam acara-acara Guiness.

Apa tujuan Guiness mengadakan acara ini?

Kami hanya membukakan jalan untuk mereka yang ingin masuk ke industri music. Dari sini, kami ingin memperkenal Guiness sebagai merek yang memiliki kepedulian terhadap industri musik, bukan hanya memandang Guiness sebagai produk bir. Ini merupakan bagian dari filosofi Guiness dari awal. Guiness lahir dari kota Dublin yang memang terkenal dengan musik-musiknya. Buktinya terlihat dari logo Guiness sendiri, ada alat musik harpa yang menjadi bagian dari logo Guiness.

Guiness Amplify ini pertama kali diadakan di Indonesia, apakah akan dilanjutkan tahun depan?

Sekarang kita masih mereviev keberhasilan projek ini. Jumlah peserta yang mendaftar ada 200 peserta, awalnya bagus untuk kegiatan yang pertama kali dilaksanakan. Ke depannya, kami ingin pemenangnya bukan hanya menjadi band yang jago kandang. Kami ada rencana untuk melakukan pertukaran dengan negara lain seperti Malaysia, Australia, dan Hongkok. Mengingat, Guiness Amplify ini bukan hanya ada di Indonesia, tapi sudah ada di 20 negara termasuk negara-negara tersebut. Selain itu, 29 band sisanya yang tidak menang, akan kami promosikan karya musiknya melalui Zimbalan. Karya musik mereka dapat masuk ke pasar music digital yang dapat diakses untuk pasar dunia.

Apakah ini merupakan bagian dari marketing Guiness?

Kalau terkait dengan penjualan tentu tidak bisa di drive dari sini. Terus terang, kami lebih ingin mengangkat musik mereka. (EVA)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)