Pasar Big Data Belum Terbentuk Sempurna

It's futuristic, but it's happening. Ungkapan itu agaknya tepat menggambarkan eksistensi big data dewasa ini. Meskipun terbilang belum banyak diimplementasikan di berbagai bidang, seiring dengan berkembangnya internet, keberadaan big data sangat jelas terasa.

Yang menarik adalah pasar big data sendiri yang bisa dikatakan belum terlalu mencuat. Hal itu karena, baik praktisi maupun korporasi belum mendapatkan momentumnya. Bahkan, bagi para praktisi big data sendiri yang berasal dari berbagai bendera berbeda, sepakat saat ini masih waktunya untuk membentuk pasar big data-nya sendiri.

Big data bukan hanya teknologi tapi juga pola pikir pemecahan masalah. Bagaimana cara melihat masalah sehingga ada solusi yang komprehensif. Perkembangan arus informasi meningkatkan volume, kecepatan, dan variasi dari data itu sendiri,” kata CEO Mediatrac, Regi Wahyu.

Namun, belum banyak perusahaan dan lembaga publik yang paham betapa pentingnya teknologi big data dan cara mengimplementasikannya. Salah satunya bisa jadi karena minimnya pengetahuan tentang big data. Sehingga, dibutuhkan banyak praktisi untuk mengedukasi mereka agar “melek” big data.

Sejatinya, teknologi ini sangat bermanfaat di segala bidang. Mulai dari bisnis, kedokteran, hingga agribisnis. Dari segi bisnis, memang baru perusahaan telekomunikasi, jasa keuangan, dan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) yang memanfaatkannya karena memang basis data mereka yang sangat besar.

CEO Mediatrac, Regi Wahyu CEO Mediatrac, Regi Wahyu

“Contoh, FMCT punya anggaran Rp2 triliun untuk divisi pemasaran. Untuk optimalkan marketing, dengan cara tradisional mereka melakukan survei kemudian disebar kemana-mana. Itu makan waktu! Kalau menggunakan analisis big data, mereka bisa membaca tren pasar lewat aktivitas pelanggannya di media sosial,” ujar Regi.

Solusi big data juga sangat berguna untuk lembaga publik seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Smart City, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Jika semua data obyek pajak terkoneksi dengan KTP dan media sosial, mudah sekali mengetahui perilaku di media sosial dan berujung pada kesimpulan adanya sebuah indikasi. Namun, faktanya masih ada banyak kendala di lapangan.

“Pertama, tidak tahu bagaimana mengimplementasikan big data. Keperluannya untuk apa? Ketersediaan data, termasuk akuisisi datanya juga masih menggunakan cara manual. Itu belum termasuk kalau mereka kaget ternyata datanya banyak sekali (data shock). Yang tak kalah penting adalah orang yang mampu melakukan analisis data ini masih jarang. Untuk itu perlu kerjasama berbagai disiplin ilmu untuk analisis big data,” ujar Regi.

Sesungguhnya, ada banyak keuntungan mengimplementasikan big data. Perusahaan bisa melakukan crossselling/upselling terhadap nasabahnya. Contohnya di industri perbankan, data nasabahnya bisa digunakan untuk menawarkan produk asuransi, kartu kredit, dan lainnya. Implementasi analisis big data juga akan mempermudah pemetaan agenda korporasi ke depan sehingga bisnis melaju kian mulus.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)