Kapal Kemanusiaan ACT Angkut 1000 Ton Beras ke Somalia

Indonesia sedang punya hajatan besar di ranah kemanusiaan. Dari Indonesia yang subur nan kaya, menuju Benua Afrika yang jauh di barat negeri. Tidak peduli jarak, tidak melihat tentang beda bahasa, etnis, dan kultur. Satu hal yang menggeber empati di sini adalah tentang rasa kemanusiaan.

Kabar tentang kelaparan di Afrika, khususnya di Somalia memantik empati dan nurani kemanusiaan untuk bergerak. Bangsa yang subur dan dikenal ramah ini harusnya memang bisa berbuat sesuatu, lebih masif, untuk meredam kelaparan di Afrika.

Tapi di daerah Tanduk Afrika, khususnya di Somalia, Nigeria, Sudan Selatan, hingga Yaman di tepi Teluk Aden – makan itu luar biasa sulit. Beras tidak pernah se-murah di Indonesia. Apalagi hadirnya konflik makin membuat runyam. Akhirnya krisis kemanusiaan pun meledak. Dalam tiga bulan terakhir sejak 2017, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data sekira 20 juta jiwa warga Afrika terancam kematian. Pemicunya satu: lapar yang merundung sepanjang hari.

Kapal Kemanusiaan ACT angkut beras ke Somalia.

Tidak berdiam diri melihat apa yang terjadi, kompilasi empati masyarakat Indonesia pun bergerak cepat. Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi dan menyusun agenda yang berpacu dengan waktu. Kapal Kemanusiaan digagas dan dilayarkan dalam tempo yang singkat. Beras dikumpulkan, beras menjadi bahan diplomasi kemanusiaan lintas benua. Di Somalia pun, 80% penduduknya mengonsumsi beras sebagai makanan pokok.

Presiden Aksi Cepat Tanggap, Ahyudin mengatakan lapar itu pada dasarnya hanya urusan waktu. Semakin lama tidak berbuat apapun, angka kelaparan dan malnutrisi makin melesat, risiko kematian bakal bertambah setiap harinya. Mati dan hidup batasnya tipis sekali. Ini tentang urusan nyawa.

Lewat program Kapal Kemanusiaan, ACT menghimpun beras untuk lekas dikapalkan ke Somalia. Hanya dalam hitungan beberapa pekan ke belakang, 1.000 ton beras atau setara dengan 48.000 karung beras sudah terkumpul, kemudian diangkut seluruhnya ke dalam kontainer menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Beras sebanyak 40 kontainer diboyong dari Kecamatan Cepu Kabupaten Blora dan Kabupaten Bojonegoro, dua wilayah subur bagian dari lumbung pangan terbaik di Pulau Jawa. Kurang lebih 300 ton beras atau setara dengan 12.000 karung beras dibawa dari Kecamatan Cepu Kabupaten Blora. Sisanya sebanyak 700 ton atau setara dengan 28.000 karung diboyong dari Kabupaten Bojonegoro.

“Blora sekarang bangga, masyarakat di Somalia sana bisa tersenyum. Karena melalui ACT masyarakat Blora bisa kirim 1000 ton untuk Somalia,” ungkap Bupati Blora Letkol Inf. (Purn) Djoko Nugrohosesaat sebelum pelepasan konvoi truk, dari Cepu menuju Terminal Peti Kemas Surabaya.

Semua urusan teknis keberangkatan, dari mulai truk kontainer hingga berlayarnya Kapal Kemanusiaan ke Somalia, Aksi Cepat Tanggap mengajak kolaborasi PT Samudera Indonesia. Perusahaan publik yang sudah berkiprah puluhan tahun di urusan pelayaran, transportasi dan logistik skala multinasional.

Ken Narotama, Komisaris PT. Samudera Indonesia mengatakan, kolaborasi Kapal Kemanusiaan adalah kesempatan hebat untuk mengamalkan pengalaman panjang di urusan logistik dan pelayaran untuk bidang sosial.

"Kami merasa beruntung dapat kesempatan ini. Kami semua di PT. Samudera Indonesia mendoakan agak hasil dari kerja ini diberi perlindungan dan kesuksesan oleh Allah SWT. Tahap berikutnya, PT. Samudera Indonesia akan ikut di setiap langkah kemanusiaan ACT," ujar Ken.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)