Loyalitas Ciptakan Kultus pada Sebuah Brand

Kualitas sebuah brand menjadi diferensiasi tersendiri bagi para pembisnis dalam menjalankan usahanya. Bicara mengenai level kualitas brand, menurut Martinus Sulistio Rusli, Direktur Eksekutif PPM, memiliki persepsi yang berbeda-beda. Sebuah resto dengan target pasar di sekitarnya memang memiliki market share yang kecil. Jika ditanya “apakah brand tersebut bagus?”, bisa dikatakan 'bagus' karena targetnya memang telah tercapai. “Tapi jika ada yang bilang 'tidak bagus' karena tidak terkenal di seluruh kota, tidak bisa dikatakan seperti itu. Karena parameter resto tersebut telah tercapai dengan market share-nya. Jadi akan berbeda-beda tergantung dari mana parameternya,” ungkapnya.

Kebanyakan masyarakat melihat sebuah brand yang bagus jika berada pada top of mind. Loyalitas juga sangat diperlukan untuk membangun sebuah brand sehingga menciptakan repeat order. Loyalitas inilah yang menciptakan sebuah kelompok tersendiri hingga sampai pada level tertinggi yaitu mengkultuskan brand tersebut. “Loyalitas itulah yang menciptakan pendirian dirinya pada brand tersebut. Contoh merek Honda yang telah menjadi mindset dibanding merek-merek lainnya. Inilah level tertinggi, yakni kultus,” jelas Martinus. Loyalitas terbentuk dari exposure kemudian experience dan menciptakan kepuasan pada pengguna.

Exposure yang terus berjalan inilah akhirnya menumbuhkan keyakinan, passion dan berakhir menjadi sebuah kultus. Menurut Martinus, proses ini tidak mudah, membutuhkan waktu yang panjang. Kita analogikan loyalitas ini seperti umat pada agamanya, orang bisa saja pindah agama namun berapa banyak. Kenyataannya lebih banyak orang yang yakin dan percaya Agama pilihannya adalah yang terbaik. Selain itu, keyakinan menjadi faktor yang tak kalah penting dan itu bukan pada produknya tapi nama besar yang ada dibelakangnya. “Seperti Astra, semua produk keluaran Astra akan menjadi pilihan utama dibanding yang lain. Brand tidak boleh terlena dengan konsumen yang loyal, harus terus berinovasi untuk merangkul lagi loyalis-loyalis baru,” jelasnya.

Ada beberapa brand yang terkadang mereka aware, mendapat exposure, namun sengaja untuk tidak membelinya. Alasannya, memang tidak butuh atau mahal. Hal ini biasanya bagi sebagian orang yang membeli, mereka mempertimbangkan passion dan benefitnya. “Ini logikanya yang bekerja, yang disebut “quality in dollar”,” imbuhnya.

Kunci sebuah brand akan bertahan lama adalah melakukan inovasi. Sebuah brand akan langgeng, bisa terus besar bahkan pada posisi bertahan yang dibutuhkan adalah inovasi. Brand yang hebat tidak mesti dilihat dari nominal rupiahnya. “Dalam survei Indonesia Original Brand (IOB) SWA, masih banyak merek-merek di bidang jasa yang belum masuk. Padahal banyak bidang jasa di Indonesia yang memiliki brand yang bagus didukung dengan kualitas serta memiliki konsumen loyal seperti Primagama, Go-Jek, Sun-pride” jelas Martinus.

Reportase: Arie Liliyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)