Kolaborasi Branding dengan Teknologi Perkuat Kegiatan Pemasaran

Peran branding dalam dunia industri sangat esensial dan fundamental, baik di bidang profesional maupun wirausaha. Kegiatan branding kini tidak lagi dilakukan secara konvensional. Kolaborasi branding dengan teknologi teranyar layaknya beacon, heat mapping, biosignal hingga pemasukan unsur fuzzynomics, brand fatigue and emotional distance dan lainnya membentuk kegiatan branding semakin menantang dan menarik untuk dipelajari.

Hal ini dibahas oleh Luiz Moutinho, Professor of BioMarketing & Futures Research, DCU Business School Dublin City University dalam seminar bertajuk “The Future of Digital Marketing” yang diselenggarakan oleh Prasetiya Mulya, Rabu (31/5).

Di masa lalu, brand dibentuk dan dibangun karena inisiatif-gagasan pembuat produk atau jasa tanpa keterlibatan penuh dari pihak konsumen. Brand diperkenalkan dan diiklankan secara masif dengan tanpa “mendengarkan“ apa yang diinginkan konsumen. Berbagai cara dibuat secara sepihak dan sisi produsen untuk memengaruhi hingga menarik perhatian konsumen dengan tujuan akhir agar membeli produk yang ditawarkan.

Era berubah ketika konsumen mulai merasakan berlebihannya infomasi yang disampaikan berbagai iklan tanpa menyampaikan pesan berarti yang berguna bagi brand itu sendiri. Brand dan kegiatan memperkuat brand (branding) terasa jauh dari peran produsen.

Penelitian terbaru (Kantar Worlpanel, 2016) menyebutkan bahwa di negara-negara berkembang orang semakin menjauhkan diri dari berbagai brand (55% di Jepang, 54% di Inggris dan 44% di AS) dan yang lebih mengejutkan di masa depan barang-barang dengan putaran omset yang cepat atau fast-moving consumer goods (FMCG) akan kehilangan 50% pembelinya dari setiap brand yang ada. Artinya, branding yang tak memperhatikan konsumen dan semakin jauh dari keterlibatan konsumen adalah lonceng kematian bagi brand sebuah produk.

Masuknya era digitalisasi berimbas pada perubahan aspek kehidupan. Pesatnya perkembangan teknologi menggiring masyarakat untuk semakin terpaut dengan dunia digital. Berbagai sektor berlomba-lomba untuk melakukan transisi ke arah digital, tak terkecuali di bidang marketing. “80% kegiatan marketing kini menggunakan teknologi,” jelas Moutinho, yang merupakan Foundation Chair of Marketing di University of Glasgow.

Kini, kolaborasi dunia marketing dengan teknologi bukan hanya bergerak pada bidang social media, web, mobile apps atau mobile web semata. Hibridisasi digital dan fisik (blending) memungkinkan untuk mengukur perilaku dan menciptakan indikator baru dari jejak digital yang menghasilkan banyak peluang seperti analisis rinci tentang pengalaman konsumen, menciptakan aktivitas konsumen dan real time information.

Sebagai contoh, menurut Moutinho, pemasar masa kini dapat mengetahui area yang paling banyak di akses oleh konsumen dalam tokonya, hingga konten website yang paling banyak dibaca konsumennya melalui teknologi heat mapping. Bahkan, teknologi sensor bluetooth low energy bernama Beacon dapat menambah efisiensi pendistribusian materi promosi kepada konsumen, karena teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk memetakan lokasi yang paling sering dikunjungi konsumen pada tokonya, hingga barang yang paling sering konsumen beli.

Adapun salah satu bidang utama penelitian Moutinho terkait dengan proses permodelan perilaku konsumen. Ia telah mengembangkan sejumlah model konseptual selama bertahun-tahun di berbagai bidang seperti proses keputusan tujuan wisata, perbankan otomatis dan patronase supermarket. Penelitian terkini lainnya yaitu neuroscience dalam riset pemasaran dan pemasaran berjangka. Moutinho telah menerbitkan dua puluh lima buku dan memiliki lebih dari 130 artikel jurnal akademis internasional yang disahkan.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Standard Chartered Izinkan Kerja Flexible Time dan Cuti 5 Bulan

Standard Chartered punya berbagai cara untuk membuat pegawainya betah. Perusahaan yang telah beroperasi lebih dari satu abad di Indonesia itu...

Close