Indogress Kenalkan Koleksi Terbaru Granite Tile di Keramika 2017

John Suhanto, pendiri PT Asri Pancawarna (kedua dari kiri), Hendrata Atmoko, Vice President Director (ketiga dari kiri) dan Andrea Petrina Lukas, Sales & Marketing Department Head

Inovasi merupakan strategi perusahaan untuk memenangkan persaingan. Inilah yang disadari PT Asri Pancawarna (AP) produsen granit porcelain tile terbesar dengan merek Indogress dan Decogress. Berlokasi di Keramika 2017, event pameran ke-6 produk penutup lantai dan dinding terbesar di Asean, AP meluncurkan produk Indogress terbaru seri marmer alam dan keramik dengan teknologi self-cleaning dan anti bakterial pertama di Indonesia.

Produk baru dengan tema Beyond the Surface ini dikatakan Andrea Petrina Lukas, Sales & Marketing Department Head AP, produk self-cleaning tile ini masih dalam tahap perkenalan, belum diaplikasikan. Produk teknologi teranyar ini memiliki 5 keunggulan antara lain: anti bakteri, melepas ion negatif, memancarkan emisi far infrared, anti jamur, dan anti formaldehyda. Karenanya kata Andrea produk ini sangat cocok untuk diaplikasikan pada bangunan rumah sakit, sekolah, rumah tinggal, hotel, apartemen, toilet dan bandara. Hendrata Atmoko, Vice President Director AP, mengatakan, riset pasar menunjukkan 80-85 persen waktu manusia sebenarnya lebih banyak di gedung atau dalam ruangan mulai dari kegiatan tidur, nonton tv, kerja, sekolah san lainnya maka itu fokus penjualan produk ini ditujukan untuk ruang tertutup.

Ditambahkan Hendrata, produk terbaru ini memang belum diaplikaskan di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta atau Bandara Raden Inten Lampung yang mayoritas granite tile-nya menggunakan produk Indogress dan Decogress. "Sayangnya bandara tersebut sudah selesai dan jalan proyeknya sebelum produk baru antibakteri kami ini ada, padahal bandara itu tempat yang tepat untuk produk kami ini," katanya. Maka itu ke depan pihaknya akan lebih mendorong penggunaan produk terbaru ini pada proyek bandara lain yanb akan dikerjakan. Ia mengatakan saat ini renovasi Bandara Kulonprogo dan Ahmad Yani Semarang, Supadyo Pontianak, Kertajati sedang dalam proses, AP sedang berusaha berperan didalamnya terutama dalam penggunaan granite tilenya. "Kami mengarah ke bandara-bandara baru," imbuh Hendrata. Juga MRT yang sebagian dipegang AP terutama yang di Lebak Bulus.

Andrea menyebut meski ada banyak keunggulan dibanding koleksi Indogress sebelumnya AP tidak mematok perbedaan tinggi dari segi harga, hanya 5 persen lebih mahal. Harga yang ditawarkan berkiaar Rp 315 - 410 ribu per m2.

Tentang strategi pemasaran AP akan banyak berkolaborasi dengan supermarket bahan bangunan dan mengadakan roadshow, bukan promosi above the line tapi lebih aktivasi. Contohnya dengan gathering bersama arsitek. "Bukan volume target pemasaran kami, tapi lebih mendorong pasar paham keunggulan sehingga sadar menggunakan produk kami," ujarnya. Pihaknya sadar ini merupakan sesuatu yg baru, maka penting edukasi untuk mencapai target dari pasar ini. "Produk ini masih baru, belum diproduksi massal," ujarnya. Saat ini Indogress sudah memiliki agen penjualan dari Sabang sampai Merauke, tapi untuk yang baru ini baru di Jakarta pemasarannya.

"Indonesia dulu pemain nomor satu, kini mungkin sdh diambil alih Vietnam, jumlah produk luar lebih banyak dari Indonesia," ujar Hendrata yang pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Produsen Keramik Asean.

John Suhanto, pendiri AP mengatakan mulai Januari tahun inj bisnis mulai naik. "Kami berharap dukungan pemerintah terutama dalam support produk lokal," ujarnya. Beberapa tahun terakhir seperti diketahui serbuan granit tile asal Cina cukup deras. Akibatnya, dikatakan John, terjadi penurunan bisnis produk lokal.

AP sendiri mengalami penurunan penjualan hingga 20 persen tahun lalu akibat membludaknya granit tile Cina pada sepanjang 2016. Maka itu pihaknya terus melakukan terobosan inovasi untuk memenangkan persaingan tersebut seperti yang hari ini diluncurkan. Saat ini pangsa pasar AP untuk pasar granit tile khusus produk lokal 30-40 persen, karena produk AP terbilang paling lengkap dibanding pemain lokal lain. "Tapi kalau digabung dengan produk import terutama dengan banyaknya produk Cina pangsa pasar kami hanya 10-20 persen," katanya. Kapasitas produksi pabrik AP disebut John sekotar 800 ribu m2 per bulan tapi angka produksi tersebut belum penuh atau baru terpakai 70-80 persen.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)