Ini Strategi Coca Cola Merebut Kembali Pasarnya

Pasar minuman ringan bersoda sempat lesu, bahkan menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir ini. Kesadaran masayarakat akan bahaya kandungan gula dalam minuman ini serta gempuran minuman aneka teh dan buah menjadi salah satu penyebab pasar minuman berkarbonasi sepi.

Data dari Bevarages Digest tahun 2014 menunjukkan bahwa di dunia minuman soda seperti Coca Cola, terus menurun dalam 13 tahun terakhir. Pada tahun 2011, penjualan minuman ini menurun 1 %, dan terus merosot hingga 2014 menjadi 3 %. Buramnya prospek industri minuman bersoda tentu membuat Coca Cola ketar-ketir. Tak heran, ini karena 75 % penjualan Coca Cola Company berasal adri minuman soda.

IMG20160113111948
Berbagai strategi pun akhirnya diluncurkan guna merebut kembali pasarnya. Produsen minuman soda paling senior di dunia dan Indonesia ini telah meluncurkan beberapa kampanye guna terus menjaga awareness pasar. Salah satunya adalah ‘Share Your Coke’ yang di Indonesia diwujudkan dalam rangkaian kampanye “Rayakan Namamu”. Kampanye ini dilakukan dengan menggunakan kaleng dan botol Coca Cola sebagai media. Mereka mencetak nama-nama orang yang banyak ditemukan di Indonesia.

Menurut Riyanto Gunawan, Marketing Manager Coca Cola Indonesia, kampanye ini terbukti telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan pasar mereka,”Kampanye rayakan namamu sudah berjalan sejak Agustus 2015 lalu dan ternyata sangat signifikan meningkatkan pertumbuhan pasar kami di Indonesia,” ujarnya,

Namun Riyanto enggan menyebutkan angka pastinya. Meski demikian, menurut dia, ada beberapa hal yang bisa dilihat sebagai indikator meningkatnya awareness dan penjualan produk Coca cola, “Kampanye tersebut ramai dibicarakan di media sosial,  bahkan sebagian orang sengaja mengoleksi kaleng dan botol Coca Cola yang ada nama mereka,” ujarnya.

Tahun 2016, kampanye ini kemudian dievaluasi dan dibuat kelanjutannya. Andrew F. Hallatu, Communication Manager Coca Cola Indonesia, menjelaskan pihaknya ingin menggali lebih dalam lagi kampanye ‘Rayakan Namamu’,

“Dari situ kami arahkan ke sebuah gerakan anti bullying karena rupanya masih ada sebagian orang yang namanya manjadi bahan olok-olokan atau name calling,” jelasnya. Kampanye ini diawali dengan meluncurkan video “Melawan Nama Julukan” lewat Youtube, di mana isi video tersebut adalah mengenai kisah nyata orang-orang yang merasakan dampak buruk ‘name calling’ atau nama julukan yang tujuannya merendahkan atau melecehkan seseorang.

Selain video “Melawan Nama Julukan”, dalam kampanye ‘Rayakan Namamu’, Coca Cola juga melakukan beberapa aktivitas digital khususnya di media sosial yang ditujukan untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam kampanye ini.

Ada lima aktivitas, pertama, avatar, ini adalah aktivitas di mana masyarakat diajak untuk mengganti profil avatar sosial mereka. Pada avatar tersebut terdapat tulisan ‘I Stand Against Name Calling’ sebagai bukti dukungan. Kedua, adalah mendukung lewat twibbon ke profil Facebook dan Twitter mereka. Pada twibbon ini masyarakat bisa membagikan avatar yang telah diganti tadi ke profil Facebook dan Twitter mereka melalui website CokeURL.com/RayakanNamamu. Ketiga, melawan bullying nama julukan dengan cara menemukan nama asli lewat website-homepage Coca Cola. Keempat, masih didalam website tersebut, setelah Anda menyatakan mendukung “Melawan nama julukan” dan submit nama asli maka akan mendapatkan Coca Cola yang di kalengnya tertulis nama asli Anda. Kelima, share page, Coca Cola mengajak masyarakat untuk berbagi makna nama aslinya di media sosial sebagai bukti nama seseorang memiliki keindahan yang perlu dihargai dan dirayakan. Setip orang harus memanggil nama pada orang lain menggunakan nama asli, bukan nama julukan yang niatnya mengolok-olok.

Guna mendukung kampanye ini, Coca Cola menggandeng artis Tatjana Saphira, penyanyi Tulus dan vokalis band Nidji, yaitu Giring Ganesha, untuk juga berbagi kisah mereka yang juga menjadi korban bullying nama julukan.

Tulus dan Giring mengaku pada masa kecil hingga remaja pernah menjadi korban bullying nama julukan lantaran nama asli keduanya yang memang unik, sedangkan Tatjana mengaku sering melihat orang-orang di dekatnya yang diberi nama julukan menjadi minder dalam pergaulan.

Kampanye tersebut juga didukung, organisasi pemberantas bullying, Sudahdong.com yang didirikan seorang gadis, Katyana Wardhana, pada saat berusia 17 tahun. Organisasi ini berkonsentrasi memberdayakan korban bullying, menyadarkan pelaku, dan mencegah calon korban dan calon pelaku terlibat. Sebelum bergabung dengan kampanye Coca Cola, organisasi ini telah aktif melakukan kampanye tersebut ke sekolah-sekolah. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Tahun 2016, Kementerian Koperasi dan UKM  Akan Revitalisasi 85 Pasar

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan merevitalisasi 85 pasar rakyat di tahun ini. Sebanyak 60 pasar rakyat akan dibangun...

Close