Langkah Besar Kemenpar Melalui Wonderful Indonesia Co-Branding Forum

Upaya melakukan branding pariwisata tidak dapat dilakukan tanpa adanya sinergi. Ini dimulai dengan komitmen dari Presiden Jokowi bahwa pariwisata sebagai salah satu core business dari pemerintah. Momentum ini pun diambil sigap oleh  Menteri Pariwisata Arief Yahya yang langsung membuat alokasi pemasaran pariwisata mencapai angka 60 persen. Jika sebelumnya anggaran hanya Rp 300 miliar, kini mencapai Rp 2 triliun.

Menuju target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019, Indonesia sudah selangkah lebih maju. Langkah besar ini pun dikuatkan dengan kolaborasi co-branding partnership melalui brand Wonderful Indonesia (WI) atau Pesona Indonesia (PI). “Inisiatif ini diluncurkan untuk memanfaatkan momentum meroketnya kinerja brand WI/PI selama 2,5 tahun terakhir,” ungkap Arief ketika ditemui dalam acara Wonderful Indonesia Co-Branding Forum.

Upaya pemasaran yang dilakukan pun membawa Indonesia naik ke posisi 47 berdasarkan data World Economic Forum 2017. Image ini dimanfaatkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk membuka peluang kerja sama dengan perusahaan asli Indonesia—dituangkan dalam MoU co-branding partnership dengan 28 perusahaan. Inisiatif ini dilakukan untuk mencapai 3 tujuan, yaitu mendongkrak brand equity dari brand WI di pasar global dan PI di pasar domestik dalam menopang terwujudnya sektor pariwisata sebagai core economy Indonesia. Melalui co-branding partnership diharapkan terjadi sinergi dan leverage effect dalam meningkatkan value kedua brand.

Kedua, mengembangkan penetrasi pasar dan memperluas exposure brand dengan memanfaatkan market network yang dimiliki oleh brand/perusahaan di dalam maupun luar negeri. Diharapkan brand WI/PI dan brand perusahaan dapat saling memanfaatkan customer base masing-masing. Menurut Esthy Reko Astuty, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, nantinya akan dibagi ke dalam produk premium, di mana produk dibuat dengan bahan dan kualitas tinggi serta diperuntukkan bagi konsumen dengan daya beli tinggi.

Lalu, produk Indonesia yang dibuat dengan bahan dan proses pembuatan khas Indonesia—distribusi di pasar domestik dan global. Adapula mitra dapat berasal dari fast moving consumer goods, seperti F&B, hotel, restoran, retai, fashion, online base, media, tour & travel, transportasi, banking, manufacturing, dan lain-lain.

Ketiga, melalui co-branding partnership ini akan terwujud sharing resources antara kedua brand yang ber-cobranding. Di mana akan menghasilkan penghematan biaya promosi yang substansial karena biaya promosi akan ditanggung bersama. “Kerja sama yang berlaku adalah non insentif. Jadi produk yang menggunakan logo WI/PI, akan dipromosikan melalui jaringan Kemenpar, baik melalui paid media, media sosial, pameran, dan lain sebagainya,” ujar Esthy.

Sebenarnya co-branding partnership sudah berjalan walaupun masih sangat terbatas dan tidak sistematis. Sebagai contoh, kampanye iklan terbaru Kuku Bima dari Sido Muncul di tahun 2017 yang mempromosikan Danau Rawa Pening menjadi destinasi wisata kelas dunia. Walaupun kerja sama masih bersifat informal dan masih terbatas, namun dalam iklan sudah menampilkan brand PI.

Sebagai penutup Esthy menyatakan bahwa tahun ini target Kemenpar adalah bekerja sama dengan 100 perusahaan. Beberapa brand yang sudah melakukan MoU yaitu Martha Tilaar, JJ Royal, Sahid Group, Tiket.com, Alleira Batik & Gaia, Sunpride, Sarinah, Rumah Zakat, Sekar Group, Krisna Oleh-Oleh, Secret Garden, Sababay Wine, Tiket.com, Bon Gout, Achilles, Garuda Food, Dapur Solo, Malang Strudel, dan Polygon, dan lainnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)