Mahasiswa Baru LSPR 60% Hasil Rekomendasi Word of Mouth

Di tengah persaingan ketat antarperguruan tinggi dalam menjaring mahasiswa baru, LSPR (London School Public Relations) yang sudah memiliki brand kuat sangat diuntungkan, sehingga mahasiswa baru yang masuk ke LSPR sekitar 60% berdasarkan rekomendasi dari teman atau keluarganya, atau lewat word of mouth ketimbang dari pasang iklan. Bagaimana LSPR mempersiapkan diri untuk bersaing di era pasar bebas ASEAN? Prita Kemal Gani, Direktur LSPR, menuturkannya kepada Nimas Novi Dwi Arini:

Prita Kemal Gani,  Direktur LSPR (foto dok.LSPR) Prita Kemal Gani, Direktur LSPR (foto dok.LSPR)

Di era persaingan yang ketat antara lembaga perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, apa saja sebenarnya tantangan yang dihadapi?

Sejak tahun 2010 itu sudah ada sekitar 180 universitas yang menawarkan program studi Ilmu Komunikasi. Kalau mau dilihat saat ini peran Humas juga sudah mulai penting dan perkembangannya juga sangat maju. Sekarang ini kalau saingan LSPR bisa dibilang bukan hanya kampus-kampus swasta atau negeri yang ada di Indonesia, tapi juga kampus internasional lainnya yang ingin ramai-ramai masuk ke Indonesia plus universitas lain yang serumpun.

Universitas-universitas itu menawarkan berbagai program yang mirip dan serupa. Dan ini sudah kami siapkan di London School, yang terpenting di kampus kami adalah proses belajar mengajar. Kami tidak hanya sekadar sekolah komunikasi yang hanya menawarkan program studi Komunikasi.

Lalu, bagaimana LSPR menjawab tantangan ini? Apa strategi yang sudah dilakukan dan akan dilakukan?

Ya, seperti yang sudah saya katakan, kami di LSPR tidak hanya menawarkan program studi Komunikasi dengan jurusan-jurusan yang disediakan seperti Public Relations, Mass Communication, dan yang lainnya. Kami menyiapkan mereka untuk siap bertempur, kami membekali mahasiswa kami dengan public speaking, bahasa Inggris, dengan information techonology, kemudian mereka juga dibekali dengan attidude yang benar. Mereka juga harus mempelajari sistem komunikasi organisasi, sehingga ketika masuk ke sebuah perusahaan itu sudah tahu struktur di dalam sebuah organisasi dan bagaimana cara berkomunikasi baik internal dan juga eksternal. Dengan demikian, apa yang kami siapkan ini lulusan kami bisa bersaing.

Menurut Anda seberapa pentingkah akreditasi internasional, apakah saat ini memang menjadi nilai lebih?

LSPR sendiri dari awal sudah berkilbat ke Inggris, ya, makanya namanya London School of Public Relations. Kami sudah mendapat akreditasi dari London Chamber semacam Kadinnya di Inggris. Kami mendapatkan akreditasi ini bertahun-tahun ya. Awalnya LSPR ini kan hanya sebuah training school, saja tapi ketika krisis 1998 kami berubah dan bisa sampai program sarjana,ini juga berkat saran dari orangtua karena pada saat itu kan programnya baru setahun dan susah ketika anaknya ingin melanjutkan. Kami juga merupakan kampus pertama yang mem-blending practical knowledge dan teori dengan komposisi yang sama. Jumlah dosennya juga lebih banyak yang practical. Oleh sebab itu lokasi kampusnya harus berada di tengah kota.

Kalau bicara masalah program double degree bagaimana?

Di LSPR pun baru-baru ini kami adakan program double degree karena memang bisa dibilang ini menjadi salah satu tuntutan dari global studies juga. Bahwa LSPR ini sama dengan kampus-kampus lain di luar negeri dan kampus-kampus yang ada di sini. Twining program, exchange program, study abroad ada dan ada juga study tour. Kegunaan dari program-program ini seperti saat ini ada exchange student dari Belanda di LSPR, Australia juga ada.

Mereka yang ke sini tidak bayar dan mahasiswa kami yang ke sana juga tidak bayar. Kegunaan ini adalah unutuk saling belajar antar sesama mahasiswa. Kalau study abroad itu dalam satu semester itu dari semester 1-8, boleh selama satu semester belajar di kampus yang ada kerja sama dengan LSPR. Kalau sekarang ada 80 kampus yang kerja sama dengan LSPR dari Amerika, Eropa, dan Asia.

 

Prita: LSPR menyiapkan lulusannya untuk siap bertempur (foto dok.LSPR) Prita: LSPR menyiapkan lulusannya untuk siap bertempur (foto dok.LSPR)

Apa persiapan LSPR untuk pasar terbuka ASEAN?

Kami juga melakukan pertukaran staf dan dosen ya bukan hanya mahasiswanya saja. Ini untuk mempersiapkan pasar terbuka ASEAN.

Apa tujuan dari melakukan pertukaran dosen dan staf?

