Inilah Tantangan Memasarkan Produk Islami

Populasi umat muslim dunia diperkirakan naik 35% tahun 2030. Jumlahnya akan mencapai 2,2 miliar jiwa atau setara 26,4% populasi dunia. Angka tersebut mengindikasikan potensi yang sangat besar untuk mengembangkan produk halal, perbankan syariah, maupun brand Islami lainnya. Meski demikian, tak sedikit tantangan yang harus dihadapi dalam memasarkan produk maupun brand Islami.

Yusuf Hatia dan Dr Paul Temporal

Dr Paul Temporal memperkirakan umat muslim dunia tahun 2050 kelak mewakili sepertiga populasi penduduk dunia. Total populasi umat muslim di tahun tersebut sekitar 2,6 miliar jiwa. Associate Fellow Saïd Business School dari University of Oxford ini juga mengungkapkan nilai pasar halal secara global US$ 2,3 triliun. Nilai ini akan terus tumbuh double digit.

“Sayangnya belum banyak orang yang mengerti betul tentang Islamic finance,” Temporal menjelaskan tantangan Islamic finance. Portofolio yang sangat kecil juga menjadi tantangan dalam memasarkan produk Islamic finance. Selain itu keunggulan Islamic finance dibanding produk konvensional belum banyak diketahui masyarakat luas.

“Masyarakat non-muslim juga kurang memahami apa itu produk halal, haruskah mereka mengkonsumsi produk tersebut atau malah tidak boleh, dan sebagainya,” kata Yusuf Hatia, Senior Vice President & Managing Director Fleishman-Hillard Mumbai. Dalam diskusi media The Market Opportunity of The Muslim World, Yusuf menekankan dalam memasarkan brand Islami, iklan saja tidak cukup. Masyarakat juga harus tahu apa pentingnya halal, keuntungan mengkonsumsi produk halal, dan konsep halal itu sendiri. Hal ini terutama berlaku di negara dengan penduduk muslim minoritas.

Yusuf mencontohkan peristiwa yang terjadi di KFC Amerika ketika mereka mulai menghalalkan produk-produknya. Untuk memperoleh label halal, KFC menarik produk dari ham dan bacon yang tak lain adalah daging babi. Pelanggan non-muslim menunjukkan reaksi keras terhadap tindakan tersebut. Mereka menaruh curiga terhadap KFC dan berhenti membeli produk KFC.

Sejauh ini label halal belum familiar bagi masyarakat non-muslim. Mereka lebih mengerti kosher atau kashrut, label 'halal' ala Yahudi. Oleh karena itu Yusuf menganggap penting mengkomunikasikan konsep halal supaya pemilik merk bisa merangkul kelompok muslim tanpa melepaskan konsumen lama yaitu masyarakat non-muslim.

"Umat muslim belum punya lembaga dunia yang bisa memberikan sertifikasi halal seperti halnya Kosher. Jadi produk halal di Amerika belum tentu halal di Indonesia, mislanya," tutur Temporal. Penulis buku Islamic Branding and Marketing ini mengatakan bahwa saat ini ada lebih dari 130 lembaga sertifikasi halal di dunia. Sayangnya, belum ada satu wadah internasional yang berhak menetapkan standar halal. Inilah mengapa arus ekspor-impor produk halal cenderung lebih lambat dan sulit dibandingkan kosher maupun produk konvensional. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)