Perkuat Brand dengan Memanusiakannya

Dari berbagai perubahan yang muncul masa ke masa, barangkali tidak ada yang menandingi dahsyatnya perubahan era internet. Sifatnya yang dinamis membuat era ini sulit untuk diprediksi. Pemain-pemain yang pada kurun waktu tertentu begitu kuat, tiba tiba kehilangan relevansi dan hilang. Namun di sisi lain, pemain pemain yang kecil dapat melejit secara cepat.

Era internet menyebabkan pemilik brand dapat terhubung langsung dengan customer. Hal ini juga seringkali dimanfaatkan dalam melakukan branding dari sebuah produk. Namun hingga saat ini, banyak yang mengira bahwa  kekuatan sebuah brand adalah bagaimana mereka mengeluarkan budget untuk melakukan brand aktivasi.

maxresdefault

Hermawan Kartajaya, Founder sekaligus Chairman dari Markplus menyatakan, dalam melakukan branding, customer statisfaction saja tidaklah cukup. Namun yang menjadi penting adalah bagaimana caranya untuk lebih daripada meraih customer satisfaction, yakni dengan cara menembak insight dari customer itu sendiri.

“Ada 3 fase dalam branding, menurut saya. Fase pertama yakni fase 1.0, dimana pemilik brand lebih pintar daripada customer. Fase 2.0 adalah brand mengikuti kemauan customer. Dan fase ke 3.0,  brand dapat menyentuh apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh customer tanpa  menyatakan terlebih dahulu.

"Karena itu, untuk membuat brand menjadi brand leader, diwajibkan untuk menjadikan brand tersebut sebagaimana manusia. Selain itu, untuk menjadi brand leader, leadership sendiri memang diperlukan,” ujar Hermawan.

Prinsip leaderhip yang harus dimiliki menurut Hermawan antara lain adalah good looking, quick witted, emotional-socially, serta personal morality. Sebuah brand haruslah baik jika dilihat dari bentuk, warna dan kontennya. Hal ini berpengaruh pada identitas. Selain itu, update mengenai pengetahuan juga diperlukan dalam industri. Komunikasi antara brand dengan customer juga menjadi sesuatu yang harus dilakukan guna memperkuat brand itu sendiri.

“Sebuah brand yang kuat tidak lagi tergantung pada legenda yang dibuat atau posisinya di suatu negara tau korporasi. Saat ini adalah eranya dimana brand harus bisa membangun kepemimpinannya sendiri. Pada dasarnya ada elemen yang kasat mata dan merupakan pintu masuk bagi elemen lain, contohnya adalah elemen fisik. Lantas, ditambahkan dengan elemen intelektual yang menunjukkan seberapa dalam dan seberapa update pengetahuan seseoramng mengenai sebuah bidang. Selanjutnya adalah bagaimana brand tersebut bisa berkawan dengan baik, sesuai dengan moralitas yang ada,” tambah Hermawan.

Dengan menjalankan hal tersebut, dia menyatakan sebuah brand bisa menjadi 'long lasting' dan menjadi brand leader di kelasnya. Dia memberikan gambaran mengenai Tesla motor dan Xiaomi. “Xiaomi termasuk salah satu perusahaan yang gila dalam melakukan branding. Ia berhasil mematahkan bahwa produk buatan China bukanlah produk yang bagus. Lebih dari itu, ia bahkan berhasil menggaet konsumennya yang mereka sebut sebagai fans dalam memproduksi produknya. Tidak heran bahwa untuk produknya yang terakhir, ia berhasil menjual 1,7 juta unit ponselnya dalam 5 hari,” tutup Hermawan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)