Karpet Merah untuk Investor Banyumas

Bupati Banyumas Achmad Husein
Bupati Banyumas, Achmad Husein

Pemda Banyumas kini giat menyiapkan infrastruktur untuk memikat kaum investor. Bersamaan dengan dibangunnya Bandara Jenderal Soedirman Purbalingga yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2020 serta jalan tol yang akan membentang antara Kota Tegal dan Cilacap, Pemda Banyumas menyiapkan lahan 5 ribu hektare di wilayah barat untuk membangun kawasan industri. Tak sembarang kawasan industri yang tengah disiapkan, tetapi kawasan industri nonpolutan yang hanya diperuntukkan bagi perusahaan yang jenis industrinya tidak akan mencemari lingkungan.

Menurut Bupati Banyumas Achmad Husein, bidang bisnis yang akan dibidik untuk masuk ke kawasan industri tersebut antara lain garmen, komponen otomotif, dan elektronik. “Ini pabrik garmen lho, yang tinggal potong-potong kain lalu dijahit, yang tidak menimbulkan pencemaran. Bukan pabrik tekstil,” kata Achmad Husein saat ditemui SWA di Pendopo Kabupaten Banyumas, akhir Juni lalu. Menurut Achmad yang memimpin Banyumas untuk periode kedua ini, selain tidak menimbulkan pencemaran, pabrik garmen juga akan menyerap banyak tenaga kerja. “Satu pabrik saja akan menyerap 2 ribu buruh,” katanya tandas.

Dan yang menggembirakan, menurut pria yang sebelum menjabat bupati telah menduduki jabatan Wakil Bupati Banyumas ini, kini sudah ada 20 investor garmen yang secara pribadi berbicara dengannya. “Mereka minta disiapkan lahan minimal 200 hektare yang dilengkapi dormitory serta sarana dan prasarana air minum dan listrik,” katanya. Menurut Achmad, jika satu investor rata-rata memerlukan 2 ribu buruh, kehadiran 20 investor garmen akan menyerap 40 ribu pegawai. Kini pihaknya tengah menyiapkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) serta sarana jalan. “Dalam 1-2 bulan ke depan, satu investor akan masuk. (Ada) kemungkinan baru pada 2021-2022 para investor akan berdatangan,” tambahnya.

Selain mengundang investor nonpolutan, yang menjadi prioritas Achmad adalah investor yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Menurutnya, hal ini sejalan dengan tekadnya untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. “Kalau ada investor nonpolutan yang bisa menyerap sekitar 2 ribu buruh, akan kami sambut. Mereka tinggal duduk manis, surat-surat akan kami jemput dan segala perizinan akan kami persiapkan,” kata Achmad tandas.

Menurut mantan Dirut PDAM Banyumas tersebut, fasilitas kemudahan itu terbuka bagi semua investor, tak pandang apakah investor dari Banyumas, luar Banyumas, bahkan investor asing sekalipun. Yang pasti, lanjut insinyur sipil tamatan Institut Teknolog Bandung ini, dua syarat tadi harus terpenuhi, yaitu investor yang tidak menimbulkan pencemaran dan yang akan menampung 2 ribu tenaga kerja.

Selain investor garmen, investor lain yang sudah serius menanamkan modal adalah pabrik komponen otomotif Honda, seperti knalpot dan mesin press komponen mobil, yang akan menyerap 500 tenaga kerja laki-laki. Menurut Achmad, sekitar 50% kebutuhan tenaga kerja pabrik komponen akan dipasok dari Banyumas. “Di sini ada SMK otomotif yang menjalin kerjasama dengan mereka,” ujarnya.

Adapun untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja di bidang garmen, Achmad mengirim angkatan kerja mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). “Saya keluarkan uang dari APBD untuk pelatihan. Di BLK kami punya mesin-mesin jahit,” tuturnya. Langkah antisipatif ini ditempuh Achmad agar kelak para investor garmen bisa mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai. Angkatan kerja yang sudah mengikuti pelatihan di BLK sebanyak 500 orang.

Kabupaten Banyumas, dengan jumlah penduduk 1.672.817 jiwa pada 2018 dan angka PDRB sebesar Rp 45.586 miliar pada 2017, dikenal sebagai sentra industri gula merah. Menurut Achmad, potensi ekonomi gula merah di daerah ini sangat luar biasa. Kini di wilayahnya terdapat 3 juta pohon kelapa, 200 ribu pohon di antaranya dikelola sebagai penghasil gula. Sementara itu, jumlah warga yang bekerja sebagai penderes nira kelapa mencapai 22 ribu orang. “Masyarakat cukup memiliki tujuh pohon kelapa untuk mendapat penghasilan Rp 2 juta per bulan,” katanya. Dan tidak hanya itu, gula merah juga telah menjadi komoditas ekspor andalan Banyumas dengan nilai ekspor sekitar Rp 350 miliar per tahun.

Guna mendukung ekonomi gula merah masyarakat Banyumas, kini Achmad menyiapkan kebun bibit kelapa genjah bekerjasama dengan Balai Besar Pertanian. Bibit itu akan dibagikan gratis kepada masyarakat. Keunggulan bibit genjah ini, selain cepat berbuah, juga memiliki pohon yang pendek sehingga memudahkan pengambilan nira. Soalnya, menurut Achmad, tingkat kecelakaan para penderes nira sangat tinggi. Dalam satu tahun terdapat 150 penderes yang jatuh dari pohon kelapa, dan 80-100 orang di antaranya meninggal dunia.

Potensi besar lainnya adalah di bidang pembangkit listrik tenaga air. Banyumas memiliki 14 titik potensial. Sayangnya, menurut Achmad, kebutuhan investasinya sangat besar dan Pemda tidak memiliki dana sehingga pengelolaannya diserahkan kepada swasta. Padahal, potensi pembangkitannya mencapai 40 megawatt yang bisa menghasilkan triliunan rupiah per tahun. Dari 14 titik potensial tadi, ada dua titik yang sedang dikerjakan. “Karena kami serahkan kepada swasta, kami hanya akan mendapatkan bagi hasil yang tidak besar,” ungkapnya. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)