Pasar Kamera Saku Stagnan, Konsumen Salah Persepsi Terhadap Smartphone

Pasar kamera saku (pocket) digital di Indonesia mengalami pertumbuhan yang stagnan akibat kalah populer dari smartphone yang belakangan menyediakan kamera beresolusi puluhan megapixels.

canon-kuasai-pasar-kamera-saku-30-persenPT Datascrip selaku distributor tunggal Canon di Indonesia, mencatat sepanjang 2012 lalu, penjualan kamera saku digital secara keseluruhan yakni 1 juta unit, atau naik 10% jika dibanding 2011. Diperkirakan hingga akhir tahun 2013, angka penjualannya tetap sama 1 juta unit alias stagnan.

Datascrip sendiri baru berhasil menjual 220 unit kamera saku Canon sejak Januari hingga September 2013 ini. “Target yang mereka patok hingga akhir tahun sebanyak 330 ribu unit, atau sama dengan realisasi penjualan kamera saku Canon di sepanjang 2012,” kata Manajer Divisi Image Communication Datascrip, Sintra Wong.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan DSLR, pertumbuhan kamera saku digital sangat tertinggal. Pertumbuhan kamera jenis ini diperkirakan akan terus melonjak. Penggunaannya juga makin meluas ke segmen awam.

Secara industri, penjualan DSLR sepanjang 2012 untuk semua merek tercatat sebesar 300 ribu unit, sedangkan target  penjualan 2013 mencapai 330 ribu. Dari jumlah tersebut, merek Canon yang merupakan pemegang market share terbesar DSLR, mematok target 200 ribu unit. Selain Canon, pasar DSLR pemainnya tidak terlalu banyak (Sony dan Nikon), jauh jika dibanding pasar kamera saku digital yang menghadirkan lebih banyak variasi brand.

“Sampai kuartal III Canon berhasil menjual 160 ribu unit. Kontribusi DSLR terhadap keseluruhan penjualan Divisi Image Communication Canon mencapai 50%. Produk yang paling laku adalah entry level yakni EOS 600 D dan 1100 D.”

Sintra menduga penyebab penurunan penjualan kamera saku digital tak lain diakibatkan oleh pamor smartphone yang makin meningkat sebagai alat fotografi. “Di Indonesia yang daya belinya terbatas, konsumen yang hanya punya budget untuk satu perangkat akan lebih memilih smartphone, bukan kamera. Yang paling terkena dampaknya adalah kamera saku entry level,” jelasnya.

Belakangan, kamera smartphone terus mengalami peningkatan kualitas dengan menambah resolusi hingga puluhan megapixels. Di mata konsumen, parameter ini seringkali dianggap mewakili kualitas sebuah kamera, padahal sebenarnya tidak demikian.

Sebesar apapun resolusi kamera smartphone, tidak sepenuhnya menentukan kualitas dari sebuah kamera. Spesifikasi secara keseluruhannya masih belum bisa menandingi kamera saku digital. “Contohnya saja saya pakai iPhone 5, kalau foto di kondisi gelap pasti hasilnya buram. Jadi saya tetap bawa kamera digital," ujar Sintra.

Pekerjaan rumah bagi seluruh produsen kamera saku digital untuk meluruskan persepsi yang salah terhadap kemampuan kamera smartphone.“ Datascrip akan berusaha mengedukasi konsumen dan penjual terkait hal ini.” (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)