Lifebuoy Proyeksikan Penjualan Sabun Cair Meningkat di 2014

Lifebuoy, sebagai merek sabun mandi yang menjadi pemimpin pasar di Indonesia, memproyeksikan bahwa penjualan sabun cairnya akan meningkat pada 2014 mendatang. Karena memang sampat saat ini penjualan Lifebouy lebih didominasi oleh sabun batangnya. Selain harganya lebih murah, ada orang-orang tertentu yang lebih menyukai mandi menggunakan sabun batang.

“Selama ini kontribusi penjualan sabun batang lebih mendominasi, sedangkan pada tahun depan, proyeksi (kami) penjualan sabun cair akan lebih tinggi daripada tahun ini. Namun kontribusinya tetap masih lebih kecil dibandingkan sabun batang. Dari kami sendiri juga sudah melihat adanya perubahan dari orang yang memakai sabun batang menjadi sabun cair, atau ada juga yang memakai dua-duanya. Sabun cair kan harganya lebih mahal daripada sabun batang, tapi dengan adanya peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia, penjualan (sabun cair) juga meningkat seiring itu,” jelas Maria Adina Tontey, Senior Brand Manager Lifebuoy.

Lifebouy Donasi Desa Bitobe

Adina mengungkapkan, Lifebuoy tetap mengalami peningkatan penjualan dari tahun ke tahun. “Pastinya ada banyak faktor dari peningkatan sebuah brand, salah satunya karena populasi kita yang meningkat. Daya beli atau konsumsi beberapa bagian masyarakat juga meningkat, apalagi yang kita tahu kelas menengah kita juga meningkat, sehingga ini meningkatkan performa bisnis secara general. Target penjualan kami di akhir tahun pasti akan sangat tercapai kalau untuk Lifebuoy ya,” ungkapnya.

Sejalan dengan pertumbuhan penjualannya tersebut, Lifebuoy juga tidak lupa untuk membagi sebagian keuntungannya untuk sejumlah masyarakat yang masih tertinggal dalam hal kesehatan. Utamanya untuk masyarakat sebuah desa di Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu Desa Bitobe. Hal ini dilakukan melalui program ‘5 Tahun Bisa untuk NTT’.

“Dalam program ini, kemarin kami lakukan pengumpulan dukungan (pledge) sejak 23 Oktober sampai 30 November 2013, di berbagai media, baik itu di acara off air, penayangan video di You Tube, dan sebagainya. Dari sana kami berhasil mengumpulkan total dukungan hingga 7.215.020 dari seluruh masyarakat Indonesia. Lalu sesuai dengan komitmen Lifebuoy untuk mendonasikan Rp 100 untuk setiap dukungan yang diberikan, maka yang akan kami donasikan kepada Desa Bitobe adalah lebih dari Rp 720 juta, pada tahap awal program adopsinya. Ini untuk pelaksanaan program akses air bersih, perbaikan prasarana kesehatan, dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa Bitobe,” tuturnya.

Desa Bitobe, yang terletak di Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT tersebut memang “diadopsi” oleh Lifebuoy dalam sebuah aktivitas yang bernama ‘adopt a village’. Desa itu dipilih setelah melalui survei cukup lama, dan dikarenakan desa tersebut sudah mempunyai akses ke air bersih walaupun belum mumpuni. Memang menurut Ringkasan Eksekutif Data dan Informasi Kesehatan Propinsi NTT, provinsi di Kepulauan Nusa Tenggara itu merupakan salah satu provinsi dengan angka kematian balita yang tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, yakni 58 per 1000 kelahiran, yang disebabkan oleh diare dan Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA).

“Padahal diare dan ISPA dapat dicegah melalui yang murah, yaitu kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir. Dengan rajin cuci tangan, risiko diare dapat berkurang 50%, sedangkan ISPA 45%. Untuk itulah Lifebuoy berkomitmen membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang PHBS, melalui salah satu pilarnya yaitu CTPS, untuk mencegah kematian balita yang disebabkan diare dan ISPA di Desa Bitobe,” katanya.

Program ‘5 Tahun Bisa untuk NTT’ ini merupakan bagian dari misi sosial Lifebuoy di Indonesia yang telah dilakukan sejak 2004. Hal ini juga sejalan dengan Unilever Sustainable Living Plan yang merupakan strategi Unilever secara global untuk menumbuhkan bisnis sambil mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sampai saat ini, misi sosial Lifebuoy mencatat sebanyak 1.437.512 siswa SD yang ikut serta dalam School Program Lifebuoy, 9010 SD di 10 provinsi yang telah teredukasi soal CTPS, 4.213.310 orang ibu serta 600 kader PKK yang juga sudah teredukasi CTPS.

“Kami juga akan bergerak ke daerah lain untuk program ini, misalnya Gerakan 21 Hari Edukasi CTPS, untuk anak-anak dan Posyandu. Jadi misalkan Desa Bitobe ini sudah bisa dipegang LSM, tapi dananya tetap dari Lifebuoy, ya kami akan pindah ke pulau lain, contohnya Papua. Kenapa sekarang tidak langsung ke Papua saja, karena perjalanan (program ini) masih panjang, karena kami ingin membuat big difference with small step dulu. Sedangkan, untuk di Pulau Jawa yang tingkat kesadaran masyarakatnya untuk kesehatan lebih tinggi, maka yang kami lakukan adalah edukasi CTPS melalui kegiatan di sekolah, yakni dengan menggerakkan guru-guru dan kader PKK, untuk menggunakan kalender atau flip chart yang bergambar komik yang kami kasih, untuk mengedukasi anak-anaknya,” tutupnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)