Memaksimalkan Keuntungan di Pasar e-Commerce

Harus diakui, sekarang  ini, e-commerce merupakan kanal penting untuk memasarkan sebuah produk, terlebih di masa pendemi ini. Sudah banyak merek yang sukses melalui kanal digital ini. Bagaimana kiatnya agar sukses berbisnis dan meraih keuntungan lewat e-commerce ini?

Bank Indonesia (BI) mengerek perkiraan total nilai transaksi e-commerce hingga akhir 2021. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan, nilai transaksi e-commerce di tahun ini bisa mencapai Rp 395 triliun atau tumbuh 48,4% yoy. Hal ini karena meningkatnya preferensi masyarakat untuk berbelanja daring turut mendongkrak transaksi ekonomi dan keuangan digital, terlebih di era pandemi ini.

Padahal sebelumnya, BI memperkirakan total nilai e-commerce di akhir 2021 sebesar Rp 370 triliun  atau tumbuh 39,1% yoy. Itu pun lebih tinggi dari  prediksi  sebelumnya yang sebesar Rp 330,7 triliun atau tumbuh 33,2%.

Peningkatan prediksi ini juga seiring dengan capaian penjualan e-commerce pada semester I-2021. BI mencatat, nilai transaksi e-commerce pada paruh pertama tahun ini sebesar Rp 186,75 triliun atau tumbuh 63,36% yoy.  Pertumbuhan penjualan e-commerce juga terlihat berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Meningkatnya transaksi di platform digital ini tak lepas dari digitalisasi sistem pembayaran dan meningkatnya preferensi dan akseptasi masyarakat terhadap teknologi digital, yang ke depannya diperkirakan akan semakin masif.

Momentum yang mengesankan di pasar e-commerce ini dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan agar bisninya berkinerja dengan moncer. Jika dilihat, perusahaan yang menggarap pasar e-commerce ini adalah perusahaan yang genuine lahir di era e-commerce ini atau mereka lebih dominan bermain di pasar   e-commerce. Sebut saja ada Mom Uung (booster air susu ibu/ASI), Gabag (produk terkait ASI), Grandville (makanan abon), dll. Lalu ada  juga perusahaan yang sudah sukses di pasar konvensional lalu masuk e-commerce.  Contohnya  Ultra Mimi, Deabetasol, sambal ABC, dll. Tentunya  masing-masing perusahaan tersebut  mempunyai strategi tersendiri dalam garap pasar e-commerce.

Memang, menggarap pasar online di era ini adalah sebuah kenisyaan, terlebih di era pandemi ini. “Dengan dibatasinya aktivitas offline akibat pandemi maupun perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa berbelanja secara online, sudah selaykanya brand menyusun strategi yang lebih serius dalam menggarap pasar mereka di kanal online, salah satunya e-commerce,” ujar Elga Yulwardian, CEO Ivosights.

Elga pun memberikan beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh brand dalam menggarap pasar di e-commerce. Hal pertama adalah  memperbaiki branding di owned media seperti website/katalog online dan di share media seperti media sosial, meskipun tidak secara langsung terkoneksi dengan e-commerce. Melalui kedua jenis media tersebut, konsumen akan dengan mudah melakukan pencarian dan konfirmasi produk jika mereka ingin mendapatkan informasi lebih detil, sebelum memutuskan membeli sebuah produk di e-commerce atau kanal online lainnya.

Share media ini termasuk juga testimoni pengguna lain di media sosial maupun review di forum dll dan brand harus memastikan sentimen yang positif. “Kelengkapan informasi serta testimoni positif tentang produk akan menjadi input utama fase zero moment of truth bagi konsumen dalam purchase journey mereka,” kata Elga.

Hal kedua adalah meningkatkan kehadiran (presence) di marketplace. Jika diibaratkan sebagai mal online, marketplace besar seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, Blibli, dll memiliki traffic pengunjung berkali-kali lipat dari mal konvensional. Menurut data Statista, rata-rata kunjungan di Tokopedia adalah lebih dari 135 juta dengan lebih dari 39 juta pengunjung unik, sedangkan di Shopee  sekitar 127 juta kunjungan dari hampir 36 juta pengunjung unik. Dengan traffic sebesar ini, kesempatan brand untuk memperoleh awareness serta penjualan tentu juga besar.

Brand pun  dapat melakukan beberapa hal berikut untuk meningkatkan presence mereka di marketplace seperti membuat dan mengoptimalkan official stores. Lalu menyiapkan tim customer care khusus untuk menangani pertanyaan dari konsumen di fitur chat/direct message (DM) di marketplace.

Kemudian, langkah lainnya adalah mengoneksikan/menggunakan platform single inventory multichannels (omni-channel stock management) seperti Jubelio, Ginee atau Fortsok, untuk mengoptimalkan/menghindari opportunity lost dari split stock. Jangan lupa juga melakukan kampanye terstruktur melalui boosting dan promo produk di official store di marketplace. Lalu bekerja sama dengan marketplace untuk berbagai kampanye, termasuk di dalamnya cross-selling dengan brand lain.

“e-Commerce memiliki data products contained in the baskets, korelasi brand satu dengan lainnya yang biasa dibeli bersamaan oleh konsumen, misalnya susu dan popok. Marketplace juga memiliki data statistik yang sangat detil terkait dengan produk, yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan campaign,” ungkap Elga.

Hal ketiga, kiat yang dapat dilakukan oleh brand dalam menggarap pasar di e-commerce  adalah aktif mencoba berbagai metode penjualan online, misalnya affiliate marketing, social commerce, digital referral, digital co-branding/selling dll. “Purchase advocate di media online sangat berbeda dengan konvensional. Trigger pembelian produk di media online dapat terjadi dari hanya akibat postingan teman satu grup di Whatsapp atau review produk saat browsing di YouTube, atau For Your Page (FYP) video Tiktok,” ujar Elga.

Gabriella R Lengkong, Founder dan Owner Gabag menambahkan sebenarnya, berjualan di pasar online, prinsipnya sama seperti berjualan secara konvensional, yaitu ada banyak pemain dengan produk sejenis, maka produk kita harus bisa tampil beda dan mempunyai unique selling points. “Apalagi sekarang ini, seperti kompetitor di kategori ibu dan anak di e-commerce itu banyak banget. Makanya penting untuk punya unique selling point,” ungkap Gabriella menegaskan.

Dengan berbagai kiat yang dilakukan tersebut akan membuat sebuah brand di pasar e-commerce memiliki kinerja penjualan yang optimal sehingga mampu mencetak cuan yang lebih maksimal dan bisnisnya pun bisa sustainable ke depannya.

Dede Suryadi

Tags:
E-commerce

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)