Komunitas Perancis “Sasaran Tembak” Oh La La Maison

Komunitas warga negara Perancis di Indonesia mulai makin membuka diri. Mereka ingin budaya Perancis lebih dikenal. Inilah saat yang tepat bagi kafe dan restoran ala Perancis untuk lebih gencar menyasar konsumen negara asal benua Eropa itu. Apalagi konsumsi domestik Indonesia sedang tinggi-tingginya. Salah satu kafe yang melakukan gerakan demikian baru-baru ini adalah Oh La La Maison.

Kalau pembaca bertanya-tanya, ketahuilah bahwa Oh La La Maison dan Oh La La Café berada di bawah mandat PT Oh La La International sejak 2010. Maison merupakan lini anyar yang berkonsep casual French dining dan berkelas lebih tinggi dari Café. Yang khas dari konsep itu adalah kebiasaan bangsa Prancis menikmati hidangan dalam beberapa tahap, mulai dari makan appetizer hingga minum kopi seusai makan.

“Komunitas Perancis dikenal sebagai konsumen yang susah ditembus. Mereka menuntut kualitas tinggi,” kata Presiden Direktur PT Oh La La International, Janeiry Louisa Tandean, kepada SWA online (7/2). Untuk mencapai sasaran konsumen yang diinginkan, Oh La La harus ekstra hati-hati memilih bahan baku, memasak sesuai cara Perancis asli, dan menata ruang kafenya. Bukan rahasia lagi, para penggemar kuliner kafe tak hanya mementingkan makanan dan layanan (customer service), melainkan atmosfer (ambience).

Janeiry Louisa Tandean (kiri) dan Laurent Criquet di Oh La La Maison

Bagi seorang staf Kedutaan Besar Perancis untuk Indonesia yang juga pelanggan setia Oh La La, Laurent Criquet, yang membuatnya datang lagi ke kafe yang punya sejarah sejak 1990 ini adalah atmosfer khas Perancis. “Saya suka ambience-nya yang membuat saya merasa seperti di rumah. Saya menyebutnya small Paris in Jakarta,” ungkap Criquet dengan mata berbinar. Pelanggan seperti Criquet mencari kafe bernuansa rumah yang tidak besar dan tidak padat.

Meski mendapat tanggapan baik dari komunitas Perancis, Janeiry yang kerap disapa Nerry tetap ingin Oh La La mendapat tempat di hati konsumen Indonesia pada umumnya. Dengan rentang harga Rp 30.000 - Rp 150.000, ia optimistis konsumen Indonesia tidak akan merasakan perbedaan besar dari harga di sebagian besar mall. Meski Oh La La kini punya menu andalan grilled Atlantic salmon, menu yang sudah ada sejak dulu, di antaranya sandwhich dan zuppa soup, dipertahankan demi pelanggan Indonesia. Di bagian minuman, Oh La La sekarang menawarkan anggur (wine) sambil mempertahankan kopi.

Komunitas, yang pada umumnya mempunyai pola konsumsi dan selera serupa, memang sasaran empuk untuk dijadikan konsumen tetap. Lebih dari itu, sesungguhnya komunitas bisa memproduksi sesuatu yang baru bersama produsen. Tentu ada peluang besar untuk mempertemukan kuliner 2 kebudayaan. Apakah Oh La La yang yakin pasti membuka 5 Café dalam waktu 3 bulan ke depan akan sampai ke tataran tersebut? Kita tunggu saja tembakan Oh La La Maison berikutnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)