Membedah Booming Go-Food dan GrabFood

Konsumen menerima pesanan layanan online food delivery GrabFood

Panasnya persaingan bisnis layanan antar makanan online tampaknya sudah sampai ubun-ubun. Sejak Go-Food dari Gojek Indonesia diluncurkan pada April 2015, dari awal CEO Go-Jek Indonesia, Nadiem Makariem, memang sudah mengindikasikan bahwa layanan antar makanan ini pasti akan boom jika memperhatikan gaya hidup konsumen Indonesia yang suka makan dan jajan.

Ternyata, dugaan itu tidak meleset. Tak sampai setahun, pertumbuhan transaksi GoFood --terutama di beberapa kota kecil di Indonesia-- jauh melebihi transaksi layanan transportasinya. Bahkan, seperti dikatakan Nadiem di sela-sela Go-Food Festival pada awal Januari 2018, gara-gara ada Go-Food, muncul kebiasaan baru pelanggannya: ketagihan belanja. “Banyak orang yang ketagihan menggunakan Go-Food dan bisa pesan dari tiga restoran yang berbeda untuk sekali makan,” kata orang nomor satu di Go-Jek itu.

Kini, data terbaru menunjukkan, perputaran uang Go-Food sudah mencapai Rp 18 triliun. Data yang berasal dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini meyakinkan bahwa Go-Food telah menjadi layanan online food delivery nomor satu di Indonesia dan Asia Tenggara dengan menggandeng lebih dari 400.000 mitra merchant, yang 96% di antaranya merupakan UMKM kuliner. Go-Food juga kini telah menguasai 80% pangsa pasar food delivery di Indonesia, atau minimal empat kali lipat lebih besar daripada penyedia jasa layanan sejenis.

Aristo Kristandyo, VP Pemasaran Go-Food, mengungkapkan, data tersebut membawa konsekuensi agar pihaknya terus meningkatkan dan mengembangkan diri. “Kami berkomitmen untuk terus dapat menjawab kebutuhan masyarakat melalui setiap inisiatif yang diluncurkan,” katanya. Wujud komitmennya, antara lain, terus mengembangkan inovasi program yang tidak hanya mempermudah pelanggan, tetapi juga menguntungkan merchant dan mitra pengemudi yang mengantarkan pesanan Go-Food. Contohnya, selama bulan Ramadan lalu, Go-Food menyediakan promo diskon 25% untuk pemesanan menjelang buka puasa (pukul 15.00-17.00) di 16 kota. “Selain inisiatif ongkir (ongkos kirim) yang lebih rendah, sekarang kami tengah mendorong promo gratis ongkir yang baru saja kami umumkan minggu ini,” kata Aristo.

Catherine Hindra Sutjahyo, Chief Food Officer Grup Go-Jek, saat peluncuran Hari Kuliner Nasional 2019 di Taman Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 April 2018, juga mengatakan, sebagai bisnis layanan terbesar ketiga di dunia dan terbesar se-Asia Tenggara, Go-Food memang tidak boleh berhenti berinovasi. “Justru kami yang menjadi empat kali lebih besar dari kompetitor terdekat harus terus mengembangkan diri. Terutama sebagai penyedia jasa on demand, harus tetap memberikan dampak yang baik bagi merchant, mitra driver, dan pelanggan, dan membuktikan tingkat kepercayaan mitra merchant kepada Go-Food sebagai fitur aplikasi terpercaya dan dapat diandalkan,” ungkap Catherine.

Mitra driver Go-Food menunggu antrian layanan di salah satu merchant

Kendati menyusul di belakang, GrabFood tak gentar mengejar pesaing. Dikatakan Ichmeralda Rachman, Kepala Pemasaran GrabFood dan Bisnis Baru Grab Indonesia, justru dengan adanya pesaing yang sudah ada di depan, pihaknya lebih mudah menawarkan pengalaman yang berbeda kepada pelanggan. “Layanan pesan-antar on demand kami tidak hanya terpaku pada banyaknya pilihan makanan, tapi juga memberikan cara unik dan berbeda untuk membantu pelanggan mengakses santapan favorit mereka dengan lebih mudah,” kata Ichmeralda.

Layanan GrabFood yang pertama kali diluncurkan pada 2016 kini telah berkembang hingga ke enam negara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia, GrabFood telah hadir di 178 kota. Tahun 2018, volume pengirimannya telah tumbuh hampir 10 kali lipat dalam periode Desember 2017-Desember 2018, dan jumlah merchant tumbuh delapan kali lipat. Bahkan, GrabFood berhasil mencatatkan berbagai pencapaian dalam tempo yang singkat, termasuk menjadi aplikasi pesan-antar makanan tercepat nomor satu berdasarkan survei yang dilakukan Kantar, perusahaan riset pihak ketiga.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)