IBF Menstimulus Merek Nasional Berjaya di Lokal dan Global

Apa arti sebuah merek bagi suatu bangsa?.Jawabnya, banyak. Di belakang merek ada sebuah proses produksi dan mata rantai ekonomi yang panjang, dengan dimensi sosial yang juga tidak kecil. Penguasaan merek asing, selain membuat devisa mengalir ke mancanegara, juga berpengaruh terhadap penyerapan kerja lokal bila fasilitas produksinya tidak berada di Indonesia.

Tak banyak yang menyadari, kedaulatan dan ketahanan merek lokal merupakan indikator ketahanan ekonomi sebuah negara. Bahkan, dalam dimensi ekonomi-politik modern, merek telah menjadi soft power yang luar biasa dalam kancah percaturan internasional. Merek tidak hanya menebar pengaruh bisnis semata. Merek juga sudah memperkuat pengaruh politik sebuah negara. Lihatlah bagaimana Walt Disney, McDonald’s, Apple, General Electric memperkuat hegemoni Amerika Serikat baik secara ekonomi maupu kultur. Jepang diwakili Sony, Panasonic, Toyota, Honda dan sederet merek terkenal lainnya. Sementara dari Korea Selatan, berdiri Samsung, LG dan Hyundai yang kemudian diikuti gelombang kebudayaannya.

Yuswohady, Program Director Indonesia Brand Forum (IBF), menuturkan, di Indonesia, sulit dipungkiri kuatnya dominasi merek asing. Lihat saja kehidupan keseharian orang-orang Indonesia. Pada skala individu, hal itu amat terasa: dari alas kaki sampai rambut, kita menggunakan merek asing. Di kamar mandi, produk-produk asing bertengger mulai dari sabun, pasta gigi, hingga shampo. Saat bekerja, laptop beserta perangkatnya, termasuk flash disk, yang digunakan merek asing. Berangkat kerja, mengenakan sepatu merek luar negeri.

Kendaraan yang dinaiki pun merek asing. Saat tiba makan siang, kongko di resto waralaba asing. Begitu juga saat bertelekomunikasi, seakan tiada hari tanpa merek mancanegara. Bangun tidur hingga ke peraduan lagi, dominasi merek asing menyelimuti mayoritas orang Indonesia. “Bahkan kasur dan bantalnya pun boleh jadi merek asing sehingga ada seloroh: bermimpi pun pakai bahasa asing,” kata Yuswohady.

Tidak heran, sedemikian kuatnya dominasi merek asing membuat masyarakat kadang memunculkan pertanyaan: apakah tidak ada merek-merek lokal yang membanggakan? Apakah tidak ada merek lokal yang bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan mampu mengibarkan bendera merah putih di pentas global?

Jawabnya: ada! Di telekomunikasi ada Telkom. Di industri perbankan ada BNI, BRI, dan Bank Mandiri. Di elektronik, Indonesia punya Maspion dan Polytron. Di kosmetik, Martha Tilaar, Mustika Ratu dan Wardah. Di consumer goods ada Wings, Kino Corporation yang inovatif, dan Mayora yang melanglang buana.

Di industri hospital equipment ada Mega Andalan Kalasan. Di industri pertanian, negeri ini punya traktor Quick. Di industri buah-buahan, Sunpride menguasai hypermarket dan deptstore. Di industri kurir ada JNE yang merangsek ke segala penjuru Nusantara. Di laboratorium klinik ada Prodia sementara di apotek ada Apotek Kimia Farma.

Berangkat dari hal tersebut, para pemerhati merek menggelar Indonesia Brand Forum (IBF). Forum tersebut diharapkan mampu menstimulus merek-merek nasional berjaya di dalam dan luar negeri. Mempertimbangkan dimensi ekonomi dan sosial keberadaan sebuah merek bagi perekonomian suatu negara, para pemrakarsa yang dimotori Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Sido Muncul ini berharap acara konferensi merek Indonesia yang akan berlangsung setiap tahun akan menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran serta nasionalisme bangsa Indonesia tentang pentingnya kedaulatan merek di era globalisasi seperti saat ini. “Saya pribadi yakin, perjalanan ke arah itu bukan sebuah impian belaka. Merek-merek Indonesia punya potensi besar untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan melanglang buana ke pasar global,” kata Irwan.

Selain akan berikrar berupa “Deklarasi Kebangkitan Merek Indonesia di Pentas Bisnis Nasional dan Global”, sebanyak 18 pembicara yakni para pemilik/pengelola merek-merek lokal yang sukses juga akan mengisi sharing session. Para “Indonesia Brand Heroes” ini datang dari beragam industri, baik swasta maupun BUMN, di antaranya dari perusahaan Martha Tilaar, Polygon, Prodia, Sewu Segar (Sunpride), Mega Andalan Kalasan, Kino, D’Cost, Hotel Santika, Dwi Sapta, Bhinneka, Ranch Market, Alleira Batik, Pertamina Pelumas, Bio Farma, Pegadaian, Semen Indonesia, Femina, dan Garuda Indonesia. Puncak acara akan diselenggarakan pada tanggal 20 Mei 2013. (EVA)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

1 thought on “IBF Menstimulus Merek Nasional Berjaya di Lokal dan Global”

saya mendukung isi tulisan ini, terutama mereka para pengusaha yang menggunakan merek-merek produknya dalam bahasa sendiri (bahasa Indonesia, bahasa Jawa dsb.) Sayang pemrakarsanya menggunakan nama asing : Indonesia Brand Forum, kenapa bukan dalam bahasa Indonesia? Paling tidak tampilkan nama dalam bahasa Indonesia yang dominan lalu dibawahnya dapat ditulis Indonesia Brand Forum. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam segala aspek. Terima kasih kepada bp. Ario Fajar, ditunggu tulisan-tulisan berikut yang dapat membangun rasa bangga akan budaya bangsa sendiri. Salam ade R
by Ade R, 17 Jul 2013, 06:52

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)