Jurus Ampuh Kemendag Tingkatkan Ekspor Non-Migas

Kementerian Perdagangan mempunyai sejumlah strategi untuk menggenjot ekspor nasional, khususnya sektor non-minyak dan gas (migas). Harapannya, peningkatan ekspor non-migas bisa membantu neraca perdagangan yang kini mengalami defisit karena sektor migas.

Gita Wirjawan Gita Wirjawan

“Semester pertama defisit kurang lebih US$ 3,3 miliar, yang terdiri dari defisit sektor migas US$ 5,8 miliar dan surplus non-migas kurang lebih US$ 2,5 miliar. Jadi, non-migas kita masih aman dengan surplus US$ 2,5 miliar,” terang Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan, di sela-sela acara halal bihalal yang diadakan di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (13/8/2013).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis awal Agustus ini, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sekitar US$ 3,3 miliar selama Januari-Juni 2013. Defisit terjadi pada sektor migas, sedangkan sektor non-migas justru mengalami surplus. Gita memprediksi surplus non-migas akan kembali terjadi di semester kedua.

“Keliatannya di semester dua akan terulang lagi pengumpulan surplus non-migas kurang lebih US$ 2-3 miliar,” tambah dia.

Tapi, untuk sektor migas, dia justru menaruh rasa pesimis, di mana defisit neraca perdagangan bisa jadi bertambah karena defisit di sektor ini. “Tapi migasnya ini. Di semester pertama saja, kita sudah impor migas lebih dari US$ 13 miliar. Jadinya, bisa diantisipasi di semester dua, bahkan (mungkin) ada penambahan defisit neraca perdagangan yang sudah ada di angka US$ 3,3 miliar di semester pertama, mungkin akan meningkat jadi US$ 5-6 miliar secara total untuk satu tahun, 2013,” papar dia.

Gita berharap naiknya harga BBM bisa mengurangi defisit sektor migas. Konsumsi BBM mungkin turun seiring dengan kenaikan harganya. Dia pun bilang, dampak kenaikan harga BBM diperkirakan terasa mulai Juli. “Yang perlu digarisbawahi migasnya. Yang mana kita sudah beli lebih dari atau mengimpor lebih dari US$ 13 miliar di semester pertama. Dan mudah-mudahan kalau angka itu bisa turun sedikit saja atau lebih banyak, itu akan sangat membantu untuk mengurangi defisit kita.”

Sementara itu, sektor non-migas tentu tidak tinggal diam. Kementerian Perdagangan disebut telah berusaha meningkatkan nilai tambah ekspor. “Tapi ini memakan waktu lebih lama dari apa yang kita inginkan. Apalagi mengingat adanya slow down, stagnasi, ataupun kontraksi di ekonomi global,” ucapnya.

“Tapi kami melihat jangka panjang. Di mana nanti ekspor yang ada nilai tambahnya ini yang tadinya 35 persen dari total ekspor akan meningkat 35 persen dalam waktu beberapa tahun ke depan. Jadi ini mungkin bisa terasa di semester dua 2013.”

Strategi untuk meningkatkan ekspor lainnya adalah dengan menyasar ke negara-negara non-tradisional. Usaha kementerian menembus pasar negara-negara itu sudah mulai terasa. “Di negara-negara Afrika, Amerika Latin, dan juga di Asia, seperti India, Pakistan, dan sekitarnya, sudah mulai terasa. Dan seperti dengan Pakistan, kita sudah tanda tangan PTA (preferential trade agreements) yang mana nanti kalau sudah diratifikasi oleh Pemerintah Pakistan, ini sangat bisa membeli produk-produk kelapa sawit kita dengan skala lebih besar daripada selama ini. Selama ini Pakistan lebih banyak beli di Malaysia,” ujar Gita.

“Ini (perdagangan dengan negara-negara non-tradisional) akan sangat bisa mengurangi potensi terjadinya defisit neraca perdagangan di semester kedua,” tandasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)