Nasib Teh Premium Indonesia yang Kalah Bersaing di Rumah Sendiri

Meski dari segi kualitas teh kemasan Indonesia tak kalah dari merek global yang banyak beredar di pasar premium, namun teh kemasan Indonesia belum banyak bicara bahkan di negeri sendiri.

IMG_0425Pakar teh, Ratna Somantri, mengatakan, teh kemasan lokal yang berkualitas tinggi belum bisa bersaing dengan merek-merek seperti Twinings dan Dilma.

“Semua yang masuk ke pasar menengah atas di Indonesia adalah merek asing, yang merek lokal masuknya ke pasar bawah,” kata Ratna.

Jika di China ada merek teh terkenal dihargai ratusan juta per kilogram, begitu juga di Jepang ada merek teh yang dijual 20 juta per kilogram, di Indonesia yang teh nya yang juga berkualitas hanya diekspor dalam keadaan mentah, hanya US$ 1 per kilogram.

Ratna memberi gambaran, kualitas teh Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Warnanya bagus, aromanya kuat, rasanya lama melekat, dan bagus jika dicampur dengan bahan lain. Bahkan dalam satu moment blind test di Jepang, teh hijau Indonesia menjadi juaranya.

Sayangnya, teh-teh yang berkualitas ini mayoritas justru diekspor untuk kemudian dicap dengan brand luar negeri. Sedangkan industri teh kemasan kita masih belum bisa tampil. Dari total produksi teh kita, yang diekspor dengan nama (brand) hanya 10% saja, sisanya 90% diekspor dalam bentuk mentah.  “Selama ini teh Indonesia yang berkualitas itu kebanyakan diekspor mentah dan dibrand di luar negeri.”

Indonesia yang tadinya merupakan produsen ke-5 terbesar teh di dunia, saat ini turun menjadi peringkat delapan. Berdasarkan data dari Dewan Teh Indonesia, produksi teh di Indonesia turun dari 150.000 ton/tahun menjadi 120.000 ton/tahun. Secara ekspor, Indonesia menempati peringkat sembilan, kalah dari  Inggris, Arab Saudi dan Jerman yang bahkan tidak memiliki kebun teh.

Berdasarkan pengakuan Presiden Direktur PT Gunung Subur Sejahtera (GBS), Henry Gunawan Wibisono, selaku produsen lebih dari 80 brand teh yang dijual di dalam dan luar negeri, kendala yang dihadapi industri adalah kesulitan menggali pasar baru.

Selama ini Indonesia hanya mengandalkan pasar teh mentah yang memang sudah dibukakan oleh kolonial di era penjajahan Belanda, Jadi sudah tinggal meneruskan. Belum lagi kendala minimnya dukungan pemerintah dalam membuka pasar baru dan dukungan terhadap kegiatan ekspor.

Selain kesulitan membuka pasar baru, teh Indonesia juga kalah bersaing dari sisi tampilan kemasan. “Kami akui, kemasan teh kami banyak yang bilang terkesan kuno. Itu masukan yang bagus, makanya kami akan merubah tampilan produk. Kita tunggu saja tanggal mainnya,” ujar Henry. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)