Pasar Big Data di Asia-Pasifik US$6 Miliar

Big data sederhananya adalah data yang dikumpulkan, dibersihkan, kemudian dianalis untuk kepentingan tertentu. Pengiriman pesan singkat (SMS) ke pelanggan tertentu untuk promo tertentu sebuah operator selular menurut Aplication and Analytic Lead Senior Managing Consultant Global Business Services PT IBM Indonesia, Andrian Purnama T.S., adalah salah satu contoh sederhana dari big data. “Apakah data itu dari tahun lalu, atau yang sedang berjalan sekarang. Tinggal bagaimana mengelola seluruh data itu menjadi informasi yang lebih bermanfaat bagi perusahaan,” katanya.

Menurutnya, IBM kini tengah melakukan analisis terhadap data yang sedang bergerak bekerjasama dengan operator selular di Malaysia. Sejak lima tahun lalu, perusahaan asal Amerika Serikat yang memproduksi dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak komputer itu telah menggarap solusi big data untuk banyak perusahaan di dunia. “Di Indonesia sendiri, IBM sudah mengerjakan big data dengan data analytic selama 10 tahun,” ujarnya.

Maklum saja, potensi pasar big data dan analytic di pasar Asia-Pasifik saja mencapai sekitar US$6 miliar. Khusus untuk di Indonesia, Andrian tidak bisa memberi angka pasti. “Masih belum besar, tapi potensinya sangat besar. Indonesia adalah pengguna Twitter nomor dua terbesar di dunia. Dari situ saja, banyak analisis data yang bisa digarap,” katanya.

Aplication and Analytic Lead  Senior Managing Consultant Global Business Services PT IBM Indonesia, Andrian Purnama T.S. Aplication and Analytic Lead Senior Managing Consultant Global Business Services PT IBM Indonesia, Andrian Purnama T.S.

Ia mencontohkan adalah salah satu produsen otomotif yang menjadi kliennya meminta berapa kali merek mereka di-mention di media sosial. Ternyata, bisa mencapai 10 ribu setiap harinya. “Nah, dari 10 ribu yang mention itu, 800 diantaranya disebut actionable. Artinya, bisa digarap menjadi bisnis baru atau minimal ada strategi pemasaran yang baru, seperti mempertahankan nilai brand dan sebagainya,” katanya.

Andrian menjelaskan pertumbuhan bisnis layanan big data telah tumbuh sekitar 100% dari 2013 hingga 2014. Itu belum memperhitungkan pertumbuhan dari sisi software dan aplikasi. Saat ini, IBM memiliki tiga klien besar, salah satunya PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.

“Yang dibawah itu ada banyak, puluhan hingga ratusan perusahaan. Ada startup juga, salah satunya Tiket.com yang menggunakan cloud solution dan analytic data. Salah satu klien besar bahkan telah mengeluarkan dana hingga US$15-20 juta untuk pengelolaan data mereka,” katanya.

Ia yakin semua perusahaan ingin mengelola datanya dengan baik. Analisis data juga dibutuhkan agar pengambilan keputusan bisa dilakukan lebih cepat. Namun, ada hal yang mesti mendapat perhatian terutama di Indonesia, yakni banyak data yang bisa diambil namun tidak bisa dimanfaatkan. “Kalau di luar negeri ada sensitive personal information seperti data gender, umur, dan alamat, yang tidak boleh disebar tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Sekarang, di Indonesia masih bebas saja. Tapi, saya yakin nantinya akan muncul aturan itu,” ungkapnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)