Saat ini kami juga telah mempersiapkan diri untuk pasar bebas ASEAN di tahun 2015. LSPR ingin bisa sama kualitasnya dengan universitas-univesitas yang ada di luar negeri. Supaya ini nantinya menjadi hal yang bisa menarik mahasiswa asing untuk belajar di LSPR. Selain itu, kami juga mulai mencoba mengadopsi cara pengajaran dari luar, kalau di sini kan kebanyakan mahasiswa yang menunggu dosen, tapi di luar negeri semisal Jepang, dosen itu ada di pintu masuk ruang belajar.

Selain itu, juga kecenderungannya di sini kan dosen memberikan semua materi kepada mahasiswa, tapi sekarang ini kami sudah mulai mencoba hanya memberikan topik saja lalu mahasiswalah yang mencarinya. Dengan begini anak akan merasa belajar itu sesuatu yang fun dan dosen juga terstimulus untuk mencari data-data karena tidak mungkin nanti malah dosennya yang tidak tahu.

Kalau boleh diceritakan bagaimana track record prestasi alumni LSPR?

Alumni kami sekarang ini ada sekitar 16 ribu dan kalau mau dilihat mereka-mereka ini bekerja di berbagai bidang ada juga yang di bank, Greenpeace, WWF, hotel, dan lainnya. Kebanyakan alumni kami ini saya lihat bekerja di luar bidang pekerjaan yang kami perkirakan. Misalnya saja ada yang tiba-tiba menjadi manajer artis, ini mereka bisa menjadi seperti ini karena memang ilmu komunikasi itu kan luas sekali. Jjadi tidak menutup kemungkinan mereka memilik bidang pekerjaan yang seperti ini. Yang menjadi profesional di bidang humas juga banyak ya, terutama di hotel.

Bagaimana LSPR menggaet calon mahasiswa di tengah persaingan yang ketat dan era bebas informasi seperti saat ini?

Sebenanrya kalau boleh dibilang LSPR ini memang sudah punya market sendiri, jadi anak-anak yang punya cita-cita untuk belajar menjadi PR atau komunikasi nanti larinya akan LSPR. Kami sudah menang di branding ya. Kalau dilihat juga 60% yang masuk ke LSPR itu karena referensi entah itu dari kakaknya, saudaranya, ataupun temannya. Jadi word of mouth ini sudah terjadi. Tapi bukan hanya itu saja, kita juga terus terlibat dalam pengembangan Ilmu Komunikasi terutama di Public Relations sehingga kami ini tetap bisa menjadi nomor satu.

Yang kedua, sebenarnya di LSPR ini lebih mementingkan experience di dalam belajar mengajar sehingga lulusan LSPR yang sudah banyak senjatanya ini, lebih cepat mendapat pekerjaan dan orang tua justru merekomendasikan pengalaman yang dipunya kakaknya yang sekolah di LSPR midalnya untuk menyarankan ke adiknya, keponakan, tetanggannya untuk juga masuk di LSPR. Dan memang London School ini 60% masuk ke sini karena word of mouth dibandingkan dengan pasang iklan.

Lalu apa tetap melakukan roadshow?

Tentu kami masih melakukan roadshow-roadshow. Namun, ketika kami melakukan roadshow ini lebih memperkenalkan profesi PR supaya banyak generasi muda yang berminat menjadi PR. Karena ketika anak-anak itu ditanya biasanya jawabannya kan ingin jadi artis, pengacara, psikolog, dan lainnya. Saya ingin anak-anak muda bahkan anak SD punya cita-cita menjadi PR. Jadi juga roadshow ke SD juga selama ini kita sudah masuk 760 SD dari tahun 2010 ini. Ya, kalau untuk SMA karena memang sudah bagian dari itu kita pergi juga ke kota-kota besar ya Pontianak, Singkawang, Surabaya, Medan, semua kita pergi.

Berapa jumlah mahasiswa setiap angkatan? Jurusan apa yang masih digemari sampai saat ini?

Kalau untuk S1 setiap tahun itu kami ada sekitar 1.000. Kalau untuk jurusan antara jurusan PR dan mass communication beda-beda tipis, tapi tetap PR lebih unggul. Sekarang ini yang menjadi tantangan buat kami adalah art performing communication.

LPSR kan juga sudah menjadi salah satu lembaga yang bisa melakukan sertifikasi untuk profesi PR. apa ini salah satu yang dapat diunggulkan?

Sertifikasi ini tidak mudah ya karena mahasiswa ini harus melewati job training dan saya rasa ke depannya sertifikasi profesi seperti ini menjadi salah satu hal yang penting. Ini kan bertujuan untuk menyamakan level atau standar ya jadi ketika nanti pasar bebas sudah mulai berjalan humas asal Indonesia tidak kalah dengan humas asing. Kalau mau dibilang sertifikasi ini jumlahnya masih kecil dari mahasiswa dan alumni kami paling baru ada sekitar 750 orang padahal jumlah mahasiswa kami ada 4.500 dan alumninya ada 16 ribu. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)