Menggali Relevansi Small Data

Penggunaan Big Data belakangan ini begitu populer di kalangan penggiat marketing. Pasalnya, hal tersebut dinilai dapat menggambarkan kondisi pasar secara utuh dan menyeluruh.

Namun, Small Data ternyata tidak kalah penting dibandingkan Big Data. Narasi tersebut mewakili arah diskusi pada acara #Mixmarcommunity Gathering (25/10/2018) yang diadakan oleh Majalah Mix.

Acara ini mengundang pembicara yang bergiat di bidang Small Data, Farris Baharom yang merupakan Head of Planning & Digital Iris Jakarta dan Guntur Siboro selaku Country Head dari Hooq Indonesia. Guntur sebelumnya pernah memimpin perusahaan di bidang Telekomunikasi.

Para marketers, ungkap Farris, seringkali melupakan riset tahap awal yang menggunakan Small Data, untuk mendefinisikan melihat masalah apa yang sebenarnya terjadi di pasar. Small Data bisa memberikan perusahaan pandangan mengenai segmen tertentu dan hal ini tidak bisa diberikan oleh Big Data.

“Anda bisa menggunakan Big Data ketika perusahaan Anda memiliki sumber daya uang dan waktu yang besar. Bila keadaannya terbalik, Small Data bisa menjadi solusi terbaik,” ujarnya.

Ia memberikan beberapa contoh penting mengenai betapa Small Data dapat berdampak signifikan pada kinerja marketing suatu perusahaan. Sebuah perusahaan air fryer melakukan riset Small Data, dan menemukan fakta bahwa orang Indonesia menyukai makanan yang digoreng, namun memiliki ketakutan tersendiri ketika menggoreng.

Maka, mereka mengeksekusi strategi pemasaran dengan mengadakan kompetisi yang mengharuskan para peserta membuat video tentang ketakutan orang-orang dalam menggoreng di sosial media. Video yang masuk memparodikan gaya menggoreng mereka dengan memakai helm dan menjadi populer.

Farris menambahkan, Small Data akan menjadi kurang efektif bila dilakukan secara rutin. Tidak masalah jika perusahaan tetap menggunakan Big Data setiap saat. Bila suatu waktu ditemukan ada kejanggalan pada Big Data, misalnya pelanggan sulit bayar, perusahaan bisa mulai mengambil Small Data untuk menemukan letak kesalahannya.

Guntur memberi contoh, suatu saat sebuah perusahaan provider, melalui Big Data, menemukan bahwa pelanggannya membeli pulsa Rp 5.000 selama 10 kali sebulan, alih-alih langsung membeli Rp 50.000 untuk satu bulan. Padahal tentu lebih hemat membeli pulsa Rp 50 ribu per bulan karena harganya hanya Rp 49.500. Perusahaan kemudian mengoleksi Small Data dengan menanyakan pada konsumen, mengapa seperti itu. Jawabannya ternyata konsumen merasa takut ditipu bila langsung membeli banyak.

Guntur juga menceritakan pengalamannya saat memimpin cabang perusahaan Telko di Sumatera Utara. Menurutnya, penting bagi manajemen untuk turun ke bawah untuk mendengar perilaku konsumen secara langsung.

“Saat itu saya mencoba untuk mendengarkan customer service kami berbicara dengan pelanggan untuk mengingatkan mereka tentang pembayaran. Di situ, saya sadar bahwa pelanggan kami di Sumatera Utara berbeda dengan di wilayah lain. Mereka tidak terlalu nyaman ketika diingatkan soal tagihan pembayaran. Akhirnya, saya mengehentikan kegiatan tersebut khusus di daerah Sumatera Utara,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)