Japfa Comfeed Datangkan Sapi Indukan Asal Australia

Melalui anak perusahaannya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (Japfa) mendatangkan sapi indukan asal Australia. Sebanyak 3.826 ekor sapi indukan telah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Jumlah ini merupakan impor sapi indukan terbesar dalam sekali pengapalan yang pernah dilakukan sebuah perusahaan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

japfa-2

Sapi-sapi indukan yang diberangkatkan dari Pelabuhan Darwin, Australia ini akan dikirim ke lokasi peternakan PT Santori Agrindo (Santori), anak usaha Japfa di Tongas, Probolinggo, Jawa Tmur untuk dilakukan inseminasi buatan. “Impor sapi Indukan ini merupakan wujud nyata komitmen Japfa dalam mendukung program peningkatan populasi sapi potong di Indonesia yang dicanangkan Pemerintah," ujar Bintoro, Head of Unit Feedlot Probolinggo.

Kebijakan pemerintah untuk mewajibkan  impor sapi  harus disertai impor sapi indukan sebesar 20 persen untuk industri dan 10 persen untuk program kemitraan.  Aturan Pemerintah ini membuka peluang yang besar untuk membangun kemitraan dengan peternak rakyat dalam memelihara sapi indukan. Di kandang Santori Probolinggo berkapasitas 15.000 ekor ini, setelah sapi-sapi indukan memasuki usia kehamilan enam bulan, akan didistribusikan melalui pola kemitraan kepada para peternak rakyat yang tersebar di wilayah Jawa Timur terutama di Kabupaten Probolinggo. Selanjutnya, Santori akan kembali membeli sapi sapi hasil pemeliharaan dari para peternak.

Kedatangan sapi indukan asal Australia ini disambut baik oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita. “Apa yang dilakukan Japfa sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi di tanah air agar mempercepat peningkatan populasi sapi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Hal ini akan mendorong pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional,” ujar Diarmita.

Menurut Diarmita, upaya kemitraan dengan lembaga perbankan dan peternak rakyat, koperasi- koperasi berbadan hukum, memungkinkan percepatan terjadinya alih pengalaman, atau transformasi ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan usaha peternakan secara profesional untuk para peternak rakyat kita. Untuk itu saya barharap upaya ini dapat diikuti oleh perusahaa lain yang bergerak di bidang peternakan dan kesehatan hewan, dikarenakan hal ini merupakan langkah konkrit yang harus terus didorong dan ditumbuhkan serta dilakukan secara berkesinambungan.

“Hal ini merupakan salah satu upaya pebisnis di tanah air yang merupakan bentuk perhatian mereka kepada para peternak rakyat kita. Saya berharap hal ini tidak hanya dilakukan para feedloter sapi potong, tetapi juga dilakukan oleh para integrator IPS (industi pengolah susu) sapi perah kita. Bagaimana para integrator IPS ikut membangun desa binaan sapi perah serta membina para peternak sapi perah di Indonesia agar mereka kian bergairah, juga produksi yang dihasilkan mereka dapat diserap dengan harga yang pantas.” jelasnya.

Untuk mendukung program Pemerintah dalam meningkatkan populasi dengan mengembangbiakkan sapi betina produktif ini, diharapkan adanya insentif untuk bea masuk sapi indukan. Selain bea masuk, tingginya beban biaya usaha pembibitan sapi di Indonesia juga masih menjadi kendala upaya peningkatan populasi sapi potong. Model pengembangbiakan sapi di Indonesia dengan basis kandang membutuhkan dukungan lahan hijauan yang luas untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi secara kontinyu dalam jumlah besar, dan dalam jangka waktu yang panjang. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan pemberian stimulus dan insentif untuk aktivitas investasi breeding sapi potong, seperti skema bunga pembiayaan dan asuransi, kebijakan fiskal, kebijakan lahan eksklusif peternakan dan hijauan pakan ternak, serta iklim regulasi yang kondusif bagi usaha breeding sapi potong.

Kedatangan sapi indukan hari ini diharapkan dapat membantu percepatan peningkatan jumlah populasi sapi potong. Diasumsikan tingkat keberhasilan kebuntingan dan kelahiran sebesar 75 persen, sedangkan jumlah sapi indukan saat ini sebanyak 6.320 ekor, maka pada pertengahan tahun 2018, diperkirakan sudah dapat tersedia tambahan sekitar 3.160 ekor sapi bakalan dan 3.160 sapi indukan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Indonesia.

Prediksi ini didasarkan pengalaman Santori dalam mengembangkan usaha breeding di Provinsi Lampung sejak tahun 2007. Santori sendiri memiliki beberapa lokasi usaha penggemukan dan pengembangbiakan sapi yang tersebar di Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dari ketiga lokasi tersebut, Santori memiliki kapasitas pemeliharaan sampai dengan 70.000 ekor sapi. Sansaan

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)