Kereta Cepat Telan Anggaran US$ 5,5 Miliar

Komisaris PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia Sahala Lumban Gaol mengatakan hampir seluruh dana untuk proyek pembangunan kereta cepat ini berasal dari Cina. Permodalannya berasal dari pinjaman dan patungan perusahaan yang tergabung dalam konsorsium.

“Skema pendanaannya: 75 persen dari China Development Bank (CDB) dan 25 persen dari equity konsorsium,” ucapnya saat ditemui Tempo di Hotel Pullman, Jakarta, pada Jumat, 16 Oktober 2015.

Ia menjelaskan, pemerintah tidak memberikan pembiayaan kecuali pembebasan tanah. Proyek yang diperkirakan menghabiskan US$ 5,5 miliar (sekitar Rp 74,7 triliun, dengan acuan Rp 13.591,5 per US$ 1) ini seluruhnya didapatkan dari pinjaman dan equity konsorsium. “Jadi dari pemerintah nol,” ujarnya.

kereta api cepat

Model bisnis kereta Jakarta-Bandung ini, tutur dia, merupakan langkah korporasi komersial. Artinya, bisnis ini tidak memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara karena tidak ada keterlibatan pemerintah secara langsung. Rencananya, proyek ini ditargetkan selesai akhir 2018 dan akan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2019.

Sebanyak 75 persen pinjaman dari CBD ini sudah dibicarakan sejak awal. CBD dipilih karena dari pinjaman tersebut tidak ada yang dijaminkan apa pun dari pemerintah. “Corporate guarantee juga tidak ada,” tuturnya. Sedangkan untuk permodalan equity yang 25 persen itu berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia sebesar 60 persen dan Cina 40 persen.

Kerja sama proyek kereta cepat Jakarta-Bandung antara Pilar Sinergi dan China Rail Way International Co Ltd telah diteken. Menurut Sahala, dengan dukungan pemerintah Cina, joint venture ini bisa berjalan dengan baik. "Kami melihat kerja sama ini sangat luar biasa. Terima kasih untuk semua pihak yang terlibat dalam proyek ini," ujarnya.

Sementara itu, Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xie Feng, menuturkan kerja sama Cina-Indonesia untuk membangun kereta cepat ini merupakan keberhasilan dari prinsip saling menguntungkan yang selalu dipegang teguh kedua negara. Kerja sama kedua negara dilakukan dengan model business-to-business melalui perusahaan patungan. Dalam perusahaan patungan itu, Indonesia memegang 60 persen saham dan Cina 40 persen.

"Kereta cepat ini juga merupakan kereta cepat pertama dengan kecepatan lebih dari 250 kilometer per jam di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara," ucap Xie.

Tempo

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)