Hasil Kebun Karet Bridgestone 100% Diekspor

Briggestone Corporation Jepang memiliki dua kebun karet di bawah PT BSRE (Bridgestone Sumatera Rubber Estate) dan BSKP (Bridgestone Kalimantan Plantation). Juga memiliki pabrik ban di bawah PT Bridgestone Indonesia. Hasil produksi kebun karet yang dikelola Bridgestone dieskpor seluruhnya untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang kencang. Bagaimana lika-liku ekpsor karet yang dilakukan? Berikut ini wawancara Radito Wicaksono dari SWA dengan Richard Siahaan (General Finance Manager, PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate)

Sejak kapan PT Bridgestone Sumatera Rubber Estate melakukan eskpor? Apa produk unggulan yang diekspor? Ke negara mana saja tujuan eskpornya? Berapa banyak volume atau nilai ekspornya per bulan/tahun? Berapa persen komposisi penjualan ekspor dibandingkan penjualan lokal?

Bridgstone Sumatra Rubber Estate (BSRE), perusahaan perkebunan karet yang berlokasi di Sumatra Utara. BSRE merupakan perusahaan subsidiary dari perusahaan Bridgstone Corporation yang berpusat di Jepang.

Di Indonesia sendiri, Bridgstone Corporation memiliki tiga lokasi atau tiga perusahaan subsidiary. BSRE, BSKP (Bridgestone Kalimantan Plantation) yang juga merupakan perusahaan perkebunan karet, dan terakhir adalah Bridgestone Indonesia, sebuah perusahaan penghasil ban. Perusahaan perkebunan karet di Indonesia hanya ada dua, dan kedua-duanya milik Bridgestone, BSRE dan BSKP.

Berlokasi di Sumatra Utara, 120 km dari Ibukota, Medan atau 2,5 jam. BSRE sendiri memiliki 2 lokasi, jika dijumlahkan dari kedua lokasi tersebut, maka konsesi HGU (Hak Guna Usaha) kami berjumlah 18.003ha.

BSRE, berdiri pada tahun 1917. Pemegang saham ada dua, Bridgestone Corporation (95%), dan sisanya masih dikuasai oleh perusahaan lokal, PT Agro Nusa di Medan. Bidang usaha yang kami jalankan adalah perkebunan karet dan pengolahan karet remah. Produksi lapangan kita, sampai Agustus 2012 kemarin ini mencapai 15.032 metric ton, dengan target tahun ini adalah 26.000 metrik ton untuk lapangan. Jumlah pabrik yang ada, di samping perkebunan karet, kami juga memiliki pengolahan karet itu sendiri.

Kami melakukan eskpor sejak pertama perusahaan ini bergerak. Bisa dikatakan untuk Bridgestone-nya, sebelumnya ini kan Goodyear, sejak tahun 2005 baru diakuisisi oleh Bridgestone. Sejak masih Goodyear pun kita sudah melakukan ekspor. Untuk awalnya sendiri, kita memulai ekspor itu kira-kira sekitar tahun 1930.

Kami mengekspor ke beberapa Negara tujuan, seperti Jepang, Brazil, dan Amerika. Paling besar porsinya ke Jepang. Dengan komposisi, pada tahun 2011 kemarin mencapai 77% dari total produksi kami. Diikuti 14% ke Brazil, sisanya ke Amerika.

Sejak tahun 2005, volume ekspor sebesar kurang lebih 70.000 metric ton per tahun. Setiap tahun mengalami peningkatan sampai dengan 78.000 metric ton. Dengan kapasitas kami mencapai 82.000 metric ton. Sebenarnya, kami menargetkan 81.000 metric ton, tapi hanya mencapai 79.000 metric ton. Keseluruhan produk kami, 100%, diekspor.

Bagaimana cara meningkatkan produksi? Apa strateginya?

Strateginya adalah, kalau sudah memenuhi kapasitas maksimal produksi pabrik, maka akan kami usahakan untuk menambah luas lahan. Dengan luas lahan bertambah, otomatis produksi bertambah. Sejak tahun 2005, Bridgestone sudah menambah 2 pabrik.

 

Mengapa semuanya diekspor?

Karena permintaan mereka di luar sana kan cukup banyak, jadi kita ekspor semua. Bahkan, kita hanya mampu memenuhi 10% kebutuhan karet di pasar-pasar luar negeri.

Siapa yang menggarap pasar ini?

Itu sudah keputusan dari Bridgestone Corporation. Kami mengikutinya sejak kami diakuisisi tahun 2005. Kami melakukan produksi sesuai dengan pesanan. Kami hanya mengikuti kebijakan dari Headquarter Bridgestone di Tokyo, Jepang sana.

Apakah sempat mengalami penurunan produksi ekspor?

Sempat, di tahun 2009. Hal itu terjadi sebagai dampak dari krisis global.

Bisa diceritakan ketika itu?bagaimana menghadapainya?

Kondisi saat itu kan bisa dilihat secara umum karena krisis tahun 2008, efeknya dirasakan pada tahun 2009. Seperti contohnya saja, Toyota yang saya ketahui selama 12 hari tidak melakukan produksi. Hal tersebut tentu berpengaruh bagi kami. Pabrik mobil sudah stop, jadi bagaimanapun, otomatis ban pun berpengaruh produksinya. Permintaan ban pun mengalami penurunan.

Apa menjadi kendala terhadap jalannya proses bisnis secara keseluruhan di BSRE?

Bagaimanapun, kami harus menghadapi fixed cost yang cukup tinggi. Tapi saat itu, kita sama sekali tidak melakukan pengurangan karyawan yang sebanyak 6.000 tadi. Karena kami memang menghindari adanya pemutusan hubungan kerja di perusahaan kami. Tapi, kami tetap melakukan cara-cara lain untuk mempertahankan jalannya bisnis ini, antara lain, dengan membuka pasar baru. Itu pun kami harus meminta izin dari pusat untuk melakukan hal tersebut. Yang pasti, biasanya inisiatif datang dari kami. Mengenai keputusan boleh atau tidaknya, kantor pusat yang menentukan. Di kantor pusat ada kebijakan seperti itu. Yang pasti, kami tetap dibolehkan untuk melakukan inisiatif buka pasar baru. Meski nantinya keputusan ada di tangan kantor pusat. Karena, membuka tujuan pasar baru bukanlah hal yang mudah.

Bisa diceritakan mengenai perjalanan atau lika-liku BSRE ini melakukan kegiatan bisnis ekspor, bahkan sejak sebelum di akuisisi Bridgestone?

Sebenarnya perjalanan kami ditentukan oleh pasar. Walaupun kami jual ke induk perusahaan kami, tapi tetap menjual seusai harga pasar. Kalau harga pasar turun, karena mungkin terlalu banyak supply, maka kan menjadi masalah bagi kami.

 

Apa BSRE menggunakan kredit ekspor atau asuransi ekspor?

Kalau kredit ekspor sejauh ini kita belum menggunakan. Karena sampai saat ini, pencairan dana dari pusat belum pernah mengalami kendala.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)