Line Siap Menggebrak Industri Messaging di Indonesia

Menjadi Managing Director pertama untuk Line Indonesia, tak membuat Ongki Kurniawan puas. Ia justru merasa mengemban tugas yang cukup berat karena Line Global baru melakukan IPO pada 14 hingga 15 Juli 2016. “IPO dilakukan di New York dan Tokyo, satu bulan setelah saya menjadi Managing Director Line Indonesia. Awalnya saya juga belum diberitahu karena hal ini sangat confidential, namun bagi saya ini merupakan suatu kebanggan sekaligus tantangan,” jelas Ongki.

Pada hari pertama IPO, saham Line naik 30% membuat lulusan ITB 1995 ini semakin mantap dalam menarik new talent Line Indonesia. Di mata Line global, Line Indonesia memiliki peranan yang penting karena besarnya jumlah penduduk dan penetrasi smartphone. Oleh karena itu, Line Indonesia berusaha untuk menarik user lebih banyak lagi, sehingga bisa menjadi aset yang berharga. Saat ini sudah ada 90 juta pengguna Line di seluruh Indonesia dan 80% di antaranya adalah pengguna aktif.

Ongki Kurniawan, Managing Director Line Indonesia Ongki Kurniawan, Managing Director Line Indonesia

Untuk itu mantan Principal The Boston Consulting Group (BCG) ini membutuhkan tim yang lebih besar dalam mengelola bisnis Line di Indonesia. “Dalam mengolah pasar yang besar kami membutuhkan tenaga-tenaga tambahan dengan kapabilitas yang lebih baik,” jelasnya. Capacity building menjadi salah satu fokus utama saat menjabat Managing Director. Ia menargetkan jumlah karyawan menjadi 100 orang dalam satu tahun kedepan.

Sebelumnya karyawan Line sudah ada 20 orang dan dalam waktu 3 bulan, tapi setelah ia menjabat menjadi 30 orang. Jumlah karyawan yang semakin banyak ini memudahkan dalam menjalankan berbagai strategi bisnis Line. Salah satunya adalah mengunjungi market dengan datang ke berbagai kota di Indonesia untuk berdiskusi dengan para pengguna Line.

Dengan tagline “Closing the Distance” Line berusaha untuk mengenali para user lebih baik lagi. Penelitian ini dilakukan dalam 3 bulan dan menghasilkan berbagai strategi baru dalam mengelola konsumen. Menurut pria yang memulai karier di Citibank dengan posisi terakhir sebagai Assistant Vice President ini, hasil dari penelitian tersebut melahirkan Line today dan Line Business connect.

“Saat ini kami berusaha mengelola market kalangan kelas menengah C, dari awal mereka sudah menjadi target market kami namun kami ingin merangkul mereka lebih erat lagi agar setia menggunakan Line,” jelasnya. Line Business Connect ini tercetus saat melihat kebutuhan user kelas menengah C pada transportasi.

Dari total penngeluaran bulanan mereka, ada sekitar 20% hingga 30% yang disisihkan untuk kebutuhan transportasi. Tak heran bila market tersebut membutuhkan solusi alternatif dalam mencari atau menggunakan transportasi. Tahun 2011 ini pun ia mengajak kerja sama dengan Go-jek sejak beberapa bulan terakhir.

Awalnya, Go-Jek hanya memiliki akun official di Line, kini mereka melakukan kerja sama dengan layanan Online to Offline atau O2O. Model bisnis ini membuat user Line bisa memesan serta menghubungi pengendara Go-Jek melalui aplikasi Line sehingga user tak perlu lagi mendownload aplikasi Go-Jek.

Model bisnis O2O ini juga diterapkan pada Elevenia dan Sale Stock, sehingga konsumen bisa langsung membeli produk dari kedua website tersebut melalui fitur chat to buy yang tersedia di Line. Ongki melihat bahwa potensi model tersebut menjanjikan di Indonesia. Namun potensi ini bukannya tanpa tantangan, ia mengaku cukup kesulitan untuk menyampaikan nilai Line kepada berbagai perusahaan. Hal ini karena konsep bisnis Line yang berbasis pada messaging sehingga konsep ini masih sulit diterima oleh orang awam. Meski begitu untuk perusahaan yang berbasis digital, akan lebih cepat bekerja sama karena menyadari potensi yang ada.

Pria yang pernah menjadi Direksi/Chief Digital Services Officer XL, ini melihat potensi dunia digital yang luar biasa. ”Selama 9 bulan terakhir saya menjabat di XL saya bisa melihar bagaimana pertumbuhan berbasis digital sangat menarik untuk diolah. Ini menjadi tantangan bagi saya namun bukan tantangan yang terberat.” Messaging di Indonesia memiliki pengguna yang cukup besar sehingga tak heran bila saat ini messaging masih menjadi backbone dari bisnis Line.

Ke depan, Ongki memiliki ambisi untuk membangun smart portal Line di Indonesia. Upaya ini akan tercapai bila jumlah pengguna Line semakin bertambah. Meski begitu ia menolak menyebutkan target user Line di Indonesia. Ekspansi ini akan menggunakan dana cash yang diperoleh Line saat IPO  sekitar US$1,5 miliar atau Rp1,5 triliun yang akan digunakan sebagai pengembangan Line di seluruh dunia.

Investasi di Indonesia, diakui Ongki tidak akan dalam jumlah kecil mengingat besarnya peran pasar Line indonesia terhadap Line global. “Line masuk ke Indonesia tahun 2013 dan menunjuk Managing Director lokal pada tahun 2016. Ini menunjukkan keseriusan Line untuk berbisnis di Indonesia. Sebelumnya posisi ini dipegang orang Korea, namun tentunya akan lebih efektif bila dipegang oleh orang Indonesia yang sudah mengerti pasar Indonesia serta jaringan yang luas,” jelas pria yang meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Haas School of Business, University of California Berkeley pada tahun 2003 ini. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)