Modest Wear Fashion Masih Jadi Incaran Masyarakat

Modest wear menjadi salah satu tren mode yang diminati di Indonesia, karena selain bisa digunakan oleh umat muslim pakaian ini juga digunakan oleh nonmuslim.”Trennya memang ada peningkatan di modest wear karena model pakaian ini sedang diminati market dan banyak juga desainer yang mulai bermain di modest wear. Tahun ini ada peningkatan baik dari perancang busana atau label modest wear yang ikut di Jakarta Fashion Week (JFW) 2017,” jelas Lenni Tedja, Direktur Jakarta Fashion Week.

Lenny Tedja, Jakarta Fashion Week Director (kiri) Lenny Tedja, Jakarta Fashion Week Director (kiri)

Salah satu label modest wear yang akan kembali ikut perhelatan ini Lusense KD by Luthy, yaitu label milik Krisdayanti yang menggandeng perancang busana Luthy Ibrahim Saleh. Label milik KD ini, sebelumnya ikut JFW 2016 dan kembali ikut di dalam perhelatan JFW 2017 Oktober ini.

Selain KD, label seperti Norma Hauri dan I.K.Y.K, serta desainer Dian Pelangi juga kembali ikut dalam perhelatan JFW yang ke-5. Bagi Lenni, JFW selalu menampilkan tren terbaru yang sedang ada di masyarakat. Hal ini berarti modest wear masih menjadi incaran masyarakat, mengingat tingginya minat desainer yang ikut dalam perhelatan ini dari tahun ke tahun.

Meski ia menolak menyebutkan jumlah transaksi tahun lalu namun Lenni optimis bahwa perhelatan JFW 2017 akan kembali dipadati konsumen. Tahun lalu JFW 2016 mampu menarik 34.000 pengunjung dalam 7 hari dan mengadirkan 200 desainer lokal serta 12 desainer internasional. Tahun ini ia menargetkan 35.000 konsumen dalam waktu 7 hari, mengingat terbatasnya ruang dan tempat perhelatan JFW. tahun ini, JFW kembali dilaksanakan di Senayan City dari 22 Oktober hingga 28 Oktober 2016.

Ia mengungkapkan, jumlah desainer yang ikut berpartsipasi tak mengalami perubahan dari tahun lalu. Namun untuk tahun ini pihak penyelenggara akan mengadakan workshop dan talkshow yang lebih interaktif untuk pengunjung dan desainer.

Kerja sama ini tidak hanya dengan pihak lokal, tetapi juga pihak luar seperti Department of International Trade Promotion (DITP) Thailand, Austarlia-Indonesia Center, Virgin Australia Melbourne Fashion Festival, Kedutaan Besar Australia, Kedutaan Besar India, Kedutaan Besar Swedia, Women in Global Business-Austrade( Australian Trade Commission), dan Australia Fashion Chamber.

Kerja sama ini diharapkan mampu membawa desainer dan label lokal untuk mampu bersaing di kancah global. Pada Maret tahun 2016, label ByVelvet dan Norma Hauri sukses menampilkan koleksi terbaru mereka di Mercedez Benz-Fashion Week Tokyo. “Misi terpenting dari JFW adalah membawa desainer-desainer Indonesia ke kancah internasional,” tegas Lenni.

Selain itu, para pemilik label dan perancang busana juga diharapkan untuk bisa menerapkan tren desain berkelanjutan. Produk fesyen yang dibuat dan diproduksi harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan akibat dari keberadaan produk tersebut. Tren ini masuk dalam kampanye FAIR dan sudah mulai dilakukan sejak pergelaran JFW tahun lalu. Pada tahun ini, pihak JFW mengajak kerjasama Kedutaan Besar Swedia, Kedutaan Besar India, British Council untuk mengampanyekan tren tersebut.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)