Harga dan Kualitas Produk, Kunci Kesuksesan Private Label

Akhir-akhir ini hampir semua pelaku bisnis minimarket, supermarket dan hypermarket memiliki rangkaian produk private label. Seberapa besar potensi pasarnya dan antuasiasme konsumen? Untuk menemukan jawabannya, Gustyanita Pratiwi dari SWA Online mewawancarai Pujianto, Wakil Direktur Alfamart. Di bawah ini adalah penggalan hasil wawancaranya.

Bagaimana minat masyarakat terhadap produk-produk private label?

Tergantung pada produk apa. Bisa terjadi misalnya untuk toko baju Sara, itu private labelnya Sara. Atau lebih bicaranya untuk produk-produk grocery. Minatnya ya tergantung dari produk, kualitas serta harga.

Seperti apa permintaan/pasar private label Alfamart?

Biasa saja, artinya selama itu kualitasnya bagus dan harga bagus, itu pasti konsumen juga akan membeli. Jadi sebenarnya mesti dilihat dari tujuan retailer dari membuat privat label itu apa. Apakah itu untuk awareness, artinya meningkatkan nama retailernya itu sehingga lebih dikenal oleh masyarakat. Itu salah satu sisi.

Kedua, apakah memang produsen tidak punya produk itu, sehingga dia terpaksa harus membuat private label sendiri. Atau ritel melihat bahwa produk yang dihasilkan oleh produsen itu, ternyata di pasaran persaingannya sangat ketat. Karena mungkin masalahnya kita sebut sebagai banting-bantingan dengan harga antar retailer dan sebagainya. Oleh karena itu mereka membuat barang yang sejenis, tetapi dengan packaging yang berbeda dengan nama yang berbeda.

Sejak kapan Alfamart masuk ke bisnis tersebut?

Alfamart itu sudah lama, mungkin sudah 8 tahun ya.

Pertimbangan apa saja yang menyebabkan Alfamart masuk ke private label?

Awal-awalnya adalah untuk mempercepat awareness Alfamart.

Produk-produknya apa saja?

Apa yang kami anggap bisa menggunakan protect cost yang bagus. Misalnya kapas, gula, beras, sabun cair, tisu dan sebagainya. Jumlahnya tidak banyak kok.

Tiap tahun berapa pertambahannya?

Tiap tahun tidak bertambah, jarang. Wong itu terbatas kok, tergantung marketing, kecuali di hypermarket, supermarket kansnya ada, karena displaynya masih ada.

Berapa % kontribusi private label terhadap penjualan Alfamart?

Kontribusinya tidak banyak, di bawah 5%, masih kecil.

Strategi apa saja yang diterapkan supaya laku?

Macam-macam tergantung produknya. Tidak ada strategi khusus, misalnya gula yang kebutuhan pokok. Untuk private label itu prosesnya banyak, harus daftar dulu, harus buat packaging dalam jumlah yang besar, harus negosiasi dengan principle, harus ada kualitas yang bagus.

Kalau secara umum, strategi itu berhubungan dengan kualitas dan harga. Kalau dari produsen yang umum, jika jual ke retailer, dia taruh biaya marketing, promosi dan sebagainya. Namun, jika di retail itu sendiri, cuma mendisplay baranga saja. Dari segi kualitas, karena kami dianggap bisa menjual dengan kualitas lebih bagus, dengan harga yang lebih murah, jadi private label itu tidak menjadi masalah bagi produsen, selama produsen juga meningkatkan efisiensinya.

Private label hanya bisa berhasil kalau si pembuat private label itu bisa membuat produk yang bisa diterima oleh konsumen dengan harga yang bagus, kualitas yang bagus. Itu saja. Banyak cara meningkatkan kualitas. Kita bisa kerja sama dengan para principle, misalnya sekarang packagingnya mubadzir, kita tidak perlu packaging yang seperti itu, berarti biaya produksi bisa lebih murah. Harga menjadi lebih murah, kalau packagingnya itu lebih murah, tapi tetap menarik. Kelebihan itu bisa ditingkatkan untuk produknya. Semuanya bisa diefisiensikan dan isi packaging itu tidak persis sesuai dengan kebutuhan konsumen, misalnya kalau anda tidak butuh beli suatu barang ukuran 1 kg, kenapa harus beli 1 kg? (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)