Mobil Tua, Mobil Termahal di Dunia

Mau tahu mobil apa yang harganya paling mahal sejagat? Jawabannya bukan mobil yang mengadopsi teknologi tinggi ataupun fitur terkini, melainkan sebuah mobil tua buatan 1962. Seperti diberitakan Bloomberg, seorang kolektor yang tinggal di Seattle, Washington, yaitu Craig McCaw baru saja membeli sebuah mobil Ferrari 250 GTO dengan harga US$ 35 juta atau setara dengan Rp 330,6 miliar.

Mengapa mobil tua ini dihargai sangat mahal? Ternyata mobil ini adalah satu-satunya yang dibangun oleh Sir Stirling Moss, sang pembalap legendaris. Sayangnya, Moss belum pernah mengajak mobil buatannya itu berlaga di sirkuit balap. Tapi rekannya, Innes Ireland, pernah memakai di ajang balap dengan Ferrari 250 GTO di LeMans pada 1962. Itu adalah satu-satunya kesempatan bagi GTO tersebut mengarungi sirkuit balap, dan setelah itu mobil tersebut menjadi barang koleksi selama bertahun-tahun.

Mobil dengan warna hijau apel itu telah terpajang di anamera.com sejak Mai lalu. Adalah pebisnis kelahiran Belanda, Eric Heerame, yang menjualnya dua minggu lalu. Meski begitu, pemilik perkebunan anggur Nyetimber di Sussex, Inggris ini enggan membenarkan pembelian Ferrari 250 GTO tersebut ketika dikonfirmasi Bloomberg. Heerame sendiri 10 tahun silam membeli mobil ini dari kolektor Jepang Yoshiho Matsuda hanya dengan uang sekitar US$ 8,5 juta.

Mobil yang kini dimiliki McCaw itu adalah hanya satu dari 39 250 GTO yang ada di dunia dan model ini adalah kendaraan yang paling banyak dicari para kolektor di seantero jagat. McCaw sendiri merupakan wakil pendiri McCaw Cellulaer berbasis di Seattle. Perusahaan ini telah mengakuisisi ATT dengan nilai US$ 11,5 miliar pada 1993. Tingginya harga jual Ferrari 250 GTO 1962 ini sekaligus mengalahkan rekor mobil termahal sebelumnya yang dipegang Ferrari 250 Testa Rossa. Mobil ini yang memenangkan Phil Hill di balap Le Mans 24-jam 1958 ini dijual dua bulan lalu dengan harga US$ 25 juta juga melalui anamera.com.

Sementara sebuah Ferrari 250GTO lain juga telah dibeli penyiar televisi dan radio Inggris, Chris Evanz, pada 2010 dengan harga US$ 18 juta. (Bloomberg/Lila Intana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)